Malili – Danau Mahalona jarang disebut ketika orang membicarakan wisata Luwu Timur. Perhatian biasanya tersedot ke Danau Matano yang terkenal sebagai danau terdalam di Asia Tenggara, atau Danau Towuti yang jauh lebih luas. Padahal, Mahalona adalah pintu yang menghubungkan keduanya. Kawasan perairan ini berstatus Taman Wisata Alam (TWA) Danau Mahalona dengan luas 2.289,30 hektare, ditetapkan lewat Keputusan Menteri Kehutanan No. SK.6590/Menhut-VII/KUH/2014 pada 28 Oktober 2014, dan secara administratif berada di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur.
Bagi siapa pun yang mencari destinasi luwu timur yang tidak ramai, status kawasan konservasi itu justru menjadi nilai tambah. Tidak ada deretan bangunan komersial di tepinya, tidak ada keramaian yang harus dihindari. Yang ada perairan tenang, hutan di sekelilingnya, dan sungai-sungai yang menghubungkan satu danau dengan danau lain dalam satu sistem ekologi yang khas.
Destinasi Luwu Timur: Posisi Mahalona di Sistem Danau Malili
Danau Matano, Mahalona, dan Towuti terbentuk oleh proses tektonik yang sama, yaitu patahan yang membentuk rangkaian cekungan di bagian tengah Sulawesi. Ketiganya terhubung oleh sungai dan anak sungai sehingga air mengalir dari Matano ke Mahalona, lalu berlanjut ke Towuti. Dari sistem itu, air akhirnya keluar melalui Sungai Larona.
Mahalona adalah yang paling kecil di antara ketiganya, dengan perairan tenang dan posisi di antara dua danau besar. Kawasan TWA Danau Mahalona berada pada ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Bagian tenggara danau berbatasan dengan Gunung Lengkono, Desa Loreha, serta sejumlah dusun, sementara sisi baratnya berbatasan dengan Desa Timampu dan Desa Pekaloa.
Posisi itu membuat Mahalona sering dianggap hanya sebagai danau perantara. Padahal, fungsi ekologisnya penting. Justru karena ukurannya kecil dan menjadi penghubung, kondisi perairan Mahalona ikut menentukan kesehatan seluruh sistem danau Malili yang menjadi rumah bagi banyak ikan endemik.
Daya Tarik TWA Danau Mahalona
Perairan tenang dengan latar hutan
Sebagai kawasan taman wisata alam, Mahalona menawarkan pengalaman yang lebih sederhana dibanding danau wisata yang sudah tertata besar. Pengunjung umumnya datang untuk menikmati pemandangan air yang jernih, naik perahu menyeberangi danau, mengamati aktivitas nelayan setempat, dan menyusuri muara sungai yang menghubungkan Mahalona dengan Matano dan Towuti.
Tiga sungai dan anak sungai memasok air ke danau ini, dan salah satunya adalah aliran dari Danau Matano. Ada pula sungai yang menghubungkan TWA Danau Mahalona dengan TWA Danau Towuti. Karena itu, penjelajahan di kawasan ini tidak berhenti di satu titik, tetapi bisa dilanjutkan mengikuti alur air.
Kehidupan liar di sekitar kawasan
Catatan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan menyebut sejumlah satwa yang hidup di sekitar kawasan, mulai dari burung air sampai mamalia kecil. Daftar itu memberi gambaran bahwa Mahalona bukan sekadar pemandangan danau:
- Burung air seperti cangak merah, kuntul kerbau, kuntul putih besar, dan ibis kepala hitam.
- Jenis lain seperti elang, ayam hutan merah, mandar kelam, rangkong sulawesi, dan pergam ketanjar.
- Satwa yang perlu diwaspadai di tepian, termasuk buaya muara.
- Ikan air tawar seperti mujair, betok, sepat, dan gabus yang juga menjadi bagian dari kehidupan nelayan setempat.
Bagi pengamat burung, waktu pagi menjadi kesempatan terbaik karena aktivitas satwa lebih terlihat. Namun pengunjung perlu menjaga jarak dan tidak mengganggu satwa, terutama di kawasan yang berstatus konservasi.


