Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Ekonomi & UMKM

Berita Luwu Timur: Melon Wanasari Tembus Pasar Makassar

25 September 2026 • Admin • 25 kali dibaca
Petani melon Desa Wanasari Angkona Luwu Timur bersama hasil panen
Gambar: Sarambang.id
ASM Group
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Berita Luwu Timur dari Desa Wanasari, Kecamatan Angkona: budidaya melon yang awalnya hanya dicoba di halaman kantor desa kini menjadi komoditas yang menjanjikan bagi warga. Sebagian petani bahkan mulai mengalihfungsikan sebagian lahan sawahnya untuk menanam melon karena melihat nilai ekonominya.

Kepala Desa Wanasari, Wayan Sardika, menuturkan penanaman melon berawal dari uji coba skala kecil di pekarangan kantor desa. Setelah hasilnya terlihat, warga mulai tertarik belajar menanam melon, lalu menularkan pengalaman itu ke tetangga dan kelompok tani lain.

“Awalnya kita coba-coba di halaman depan kantor desa. Setelah melihat hasilnya, baru masyarakat mulai tertarik untuk belajar menanam melon,” kata Wayan, Kamis (24/9/2026), dikutip Sarambang.id.

Berita Luwu Timur: Peralihan Lahan Sawah ke Tanaman Melon

Perubahan pola tanam di Wanasari berjalan bertahap. Warga yang semula mengandalkan pertanian sawah melihat melon mampu memberi hasil lebih cepat dengan siklus produksi relatif pendek. Sejumlah petani memilih menanam melon di pekarangan terlebih dahulu sebelum memutuskan mengubah sebagian lahan sawah.

Tata Atur
Iklan

Peralihan itu tidak terjadi serentak. Petani menilai keberhasilan tetangga menjadi contoh paling meyakinkan sebelum ikut menanam. Pola inilah yang membuat pengembangan komoditas melon di Desa Wanasari tumbuh dari bawah, bukan melalui program yang sekadar disosialisasikan.

Siklus tanam dan hitungan hasil

Salah satu petani melon Wanasari, Nilo Devi, kini mengelola lahan 25 are dengan sekitar 2.300 pohon melon. Dalam satu siklus tanam sekitar 60 hari, ia menyebut hasil kotor dari lahannya bisa mencapai Rp50 juta.

“Sekali panen, dengan siklus tanam sekitar 60 hari, penghasilan kotor dari lahan 25 are itu bisa sampai Rp50 juta,” katanya.

Angka itu merupakan hasil kotor, bukan keuntungan bersih, sehingga masih harus dikurangi biaya bibit, pupuk, tenaga kerja, dan perawatan. Meski demikian, perputaran modal yang relatif cepat membuat komoditas ini menarik bagi petani yang ingin memperoleh pendapatan lebih sering dalam satu tahun.

Belajar dari Kegagalan Pertama

Jalan menuju keberhasilan tidak selalu mulus. Nilo Devi mengaku pernah gagal saat pertama kali menanam melon. Ia menduga kegagalan itu berkaitan dengan kualitas lahan yang kurang cocok untuk melon. Pengalaman itu tidak membuatnya berhenti; ia mencoba menanam kembali di lahan yang berbeda.

Kepala Desa Wanasari menyebut tingkat kegagalan budidaya melon kini relatif kecil. Namun petani tetap menghadapi hama tikus dan lalat serta penyakit jamur. Menurut Wayan, sebagian masalah masih bisa dikendalikan, kecuali hama tikus. Karena itu, ada periode tertentu petani memilih tidak menanam.

Pengendalian hama secara bergotong royong

Pola pengendalian dilakukan bersama agar hasilnya lebih efektif. Petani juga belajar menyesuaikan waktu tanam dengan tekanan hama setempat. Pendekatan sederhana ini menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang berkembang dari musim ke musim.

Peran BUMDes Wanasari Menjaga Harga dan Pasar

Salah satu persoalan klasik pertanian adalah pemasaran. Sebelum panen raya tiba, petani sering tidak tahu buah mereka harus dijual ke mana. Di Wanasari, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mengambil peran sebagai penampung hasil panen.

BUMDes membeli langsung melon dari petani, menyediakan bibit dan pupuk, serta memberikan modal tanpa bunga bagi warga yang ingin mulai menanam. Dengan pola itu, petani tidak lagi bergantung pada tengkulak untuk menentukan harga jual.

“Jadi BUMDes menyediakan bantuan untuk petani mulai dari bibit melon, pupuk, dan menjamin pasaran buah melon petani setelah panen,” ujar Wayan.

Berkat kanal pemasaran yang tertata, melon Wanasari kini dipasarkan hingga ke Makassar, masuk dalam program Dapur MBG, dan sempat menembus jaringan ritel modern. Jangkauan pasar inilah yang membuat petani berani menambah luas tanam.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga