Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Malili – Menjadi bagian dari masyarakat bukan hanya soal hadir dalam kegiatan sosial, tetapi juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan saat warga menghadapi situasi duka. Gagasan itu yang mendorong Tim Penggerak PKK Kabupaten Luwu Timur menggelar pelatihan memandikan jenazah. Kegiatan tersebut menjadi salah satu berita lutim yang menyorot penguatan peran kader di tingkat desa.
Pelatihan berlangsung di Masjid Nurul Hidayah, Desa Lamaeto, Kecamatan Angkona, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan ini bagian dari program PKK Mengaji yang dijalankan Pokja I TP PKK Kabupaten Luwu Timur, dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader mengenai tata cara memandikan jenazah sesuai syariat Islam.
Selain memandikan, peserta dibekali keterampilan mengafani jenazah. Keduanya termasuk bagian dari fardhu kifayah, kewajiban kolektif yang gugur bila sudah ada sebagian warga yang menjalankannya. Persoalannya, tidak setiap desa memiliki orang yang benar-benar menguasai tata caranya.
Berita Lutim: Pelatihan di Masjid Nurul Hidayah Angkona
Kegiatan di Desa Lamaeto itu diikuti kader PKK dari Kecamatan Angkona dan Malili. Hadir pula Sekretaris Camat Angkona, Yasruddin, serta sejumlah pengurus TP PKK Kabupaten Luwu Timur.
Ketua I Bidang Pembinaan Karakter Keluarga TP PKK Lutim, Hj. Heriwati Abdullah, hadir mewakili Ketua TP PKK Kabupaten. Turut mendampingi Ketua Pokja I TP PKK, Andi Besse P. Achmad, jajaran pengurus TP PKK Lutim, KUA Kecamatan Angkona, penyuluh agama, imam masjid, Ketua TP PKK Malili beserta pengurus, dan majelis taklim dari Kecamatan Malili serta Angkona.
Materi disampaikan oleh Ny. Purwati Ningsih. Peserta tidak hanya menerima penjelasan teori, tetapi juga diperkenalkan tahapan pelaksanaan secara langsung. Cara pengajaran seperti itu penting karena tata cara memandikan jenazah menuntut ketelitian pada urutan dan adab, bukan sekadar hafalan bacaan.
Fardhu Kifayah dan Kebutuhan yang Sering Mendadak
Dalam praktik sehari-hari, keluarga yang baru kehilangan kerap kebingungan mencari orang yang bisa memandikan jenazah. Waktu yang tersedia singkat dan suasana duka membuat keluarga sulit mengurus semuanya sendiri. Di titik inilah kehadiran kader terlatih menjadi sangat berarti.
Di desa-desa, peran itu biasanya dipegang segelintir orang, kadang hanya satu atau dua warga lanjut usia. Ketika mereka sakit atau sedang berada di luar kota, keluarga yang berduka harus mencari bantuan ke desa lain. Pelatihan semacam ini memperluas jumlah orang yang mampu mengambil peran tersebut.
Keterampilan ini juga menutup kebutuhan yang jarang diperhatikan dalam program pembangunan. Pelatihan keterampilan biasanya berputar pada urusan ekonomi, seperti menjahit, memasak, atau pemasaran digital. Padahal layanan sosial dasar di tingkat kampung juga menuntut orang yang terampil.
Peran PKK di tingkat desa dan dusun
PKK memiliki struktur yang menjangkau hingga dasawisma. Karena itu, pengurus menilai pelatihan ini bisa diteruskan sampai tingkat desa dan dusun tanpa harus selalu menghadirkan pelatih dari kabupaten. Kader yang sudah dilatih dapat menjadi pengajar bagi warga di lingkungannya.
Jejaring antar kecamatan
Pelibatan kader dari dua kecamatan sekaligus, Angkona dan Malili, memperlihatkan sisi lain kegiatan ini. Pertemuan lintas kecamatan membuat pengalaman antarwilayah bisa saling dibagikan. Setiap kecamatan punya kebiasaan dan kebutuhan berbeda dalam pelaksanaan fardhu kifayah.


