Tambang nasional hari ini menyorot langkah PT Perusahaan Gas Negara membidik bisnis gas sintetis dari batu bara. Perusahaan menyebut sudah menjalin pembicaraan dengan sejumlah produsen batu bara, terutama PT Bukit Asam, untuk memasok batu bara kalori rendah. Proyek ini diposisikan sebagai salah satu jalur hilirisasi yang paling mungkin dijalankan.
Tambang Nasional: Apa Itu Gas Sintetis dari Batu Bara
Gas sintetis atau Synthetic Natural Gas adalah gas yang dihasilkan dari pengolahan batu bara sehingga sifatnya menyerupai gas bumi. Produk ini bisa dipakai sebagai bahan bakar industri maupun bahan baku, dan dapat dialirkan lewat jaringan pipa yang sudah ada.
Teknologinya bukan hal baru, tetapi keekonomiannya sering menjadi penghalang. Investasi awal besar, sementara harga gas pembanding bergerak naik turun. Karena itu, proyek semacam ini hampir selalu membutuhkan jaminan penyerapan dari pembeli dan dukungan pembiayaan jangka panjang.
Bagi perusahaan tambang, gas sintetis menawarkan jalan keluar dari menjual batu bara mentah. Nilai jual produk olahan lebih tinggi, dan portofolio bisnis tidak lagi bergantung sepenuhnya pada harga komoditas dunia yang mudah bergejolak.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Sumatera Selatan Dipilih karena Kalori Rendah
Muhammad Anas Pradipta, Grup Head Gas Supply dan LNG Trading PGN, menjelaskan bahwa proyek akan diarahkan ke Sumatera Selatan. Alasannya, wilayah itu punya cadangan batu bara kalori rendah dalam jumlah besar, khususnya di Tanjung Enim dan Muara Enim, serta area yang berdekatan dengan Jambi.
“Lebih banyak di Sumatera sekarang karena yang GAR-nya lebih rendah di sana,” kata Anas seperti dilaporkan Dunia Energi. Batu bara kalori rendah selama ini sulit dijual dengan harga menarik, sehingga pemanfaatannya untuk gasifikasi dianggap lebih masuk akal.
Selain kedekatan bahan baku, Sumatera Selatan memiliki jaringan pipa gas yang relatif siap. Jarak ke pipa utama lebih pendek dibandingkan membangun jaringan baru dari nol, dan itu mengurangi kebutuhan investasi infrastruktur. Faktor logistik seperti inilah yang sering menentukan layak atau tidaknya sebuah proyek gasifikasi.
Nilai Tambah 5,7 Kali dan Kebutuhan 9 Juta Ton
Menurut data yang dipaparkan PTBA, proyek batu bara menjadi gas sintetis bisa memberi nilai tambah hingga 5,7 kali dibandingkan menjual batu bara mentah. Untuk mencapai kapasitas sekitar 237 miliar british thermal unit per hari, proyek membutuhkan pasokan sekitar 9 juta ton batu bara per tahun.
Angka itu sejalan dengan penjelasan manajemen PTBA yang dimuat CNBC Indonesia. Dalam skema yang direncanakan, PTBA menjadi pemasok batu bara sekaligus mitra usaha patungan, sedangkan PGN menjadi pembeli gas yang dihasilkan.
Sebagai pembanding, proyek batu bara menjadi dimetil eter atau DME membutuhkan sekitar 6,9 juta ton batu bara per tahun untuk menghasilkan sekitar 1 juta ton DME, dengan nilai tambah yang disebut 4,3 kali. DME ditujukan menggantikan sebagian impor elpiji, sementara gas sintetis menyasar kebutuhan gas industri.
Posisi PTBA dan Rencana Perusahaan Patungan
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA Turino Yulianto menyatakan perseroan menargetkan kontribusi hilirisasi dan diversifikasi sekitar 20 persen dari total pendapatan dalam empat tahun. Proyek gas sintetis dan DME menjadi tulang punggung rencana tersebut, seperti dilaporkan ANTARA.
Kedua proyek masuk dalam program strategis nasional dan kini berada dalam orkestrasi Danantara, terutama untuk urusan permodalan dan penunjukan pembeli. PTBA menyebut konstruksi ditargetkan mulai tahun depan, meski jadwal pastinya bergantung pada penyelesaian studi kelayakan.
Untuk proyek gas sintetis, PTBA dan PGN akan membentuk perusahaan patungan yang menjadi kendaraan pelaksana. Skema ini memisahkan risiko pasokan batu bara dari risiko penjualan gas, sehingga masing-masing pihak bisa fokus pada bagian rantai nilai yang dikuasainya.


