Malili – Geopark Matano yang mencakup Danau Matano dan sistem danau Malili berada di tahap penentuan untuk naik kelas menjadi geopark nasional. Pemerintah Kabupaten Luwu Timur masih menunggu dua dokumen kunci: Surat Keputusan penetapan Warisan Geologi atau Geoheritage dari Badan Geologi Kementerian ESDM, serta rekomendasi Bappenas atas Rencana Induk Geopark yang disusun bersama Universitas Hasanuddin. Kedua dokumen itu menjadi syarat sebelum usulan resmi ke tingkat nasional dikirim, dengan target paling lambat September 2026.
Bagi warga yang hidup dari sektor jasa wisata, status geopark bukan sekadar gelar. Ia menentukan cara destinasi Luwu Timur dikelola: bagaimana geosite dilindungi, bagaimana desa sekitar mendapat ruang ekonomi, dan bagaimana kunjungan wisatawan diarahkan tanpa merusak kawasan. Karena itu, prosesnya terasa lambat bagi banyak orang, padahal tahapannya memang berlapis.
Mengapa Status Geopark Menentukan Arah Destinasi Luwu Timur
Geopark Matano dibangun di atas satu gagasan dasar: lanskap purba di sekitar Danau Matano punya nilai ilmiah yang layak diakui, bukan sekadar pemandangan yang layak difoto. Kawasan ini merupakan bagian dari Sistem Danau Malili yang terdiri dari Danau Matano, Danau Mahalona, dan Danau Towuti. Ketiganya terbentuk dari proses tektonik jutaan tahun lalu dan menjadi laboratorium alam bagi peneliti geologi, limnologi, hingga biologi evolusi.
Danau Matano sendiri dikenal sebagai danau terdalam di Indonesia dengan kedalaman sekitar 590 meter, serta salah satu danau purba tertua di dunia. Keunikan itulah yang mendorong Kabupaten Luwu Timur mengusulkan kawasan ini masuk jaringan geopark nasional, dan setelah itu menuju pengakuan global di bawah UNESCO.
Dalam konsep geopark, penilaian tidak berhenti pada batuan atau bentang alam. Ada tiga syarat utama yang wajib dimiliki sebuah kawasan: keanekaragaman geologi atau geoheritage, keanekaragaman hayati, dan keanekaragaman budaya. Ketiganya dianggap tersedia di kawasan Matano, mulai dari formasi batuan purba, spesies endemik perairan, sampai tradisi masyarakat yang masih hidup di sekitar danau.
Sejauh Mana Prosesnya Berjalan
Kepala Bidang Kemitraan dan Pengembangan Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparmudora) Luwu Timur, Andi Irfan Saputra, menjelaskan bahwa pengusulan Geopark Matano telah dimulai sejak 2022 melalui Bapperlitbangda. Tim dari Badan Geologi kemudian turun melakukan survei ke sejumlah lokasi yang dinilai punya ciri khas keanekaragaman geologi.
Hingga pertengahan 2026, posisi kawasan ini masih berada pada tahap Geopark Lokal. Sebanyak 22 geosite di kawasan Matano menunggu penetapan sebagai Situs Warisan Geologi. Penetapan tersebut menjadi dasar penting, karena tanpa status geoheritage, dokumen pengusulan ke tingkat nasional tidak bisa dibangun dengan kokoh.
Sejumlah langkah percepatan sudah ditempuh. Pada 17 Juni 2026, Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam bersama Tim Percepatan Penyusunan Dokumen Pengusulan Geopark Matano melakukan audiensi dengan Kepala Badan Geologi, Lana Saria, di Bandung. Dalam pertemuan itu, Badan Geologi memberikan sejumlah masukan teknis, termasuk penataan peta geopark yang lebih informatif untuk kebutuhan promosi, penamaan geosite yang lebih representatif, serta penyajian informasi soal titik-titik menarik bagi pengunjung.
Di jalur lain, dokumen Rencana Induk Geopark yang disusun bersama Universitas Hasanuddin sedang menjalani asistensi lintas sektor di Bappenas. Jika asistensi selesai dan dokumen dinyatakan final, rekomendasi dari Komite Geopark Nasional akan keluar sebagai pintu masuk pengusulan.
- Status saat ini: Geopark Lokal, belum Geopark Nasional.
- Dokumen yang ditunggu: SK Geoheritage Kementerian ESDM dan rekomendasi Bappenas atas Rencana Induk Geopark.
- Target pengusulan ke tingkat nasional: paling lambat September 2026.
- Perkiraan penetapan nasional: rentang 2026 hingga 2028, dengan penilaian lapangan oleh tim asesor.
- Tahap berikutnya: pengusulan ke jaringan global UNESCO setelah status nasional diperoleh.
Perkembangan terakhir tergambar dari keterangan Disparmudora yang menyebut seluruh tahapan pengusulan berjalan sesuai jadwal dan kini fokus menunggu penetapan Warisan Geologi dari pemerintah pusat, seperti dilaporkan RRI. Sebelumnya, Disparmudora menggelar evaluasi progres penyusunan dokumen pengusulan Geopark Matano selama lima hari pada 21 sampai 25 April 2026 di Gedung Pemuda, Malili, sebagaimana diberitakan Pedoman Rakyat.


