Kampung Pangan Adhyaksa dan Pendampingan Kejari Luwu Timur
Perkembangan budidaya melon di Wanasari tidak lepas dari Program Kampung Pangan Adhyaksa yang didampingi Kejaksaan Negeri Luwu Timur. Desa Wanasari termasuk salah satu desa binaan program tersebut. Kejari Luwu Timur memfasilitasi koordinasi pemerintah desa dengan pemerintah daerah hingga kementerian.
Kepala Subseksi I Intelijen Kejari Luwu Timur, Andi Muhammad Ryas Yunus, menyatakan pendampingan tidak hanya menyasar sektor pertanian, tetapi juga tata kelola pemerintahan desa.
“Kejaksaan bukan hanya hadir dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai lembaga mitra yang mengawal cita-cita presiden dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya melalui pendampingan khusus pada Kampung Pangan Adhyaksa ini,” katanya saat meninjau Desa Wanasari.
Kejari turut memberikan edukasi terkait administrasi, pengelolaan anggaran, dan aset desa. Menurut Ryas, pendampingan itu bertujuan memastikan tata kelola administrasi berjalan baik sehingga berdampak positif bagi kemajuan desa dan kesejahteraan petani.
Dampak bagi Ekonomi Desa
Kehadiran komoditas baru mengubah lanskap ekonomi Wanasari. Selain pemasukan petani, aktivitas budidaya melon menumbuhkan usaha pendukung seperti penyedia saprodi, jasa angkut, hingga kios pengecer di tingkat desa. BUMDes memperoleh sumber pendapatan dari kegiatan usaha yang dijalankannya.
Bagi desa lain di Luwu Timur, model Wanasari menunjukkan bahwa diversifikasi komoditas bisa dimulai dari skala kecil. Kuncinya adalah membuktikan kelayakan usaha secara nyata sebelum mendorong lebih banyak warga ikut menanam, serta memastikan ada lembaga yang menampung hasil panen.
Pelajaran yang bisa diadopsi desa lain
- Uji coba skala kecil di lahan terbatas sebelum memperluas area tanam.
- Pastikan kanal pemasaran tersedia sebelum panen raya, agar harga tidak jatuh.
- Libatkan BUMDes sebagai penyedia saprodi dan penampung hasil.
- Catat komponen biaya secara rinci supaya hasil kotor tidak dikira keuntungan bersih.
FAQ
1. Komoditas apa yang dikembangkan di Desa Wanasari?
Warga Desa Wanasari mengembangkan budidaya melon. Sejumlah petani menanam di pekarangan, sementara sebagian lain mengalihfungsikan sebagian lahan sawahnya.
2. Berapa lama satu siklus tanam melon?
Menurut petani setempat, satu siklus tanam sekitar 60 hari. Hasil kotor dari lahan 25 are dengan sekitar 2.300 pohon disebut bisa mencapai Rp50 juta.
3. Apa fungsi BUMDes bagi petani melon?
BUMDes Wanasari menyediakan bibit dan pupuk, memberi modal tanpa bunga, serta membeli hasil panen petani untuk dipasarkan ke luar daerah.
Penutup
Cerita dari Wanasari memperlihatkan bahwa perubahan ekonomi desa bisa dimulai dari hal sederhana: sebuah uji coba di halaman kantor desa, lalu ditiru warga setelah bukti hasilnya terlihat. Dengan pendampingan tata kelola dan kelembagaan desa yang kuat, komoditas baru berpeluang menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan.
Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi mutu, mengatur waktu tanam agar pasokan tidak menumpuk, dan memperluas akses pasar. Jika itu berjalan, melon Wanasari dapat menjadi contoh pengembangan ekonomi desa yang dapat direplikasi di kecamatan lain di Luwu Timur.
Sumber: laporan Sarambang.id mengenai budidaya melon dan Kampung Pangan Adhyaksa di Desa Wanasari, 24 September 2026.
Baca juga: Berita Lutim: 2 Desa Kejar Trofi Proklim Utama 2026 dan Berita Lutim: PT CLM Bantu Pompa Air Petani Pasi-Pasi. Liputan ekonomi desa lain ada di kanal Ekonomi & UMKM SuaraLutim.
Referensi eksternal: Sarambang.id dan situs resmi Pemerintah Kabupaten Luwu Timur.


