Sabtu, 10 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Ekonomi & UMKM

Luwu Timur: Riset Ayam Alope Unhas 1 di Pekaloa Towuti

30 September 2026 • Admin • 25 kali dibaca
Ayam ternak, gambaran budidaya Ayam Alope Unhas 1 oleh peternak di Luwu Timur
Gambar: Ilustrasi ayam ternak, MrPanyGoff, Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0.
ASM Group
Iklan

Makassar, SuaraLutim – Hilirisasi hasil riset peternakan kembali menyentuh peternak di Luwu Timur. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin (Fapet Unhas) bersama PT Vale Indonesia melakukan monitoring dan pendampingan budidaya Ayam Alope Unhas 1 bersama Kelompok Waliko di Pekaloa, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur.

Kegiatan itu merupakan bagian dari pendampingan teknis untuk mengevaluasi penerapan hasil riset Fapet Unhas pada tingkat peternak. Dekan Fapet Unhas, Profesor Dr Syahdar Baba, bersama Tim Alope Unhas 1 memantau langsung perkembangan budidaya sekaligus berdiskusi dengan anggota kelompok mengenai kondisi pemeliharaan di lapangan.

Luwu Timur: Apa yang Dipantau dalam Pendampingan Ini

Menurut keterangan Prof Syahdar, monitoring dilakukan untuk melihat langsung bagaimana ayam hasil riset tumbuh dan beradaptasi di tingkat peternak. Tim ingin memastikan tata laksana pemeliharaan yang diterapkan sudah tepat, sekaligus mengetahui kendala yang dihadapi kelompok.

Pemantauan meliputi beberapa komponen teknis. Pertama, manajemen pakan, termasuk cara dan waktu pemberian agar kebutuhan nutrisi ternak terpenuhi. Kedua, kondisi kandang, mulai dari kebersihan, sirkulasi udara, hingga kepadatan populasi.

Tata Atur
Iklan

Komponen ketiga adalah kesehatan ternak, yang menjadi penentu utama keberhasilan budidaya. Keempat, perkembangan pembesaran ayam, dan kelima, pencatatan produksi. Pencatatan ini penting karena menjadi dasar evaluasi usaha, baik untuk menghitung biaya maupun memproyeksikan hasil penjualan.

“Ketika hasil riset sudah diterapkan di masyarakat, kami perlu mendapatkan data dan umpan balik dari peternak. Dari situ kami bisa melihat apa yang berjalan dengan baik dan apa yang masih perlu diperbaiki,” jelas Prof Syahdar, seperti dilaporkan RRI dan Bangsaku.co.

Kelompok Waliko dan Ruang Partisipasi Penyandang Disabilitas

Yang membuat pendampingan di Pekaloa berbeda adalah komposisi anggotanya. Kelompok Waliko beranggotakan lima orang penyandang disabilitas, dengan dua anggota di antaranya memiliki disabilitas fisik. Kelompok ini merupakan kelompok binaan dalam program kolaborasi tersebut.

Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa penerapan hasil riset peternakan dapat membuka ruang partisipasi ekonomi yang lebih luas, termasuk bagi warga yang menghadapi keterbatasan akses terhadap kesempatan usaha. Dalam keterangannya, Prof Syahdar menilai karakter kelompok ini justru menjadi alasan pentingnya pendampingan yang lebih serius.

“Mereka adalah penyandang disabilitas, tetapi tetap memiliki kemampuan untuk menjalankan kegiatan produktif. Tugas kita adalah memberikan akses, pengetahuan, dan pendampingan agar potensi tersebut dapat berkembang,” tuturnya.

Pendekatan seperti ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menempatkan penyandang disabilitas sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar penerima bantuan. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas mengatur hak atas pekerjaan, kewirausahaan, dan akses pelayanan publik, termasuk kuota kerja pada instansi pemerintah serta badan usaha.

Mengapa Hilirisasi Riset Peternakan Penting

Hilirisasi riset kerap berhenti di laporan akademik dan publikasi jurnal. Padahal nilai sebuah inovasi baru terasa ketika diterapkan di kandang peternak, diuji terhadap kondisi nyata, lalu diperbaiki berdasarkan umpan balik lapangan. Inilah yang coba dijembatani program Alope Unhas 1.

Dalam pendampingan di Pekaloa, tim tidak hanya memeriksa ternak. Mereka juga memberi penjelasan teknis mengenai pemeliharaan, pengelolaan pakan, kesehatan ternak, dan pencatatan perkembangan ayam. Tujuannya agar kelompok mampu mengelola budidaya secara mandiri setelah pendampingan berakhir.

“Kami ingin kelompok memiliki kemampuan untuk mengelola budidaya secara mandiri. Karena itu, yang kami berikan bukan hanya pendampingan terhadap ternaknya, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang dapat mereka gunakan dalam menjalankan usaha,” ujar Prof Syahdar.

Bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, cara pandang ini penting. Usaha peternakan skala rumah tangga hidup dari kedisiplinan harian: pakan terjadwal, kandang bersih, dan catatan produksi yang rapi. Tanpa pencatatan, peternak sulit mengetahui apakah usahanya untung atau hanya berputar di titik yang sama.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga