Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Nasional: Laba PTBA Melonjak 216 Persen Kuartal III

29 Oktober 2026 • zul • 36 kali dibaca
Ilustrasi kegiatan penambangan batu bara di Kutai Timur, Kalimantan Timur
Foto: Consigliere Ivan, Wikimedia Commons, CC BY 2.0
ASM Group
Iklan

Tambang nasional kembali mencatat kabar besar: PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan laba bersih Rp4,41 triliun hingga kuartal III 2026, melonjak 216,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka itu disampaikan perseroan dalam laporan keuangan kepada Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 29 Oktober 2026. Lonjakan laba datang dari kenaikan harga jual rata-rata batu bara dan biaya produksi yang hampir tidak bergerak.

Laba Rp4,41 Triliun hingga September 2026

Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat Rp4,41 triliun. Pada periode yang sama tahun 2025, angka itu hanya Rp1,39 triliun. Kenaikan sebesar 216,4 persen secara tahunan menjadi salah satu pertumbuhan laba terbesar di sektor tambang tahun ini.

Pendapatan perseroan naik 12,35 persen dari Rp31,33 triliun menjadi Rp35,20 triliun. Kenaikan pendapatan itu tidak diikuti oleh lonjakan biaya. Beban pokok pendapatan hanya bertambah 0,61 persen secara tahunan.

Kombinasi kedua faktor tersebut membuat laba bruto melesat dari Rp3,56 triliun menjadi Rp7,27 triliun. Angka itu setara kenaikan 103,77 persen secara tahunan. Laba usaha ikut melonjak 220,44 persen dari Rp1,59 triliun menjadi Rp5,11 triliun.

Tata Atur
Iklan

Laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp5,74 triliun, naik 212,31 persen dari Rp1,84 triliun. Setelah dikurangi beban pajak Rp1,32 triliun, laba periode berjalan menjadi Rp4,42 triliun. Total aset perseroan tumbuh 17,38 persen menjadi Rp51,55 triliun.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Harga Jual Rata-rata Naik 18 Persen

Menurut laporan keuangan yang dikutip Bisnis.com, pendapatan perseroan ditopang kenaikan harga jual rata-rata batu bara sebesar 18 persen. Kenaikan itu sejalan dengan penguatan harga batu bara global. Indeks Newcastle naik 25 persen dan indeks ICI-3 naik 26 persen secara tahunan.

Menariknya, volume penjualan justru turun sekitar 4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Artinya, pertumbuhan pendapatan sepenuhnya berasal dari harga, bukan dari penjualan yang lebih besar. Pola ini menunjukkan bahwa disiplin volume masih dijaga di tengah pasar yang berlimpah pasokan.

Kenaikan harga jual menjadi penentu utama kinerja emiten batu bara pada 2026. Sejumlah produsen lain juga melaporkan perbaikan margin meski volume penjualan tidak tumbuh. Pasar batu bara termal global memang sedang bergerak naik setelah melemah pada 2025.

Bagi PTBA, harga yang lebih baik memberi ruang untuk memperbaiki struktur biaya. Perseroan memakai momentum itu untuk menyehatkan neraca dan menjaga belanja modal. Manajemen menyebut efisiensi operasional sebagai salah satu prioritas tahun ini.

Beban Pokok Nyaris Tidak Bergerak

Beban pokok pendapatan tercatat Rp27,93 triliun, hanya naik 0,62 persen dari Rp27,76 triliun. Angka ini menjadi kunci mengapa laba bruto bisa tumbuh dua kali lipat lebih. Biaya angkutan, bahan bakar, dan jasa penambangan relatif stabil sepanjang sembilan bulan pertama.

Beberapa pos beban tetap naik, meski tidak sebesar kenaikan pendapatan. Beban umum dan administrasi bertambah 12,66 persen dari Rp1,51 triliun menjadi Rp1,70 triliun. Beban penjualan dan pemasaran naik dari Rp559,38 miliar menjadi Rp634,77 miliar.

Penghasilan lain lain bersih juga membaik dari Rp100,46 miliar menjadi Rp184,86 miliar. Pos ini membantu laba usaha tetap tumbuh kuat di atas kenaikan pendapatan. Secara keseluruhan, struktur biaya perseroan dinilai lebih terkendali dibanding tahun lalu.

Efisiensi semacam ini penting karena industri batu bara menghadapi biaya logistik yang mahal. Jarak tambang ke pelabuhan dan cuaca menjadi faktor yang sulit dikendalikan. Kemampuan menjaga biaya tetap datar di tengah inflasi operasional menjadi nilai tambah tersendiri.

Bauran Penjualan Domestik dan Ekspor

Pasar domestik menyumbang 52 persen dari total volume penjualan perseroan. Sisanya 48 persen diserap pasar ekspor. Komposisi itu menunjukkan ketergantungan yang cukup seimbang pada dua pasar utama.

Lima negara tujuan ekspor terbesar perseroan adalah Bangladesh, Vietnam, India, Kamboja, dan Thailand. Semua negara itu merupakan pembeli batu bara termal untuk pembangkit listrik. Permintaan dari Asia Selatan dan Asia Tenggara menjadi penopang utama pengiriman ekspor.

Dominasi pasar domestik membuat perseroan relatif terlindungi dari gejolak harga ekspor. Namun, penjualan dalam negeri juga terikat kewajiban pasokan untuk kebutuhan pembangkit listrik. Skema domestic market obligation atau DMO menjadi bagian dari kepatuhan yang harus dijaga.

Pemerintah sendiri menetapkan alokasi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri, khususnya pembangkit listrik PT PLN, sebesar 154 juta ton pada 2026. Angka itu menjadi acuan bagi produsen dalam menyusun rencana penjualan. Kepatuhan pada DMO berpengaruh pada kelangsungan izin operasi perusahaan.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga