Lutim, SuaraLutim – Promosi pariwisata Lutim bergerak ke arah wisata minat khusus. Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparmudora) Kabupaten Luwu Timur mendampingi kunjungan agen perjalanan wisata El’s Queen Wisata ke Taman Kehati Sawerigading Wallacea di Sorowako. Kunjungan itu bukan kunjungan biasa, melainkan cara memperkenalkan destinasi kepada pihak yang setiap hari menjual paket perjalanan kepada calon wisatawan.
Di kawasan sekitar Danau Matano, sejumlah destinasi memang sudah lama dikenal wisatawan lokal. Namun promosi dari mulut ke mulut dinilai tidak lagi cukup. Pemerintah daerah menempuh jalur lain: mengajak pelaku perjalanan wisata melihat langsung kondisi lapangan, agar mereka bisa bercerita kepada calon pengunjung berdasarkan pengalaman sendiri.
Pendekatan itu dipilih karena wisatawan yang datang ke Luwu Timur umumnya mencari pengalaman yang berbeda: alam yang masih terjaga, cerita lokal, dan aktivitas edukatif. Di titik itulah Taman Kehati Sawerigading Wallacea masuk sebagai salah satu unggulan.
Pariwisata Lutim Bergeser ke Ekowisata Berbasis Edukasi
Sejak beberapa tahun terakhir, arah pengembangan wisata daerah menekankan ekowisata: perjalanan yang memadukan rekreasi dengan pembelajaran tentang alam dan budaya setempat. Konsep ini dianggap cocok dengan karakter Luwu Timur yang memiliki danau purba, hutan, gua, dan sungai berair jernih.
Bagi pengelola, ekowisata memberi keuntungan ganda. Wisatawan mendapat pengalaman yang lebih bermakna, sementara warga sekitar bisa terlibat sebagai pemandu, penyedia perahu, pengelola homestay, hingga penjual makanan. Keterlibatan itu membuat manfaat wisata tidak hanya berhenti di gerbang destinasi.
Disparmudora menyebut kerja sama dengan agen perjalanan sebagai strategi promosi yang efektif. Alasannya sederhana: agen wisata bekerja sebagai pencerita pertama sebelum calon pengunjung memutuskan berangkat. Jika mereka mengenal destinasi secara langsung, informasi yang disampaikan pun lebih akurat.
Taman Kehati Sawerigading Wallacea di Sorowako
Destinasi yang dikunjungi dalam agenda pendampingan itu adalah Taman Kehati Sawerigading Wallacea yang berada di Sorowako. Kawasan ini dikembangkan sebagai taman keanekaragaman hayati, yaitu ruang konservasi tumbuhan yang ditata agar bisa dikunjungi publik sekaligus berfungsi sebagai tempat penelitian dan pendidikan.
Apa yang Membuatnya Berbeda
Taman keanekaragaman hayati pada umumnya menampilkan koleksi jenis tumbuhan lokal yang ditanam menurut kelompok atau fungsinya. Untuk wisatawan, kawasan seperti ini terasa seperti laboratorium terbuka: pengunjung melihat langsung bagaimana jenis-jenis khas suatu wilayah dikumpulkan, dirawat, dan dipelajari.
Nilai tambah taman kehati di Luwu Timur datang dari lokasinya. Sulawesi dikenal sebagai bagian dari kawasan Wallacea, wilayah kepulauan yang memiliki keunikan hayati tinggi karena letaknya di antara dua zona biologis besar. Jenis tumbuhan dan satwa di kawasan ini banyak yang tidak ditemukan di tempat lain.
Laboratorium Alam bagi Pelajar dan Peneliti
Karena itu, taman kehati tidak hanya menarik bagi wisatawan umum. Sekolah, kelompok mahasiswa, dan komunitas pemerhati lingkungan bisa menjadikannya lokasi belajar lapangan. Kunjungan semacam ini biasanya dirancang lebih lama dibanding kunjungan wisata biasa karena ada sesi pengamatan dan penjelasan.
Bagi Luwu Timur, potensi itu berarti segmen pasar wisata bertambah. Selain wisatawan liburan, ada pula kunjungan sekolah, kunjungan akademik, serta perjalanan dinas yang menyisipkan agenda wisata alam sebagai bagian dari kunjungan kerja.


