Minggu, 20 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Desa & Kecamatan

Berita Lutim: 2 Desa Kejar Trofi Proklim Utama 2026

27 Agustus 2026 • Admin
Tim verifikator Proklim meninjau aksi iklim warga desa di Luwu Timur
Gambar: Luwuraya.com

Berita Lutim — Perubahan iklim tidak hanya menjadi isu besar di tingkat nasional. Warga desa pun merasakan dampaknya melalui persoalan sampah, kondisi lingkungan, kebutuhan energi, hingga keberlanjutan pangan. Dua desa di Kabupaten Luwu Timur kini menunjukkan cara warga menghadapi tantangan itu dari lingkungannya sendiri: Desa Tabarano di Kecamatan Wasuponda dan Desa Balantang di Kecamatan Malili mengikuti verifikasi lapangan Program Kampung Iklim atau Proklim Utama 2026 pada 25–26 Agustus 2026.

Berita Lutim: Verifikasi Proklim di Tabarano dan Balantang

Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Luwu Timur mendampingi proses verifikasi tersebut bersama tim verifikator Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan. Penilaian lapangan dipimpin Agussalim, yang memulai verifikasi di Tabarano pada hari pertama, lalu melanjutkan ke Balantang.

Tim verifikator meninjau langsung sejumlah aksi warga di kedua desa. Materi penilaian mencakup pengelolaan sampah, penghijauan, konservasi energi, serta penguatan kelompok masyarakat.

Verifikasi lapangan menjadi tahap penting karena capaian desa tidak cukup dibuktikan lewat laporan tertulis. Tim perlu melihat keadaan di lokasi, berdialog dengan warga, dan memastikan kegiatan yang dilaporkan benar-benar berjalan.

Dua Hari Penilaian di Dua Kecamatan

Agenda verifikasi dibagi dua hari dengan lokasi yang berbeda. Hari pertama difokuskan di Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, yang berada di kawasan bagian barat Luwu Timur. Hari kedua penilaian berlangsung di Desa Balantang, Kecamatan Malili.

Membagi jadwal seperti itu memungkinkan tim menilai setiap desa secara lebih utuh. Waktu yang tersedia bisa dipakai untuk menelusuri titik-titik kegiatan warga, bukan hanya mendengarkan pemaparan di ruang pertemuan.

Apa yang Dinilai Verifikator

Sejumlah aspek menjadi perhatian tim, mulai dari cara warga mengelola sampah rumah tangga, upaya penghijauan, hingga langkah penghematan dan konservasi energi. Aspek pemberdayaan masyarakat juga dinilai karena aksi iklim perlu ditopang kelompok yang aktif.

Penilaian itu sejalan dengan gagasan Proklim yang menempatkan warga sebagai pelaku utama. Program ini tidak menuntut teknologi besar, tetapi menekankan kegiatan yang bisa dijalankan berulang di tingkat desa.

Apa Itu Proklim dan Mengapa Kategori Utama Penting

Program Kampung Iklim (Proklim) adalah program nasional yang memberikan pengakuan kepada desa dan kelurahan yang menjalankan aksi adaptasi serta mitigasi perubahan iklim. Pengakuan diberikan secara berjenjang, mulai dari Pratama, Madya, hingga Utama.

Kategori Utama menandakan capaian yang paling matang. Untuk sampai ke tingkat itu, sebuah wilayah biasanya sudah menjalankan kegiatan secara berkelanjutan, melibatkan banyak kelompok warga, dan memiliki pendampingan yang jelas dari pemerintah daerah maupun mitra.

Bagi desa, pengakuan Proklim memberi manfaat lebih dari sekadar trofi. Status itu membuka peluang pendampingan lanjutan, penguatan kelembagaan, hingga perhatian program lingkungan di tingkat provinsi dan nasional.

Aksi Adaptasi dan Mitigasi Iklim di Tingkat Desa

Aksi adaptasi berfokus pada upaya warga menyesuaikan diri terhadap perubahan yang sudah terjadi, misalnya menjaga ketersediaan pangan dan mengelola air. Sementara aksi mitigasi menekankan pengurangan sumber masalah, seperti penanganan sampah dan penghematan energi.

Di banyak desa, dua jenis aksi itu berjalan bersamaan. Bank sampah, misalnya, mengurangi timbunan sampah sekaligus memberi nilai ekonomi bagi warga yang memilah dan menyetorkan barang bekas.

Kearifan Lokal sebagai Kekuatan

Warga juga memanfaatkan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan. Cara-cara yang tumbuh dari kebiasaan setempat memberi peluang agar aksi iklim tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi tumbuh sebagai kebiasaan di tingkat desa.

Pendekatan berbasis kebiasaan itu penting karena kesinambungan aksi iklim jarang ditentukan oleh proyek jangka pendek. Yang membuatnya bertahan adalah warga sendiri yang merasa kegiatan tersebut bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga