Viral hari ini dunia hiburan diramaikan rilis yang ditunggu sekaligus ditertawakan. Tiga bulan setelah Elon Musk menjanjikan versi film penuh dan akurat secara sejarah untuk kisah Odyssey, Grok akhirnya merilis sesuatu. Yang keluar bukan film berdurasi panjang, melainkan satu episode berdurasi sekitar tujuh menit. Perusahaan itu menyebutnya Episode 1 dari seri Odyssey mereka.
Viral Hari Ini: Janji yang Berujung Tujuh Menit
Janji itu disampaikan Musk pada Juli 2026. Menurut laporan Mashable, ia menulis di platform X bahwa Grok Imagine akan membuat film Odyssey berdurasi penuh sebelum tahun berakhir. Ia menyebut hasilnya akan akurat secara sejarah dan setia pada karya Homer.
Janji tersebut muncul di tengah kritiknya terhadap versi Christopher Nolan. Musk keberatan pada sejumlah pilihan casting, termasuk Lupita Nyong’o sebagai Helen dari Troy dan Elliot Page sebagai Sinon. Ia menilai keputusan itu menghilangkan integritas film. Kritik tersebut kemudian menjadi bagian dari perdebatan budaya yang lebih luas.
Rilis pekan ini adalah jawaban atas janji itu, meski bentuknya jauh lebih kecil. Video dibuat memakai Grok Imagine, generator video milik perusahaan AI Musk. Proyek ini dikerjakan bersama Wonder Studios dan sutradara Dev Walker, keduanya dikenal di lingkaran pembuat film generatif.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Isi Episode Pertama
Episode pertama mengangkat bagian awal kisah, yaitu kedatangan pasukan Yunani di Troy. Menurut ulasan Mashable, durasinya sedikit di atas tujuh menit. Sepanjang durasi itu, penonton disuguhi deretan wajah berjanggut, dialog yang kaku, dan narasi berlatar belakang. TechCrunch menyebut latar belakang cerita disampaikan lewat suara narator yang terasa berlangsung sangat lama.
Menariknya, Musk sempat mengkritik versi Nolan karena dianggap tidak akurat. Namun, versi Grok sendiri tidak menjelaskan dasar akurasi sejarahnya. TechCrunch mencatat bahwa ia tidak bisa menilai klaim akurasi itu, tetapi semua karakter tampil dengan warna kulit yang sesuai dengan selera pembuatnya.
Mashable menambahkan catatan lain: sepanjang tujuh menit itu, hanya Odysseus yang disebut namanya. Penonton yang tidak baru membaca ulang epos Homer akan kesulitan mengenali tokoh lain. Hal ini dinilai mengurangi daya tarik cerita, karena konflik tidak terbangun lewat pengenalan tokoh.
Catatan Pengamat soal Kualitas Gambar
Secara visual, hasilnya tidak seburuk yang diperkirakan banyak orang. TechCrunch mengakui ada momen ketika gambar terlihat seperti aktor sungguhan yang berlayar di laut sungguhan. Pencahayaan dan komposisi beberapa bidikan cukup meyakinkan pada pandangan pertama.
Namun, kelemahan teknis tetap muncul. Mashable mencatat gigi yang terlalu rapi, tekstur rambut yang terasa ringan seperti air, dan kulit dengan kualitas sedikit kabur. Latar belakang juga memperlihatkan gejala mirip texture pop-in pada gim video, ketika tekstur resolusi rendah muncul lebih dulu sebelum versi detailnya.
Narator memakai aksen Britania yang menurut TechCrunch terasa familier bagi siapa pun yang pernah memainkan gim fantasi atau menonton epik Hollywood dua puluh lima tahun terakhir. Pilihan itu membuat nuansa film terasa generik, bukan khas.
Masalah Cerita yang Paling Sering Disebut
Kritik utama bukan pada kualitas gambar, melainkan pada cerita. TechCrunch menilai seluruh tayangan terasa hampa, tanpa momentum, dan tanpa alasan bagi penonton untuk peduli. Dialog yang diucapkan para tokoh disebut begitu kaku sehingga dialog Nolan terdengar seperti karya Shakespeare sebagai pembanding.
Pengulas TechCrunch mengaku tidak kesulitan menonton versi Nolan yang berdurasi hampir tiga jam. Namun, pada versi Grok ia sudah memeriksa sisa durasi bahkan sebelum tayangan mencapai separuh. Kalimat penutupnya tegas: sulit membayangkan tertarik pada tujuh menit berikutnya, apalagi film penuh.
Mashable menyoroti persoalan serupa dari sisi penulisan. Tokoh-tokoh tampil serupa sehingga sulit dibedakan, dan sebagian wajah terasa mirip aktor sungguhan. Tanpa pengenalan tokoh yang jelas, konflik epik kehilangan taruhannya.


