Perayaan Hari Literasi Internasional di Kabupaten Luwu Timur tahun 2026 berlangsung dengan konsep yang jarang ditemui. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Lutim menghadirkan pengalaman membaca lewat manusia dalam kegiatan The Human Library: “Bagaimana Jika Buku Bisa Berbicara?”. Acara digelar di Gedung Perpustakaan, Malili, pada Selasa malam, 8 September 2026. Konsep itu membuat pesertanya bukan sekadar pendengar ceramah.
Dalam format ini, narasumber berperan sebagai “buku hidup” yang bisa diajak berdialog. Peserta memilih “buku” yang ingin mereka ajak berbincang, sama seperti memilih judul di rak perpustakaan. Bedanya, isi “buku” itu disampaikan lewat percakapan langsung. Pendekatan tersebut membuat kegiatan literasi terasa lebih hidup.
Viral Luwu Timur: Konsep Buku Bisa Berbicara Curi Perhatian
Gagasan “buku bisa berbicara” menjadi daya tarik utama kegiatan malam itu. Sejumlah peserta mengaku baru pertama kali mengikuti format literasi seperti ini. Rasa penasaran itulah yang membuat acara berlangsung hingga malam. Konsep yang tidak biasa sering kali lebih mudah diingat peserta dibanding kegiatan seremonial.
DPK Lutim menilai konsep Human Library menjadi salah satu bentuk inovasi dalam mengembangkan budaya literasi. Inovasi itu tidak berhenti pada penyediaan koleksi buku di rak. Dinas mendorong agar pengalaman warga ikut menjadi bahan belajar bersama. Dengan begitu, perpustakaan tumbuh sebagai ruang sosial, bukan hanya ruang baca.
Bagaimana Cara “Meminjam” Buku Hidup
Alurnya sederhana. Peserta memilih human book yang ingin diajak berdialog, lalu duduk berhadapan dalam kelompok kecil. Percakapan berlangsung dua arah, sehingga peserta bisa bertanya sedetail mungkin. Sesi biasanya dibatasi waktu agar setiap kelompok mendapat kesempatan berbincang.
Model semacam ini menuntut peserta aktif merumuskan pertanyaan. Mereka tidak bisa sekadar menunggu materi disampaikan dari panggung. Keterampilan bertanya inilah yang dinilai membantu menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis. Keterampilan tersebut juga berguna saat warga menilai informasi di media sosial.
Para Human Books: dari Pustakawan sampai Pekerja Sosial
Narasumber yang hadir berasal dari beragam latar belakang. Mereka antara lain penggerak literasi, pustakawan, penulis, jurnalis, arsiparis, guru, hingga pekerja sosial. Keberagaman itu membuat pilihan “judul buku” cukup banyak bagi peserta. Setiap narasumber membawa pengalaman yang khas dari bidangnya.
Seorang pustakawan, misalnya, dapat bercerita tentang keseharian mengelola koleksi dan melayani pengunjung. Penulis berbagi pengalaman menyusun gagasan menjadi tulisan yang bisa dibaca orang lain. Pekerja sosial membawa sudut pandang tentang persoalan warga di lapangan. Kombinasi cerita itu memberi gambaran luas tentang dunia kerja sekaligus kehidupan sosial.
Kisah Nyata sebagai Bahan Belajar
Peserta mengaku memperoleh perspektif baru dari pengalaman nyata para narasumber. Cerita tentang jatuh bangun menjalani suatu profesi sering tidak ditemukan di buku teks. Hal itu memberi gambaran realistis tentang tantangan dan peluang di dunia kerja. Bagi pelajar, paparan semacam ini bisa membantu menyusun rencana setelah lulus sekolah.
Selain itu, dialog langsung melatih kemampuan mendengarkan secara utuh. Peserta belajar menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan orang lain. Kebiasaan itu penting dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai semacam ini jarang menjadi bahan pengajaran formal di sekolah.
Kata Kadis DPK Lutim soal Literasi
Kepala DPK Lutim, Muhammad Syukri, membuka langsung kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa Human Library merupakan salah satu bentuk inovasi dalam mengembangkan budaya literasi. Menurutnya, peserta memperoleh kesempatan belajar langsung dari pengalaman orang lain. Hal itu membuat kegiatan terasa lebih bermakna.
“Literasi bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan memahami dan mengolah informasi, berpikir kritis, mengambil keputusan, serta belajar dari berbagai pengalaman kehidupan,” kata Muhammad Syukri.
Ia juga berpesan agar peserta tidak berhenti pada posisi pendengar. Peserta diajak menjadi pembelajar yang aktif selama kegiatan berlangsung. Pesan itu disampaikan di hadapan Duta Literasi Sekolah, pelajar, pegiat literasi, komunitas Forum Anak, dan tenaga pendidik.