Peran Kelompok Warga dalam Aksi Iklim
Dalam verifikasi di Tabarano dan Balantang, sejumlah kelompok memperlihatkan peran masing-masing. Ada kelompok tani, Kelompok Wanita Tani, bank sampah, Pokja Proklim, tenaga kesehatan desa, hingga kader sanitarian.
Keterlibatan banyak unsur itu dinilai penting karena persoalan iklim tidak dapat diselesaikan lewat satu program atau satu lembaga saja. Persoalan sampah, pangan, dan kesehatan lingkungan saling berkaitan di tingkat rumah tangga.
Kelompok Tani dan Kelompok Wanita Tani
Kelompok tani berperan pada sisi pangan dan pengelolaan lahan, sementara Kelompok Wanita Tani biasanya menggerakkan kegiatan pekarangan, pengolahan hasil, hingga pengelolaan sampah rumah tangga.
Kedua kelompok itu menjadi simpul yang menghubungkan program pemerintah dengan kebiasaan harian warga. Kegiatan yang dimulai dari lingkungan terdekat lebih mudah bertahan dibanding kegiatan yang menunggu instruksi dari luar desa.
Bank Sampah, Pokja Proklim, hingga Kader Sanitarian
Bank sampah menangani pemilahan dan pengumpulan sampah yang masih bernilai, sementara Pokja Proklim mengoordinasi kegiatan di tingkat desa. Adapun tenaga kesehatan desa dan kader sanitarian mengaitkan aksi lingkungan dengan kesehatan warga.
Sinergi antarkelompok itu membuat hasil kerja terlihat lebih nyata. Sampah yang dikelola, lingkungan yang lebih bersih, dan kesadaran warga yang meningkat merupakan dampak yang bisa dirasakan langsung, terlepas dari hasil akhir penilaian.
Dukungan Pemerintah Desa dan Mitra
Kepala Desa Tabarano, Rimal Manuk Allo, dan Plt Kepala Desa Balantang, Hasimning, turut mendampingi proses verifikasi bersama perangkat desa. Kehadiran pemerintah desa menandakan aksi iklim dijalankan sebagai bagian dari tata kelola desa, bukan kegiatan terpisah.
PT Vale Indonesia Tbk juga hadir sebagai mitra pendukung. Keterlibatan perusahaan menunjukkan aksi lingkungan di tingkat desa mendapat dukungan dari pihak di luar struktur pemerintahan.
Kombinasi pemerintah desa, warga, pemerintah daerah, dan mitra usaha membuat program lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk berlanjut setelah verifikasi selesai.
Trofi Proklim Utama 2026 dan Harapan DLH Lutim
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Luwu Timur, Esti Purwaningsih, optimistis kedua desa mampu meraih hasil terbaik.
“Melalui proses verifikasi ini, kami berharap kerja keras pemerintah desa, masyarakat, serta pendampingan berkelanjutan dari pemerintah daerah dan mitra kerja dinilai layak. Target kami, Desa Tabarano dan Desa Balantang mampu memboyong Trofi Proklim Utama Tahun 2026,” kata Esti.
Proses verifikasi ini juga dilaporkan media lokal melalui pemberitaan Luwuraya soal Proklim Lutim. Informasi kegiatan lingkungan di tingkat provinsi dapat dilihat pada portal Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan serta laman Profil Kampung Iklim Sulsel.
SuaraLutim sendiri rutin memuat kabar dari desa dan kecamatan melalui kanal Desa & Kecamatan, seperti pemasangan lampu sorot di Balantang dan normalisasi Sungai Malili.
Manfaat Status Proklim bagi Warga Desa
Status Proklim membuka akses pada pendampingan dan program lingkungan di tingkat provinsi maupun nasional. Bagi desa, pengakuan itu juga berfungsi sebagai penanda bahwa kegiatan warga layak diperhitungkan, bukan hanya urusan administratif.
Manfaat praktisnya terasa pada penguatan kelembagaan. Kelompok warga yang sudah terbiasa bekerja bersama lebih mudah menyusun rencana, mengajukan usulan, dan menjalankan kegiatan secara tertib ketika peluang pendampingan datang.
Paling penting, aksi iklim menjaga kualitas lingkungan tempat warga tinggal. Sampah yang terkelola, penghijauan yang berjalan, dan pemakaian energi yang lebih hemat berdampak pada kehidupan sehari-hari, bukan hanya pada penilaian tahunan.
FAQ Proklim Utama Luwu Timur
Desa mana saja di Luwu Timur yang mengikuti verifikasi Proklim Utama 2026?
Dua desa, yaitu Desa Tabarano di Kecamatan Wasuponda dan Desa Balantang di Kecamatan Malili. Verifikasi lapangan berlangsung pada 25–26 Agustus 2026 dengan pendampingan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Luwu Timur.
Apa itu Proklim dan apa bedanya kategori Utama?
Proklim atau Program Kampung Iklim adalah program nasional yang memberi pengakuan kepada desa dan kelurahan yang menjalankan aksi adaptasi serta mitigasi perubahan iklim. Pengakuan diberikan berjenjang dari Pratama, Madya, hingga Utama, dengan Utama sebagai tingkat capaian paling matang.
Siapa saja yang terlibat dalam verifikasi Proklim di Lutim?
Tim verifikator Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan yang dipimpin Agussalim, didampingi DLH Luwu Timur. Pemerintah desa, kelompok tani, Kelompok Wanita Tani, bank sampah, Pokja Proklim, tenaga kesehatan desa, kader sanitarian, serta PT Vale Indonesia Tbk sebagai mitra pendukung turut serta dalam penilaian.
Bagi Tabarano dan Balantang, verifikasi ini bukan sekadar penilaian menuju trofi. Kegiatan yang dibangun warga menyentuh persoalan yang mereka hadapi setiap hari: sampah, lingkungan, energi, dan pangan. Karena itu, apa pun hasil penilaiannya, kebiasaan yang sudah tumbuh di dua desa itu menjadi modal penting bagi Luwu Timur dalam menghadapi perubahan iklim dari tingkat paling bawah.