Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Tambang nasional kembali menjadi perhatian pasar setelah harga batu bara bertahan di level tinggi, tepatnya US$150,5 per ton pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026). Angka itu naik tipis 0,03 persen dibandingkan hari sebelumnya dan memutus pelemahan dua hari beruntun.
Kenaikan membuat harga batu bara menguat 0,64 persen sepanjang pekan lalu. Penguatan tersebut memperpanjang tren positif selama tiga pekan beruntun. Harga sempat menyentuh US$152,95 per ton pada Selasa pekan sebelumnya, posisi tertinggi dalam sebulan.
Data itu dirujuk dari Refinitiv dan dilaporkan CNBC Indonesia. Pergerakan harga batu bara kali ini tidak berdiri sendiri karena berkaitan dengan pasokan dari Indonesia, harga minyak, dan kebutuhan energi menjelang musim dingin di belahan utara.
Tambang Nasional: Pendorong Harga Batu Bara
Sejumlah faktor disebut menopang harga. Pertama, harga minyak yang masih tinggi membuat biaya energi alternatif ikut terangkat. Kedua, persoalan pasokan dari Indonesia membuat pembeli mencari kepastian kontrak lebih awal.
Ketiga, potensi kenaikan permintaan menjelang musim dingin mendorong negara importir menambah stok. Analis memperkirakan permintaan global bisa mencapai rekor pada 2026, terutama karena pembangkit listrik berbahan bakar gas menghadapi kendala pasokan.
Ekspor Indonesia Turun Tajam
Dari sisi pasokan, Badan Pusat Statistik mencatat volume ekspor batu bara Indonesia pada Januari sampai Agustus 2026 turun 9,33 persen menjadi 227,7 juta ton. Laporan Kpler menyebut ekspor Agustus 2026 hanya 36,1 juta ton, atau anjlok 25,3 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.
Penyebab utamanya bukan semata permintaan yang lemah. Kekeringan dan pendangkalan sungai, terutama Sungai Barito di Kalimantan Tengah, menghambat pengangkutan dari tambang ke kapal. Ketidakpastian kebijakan produksi, termasuk pemangkasan target produksi nasional dan penyesuaian kuota, menambah tekanan pada pasokan.
Indonesia adalah eksportir batu bara termal terbesar di dunia. Karena itu, gangguan pengiriman dari dalam negeri cepat terasa di pasar global. Pembeli di Asia biasanya menjadi yang paling dulu merasakan dampaknya.
Permintaan Global Diperkirakan Rekor
BRI Danareksa Sekuritas menilai permintaan batu bara global berpotensi mencapai rekor tertinggi tahun ini. Salah satu pemicunya adalah gangguan pasokan gas yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz yang mengerek harga gas alam cair.
Negara seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, dan sebagian negara Eropa berpotensi menambah konsumsi batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik. Riset tersebut menyebut kondisi ini berpotensi menjaga harga batu bara tetap tinggi selama pasokan terbatas.
Badan Energi Internasional sebelumnya memperkirakan konsumsi batu bara global naik 1,2 persen menjadi 8,94 miliar ton pada 2026. Proyeksi itu membalik perkiraan sebelumnya yang menyebut konsumsi menurun.
Daya Saing Batu Bara Dibandingkan LNG
Selisih harga menjadi faktor penting. Harga batu bara termal Australia dari Newcastle tercatat sekitar US$143 per ton, setara US$5,40 per juta British thermal units. Sebagai pembanding, harga LNG yang dikirim ke Asia berada di kisaran US$25 per juta British thermal units.
Artinya, batu bara berkualitas tinggi berada sekitar US$20 per juta British thermal units lebih murah daripada LNG di pasar energi utama Asia. Diskon itu disebut yang terlebar dalam empat tahun terakhir.
Kondisi tersebut membuat pembangkit listrik berbasis batu bara kembali menjadi opsi paling ekonomis. Ekspor batu bara termal global diperkirakan masih terkontraksi tahun ini, tetapi arusnya berpotensi berbalik pada akhir 2026 bila selisih harga tetap lebar.


