Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Berita viral tentang Sekolah Dasar Negeri Mboeng di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, belum selesai setelah pemerintah menyatakan siap melakukan revitalisasi. ANTARA melaporkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyiapkan perbaikan SDN Mboeng dan 1.487 sekolah lain di NTT dengan anggaran mencapai Rp1,2 triliun. DetikBali menyorot kondisi sekolah berdinding bambu yang disebut lama tak tersentuh renovasi.
Berita Viral: Apa yang Diketahui
Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen, Moch Salim Somad, menyatakan pihak kementerian sudah turun langsung melihat kondisi sekolah. Pemerintah menyebut perbaikan menyasar ruang kelas rusak berat dan ruang belajar darurat.
ANTARA mencatat dua ruang kelas mengalami kerusakan berat sehingga tidak bisa dipakai optimal. Keterbatasan ruang membuat sekolah masih menggunakan empat ruang kelas darurat.
Sebagian ruang belajar disebut dibangun dari swadaya orang tua siswa. Fakta itu memperlihatkan bagaimana komunitas sekolah bertahan ketika fasilitas formal belum memadai.
DetikBali melaporkan sekolah tersebut berdiri sejak 2008 dan lama tidak tersentuh renovasi. Bangunan berdinding bambu dan keterbatasan listrik menjadi sorotan warganet.
Sorotan publik membesar karena sekolah diketahui menerima perangkat digital berupa papan interaktif. Kontras antara perangkat pintar dan kondisi bangunan inilah yang membuat isu menyebar luas.
Salim menjelaskan perbaikan menyasar bagian bangunan yang rusak berat maupun ruang belajar yang selama ini memakai bangunan darurat. Ia menegaskan kementerian sudah turun ke lokasi.
Kemendikdasmen menyebut revitalisasi di NTT tidak hanya menyasar SDN Mboeng. Cakupan program pada 2026 lebih besar dibanding tahun sebelumnya, dengan anggaran mencapai Rp1,2 triliun.
Sekolah tersebut berada di Desa Kaju Wangi, Kabupaten Manggarai Timur. DetikBali menyebut bangunannya berdiri sejak 2008 dan selama bertahun-tahun tidak tersentuh renovasi.
Program revitalisasi di Nusa Tenggara Timur menyasar 1.487 sekolah pada 2026 dengan anggaran Rp1,2 triliun. Cakupan itu menunjukkan skala persoalan sarana pendidikan di provinsi tersebut.
Presiden menargetkan revitalisasi satuan pendidikan selesai pada 2029. Target itu menjadi acuan lintas kementerian dan pemerintah daerah dalam menyusun prioritas perbaikan.
Konteks dan Dampak bagi Publik
Pada 2025, tercatat 580 satuan pendidikan menjadi sasaran revitalisasi di provinsi tersebut. Angka itu menunjukkan persoalan sarana sekolah di NTT berskala luas, bukan kasus tunggal.
Presiden menargetkan revitalisasi satuan pendidikan selesai pada 2029. Target itu menjadikan perbaikan sekolah sebagai agenda lintas tahun yang harus diawasi secara konsisten.
Kasus ini menjadi contoh penting bahwa transformasi digital pendidikan tidak boleh melompati kebutuhan dasar. Papan pintar tidak banyak berarti bila ruang kelas tidak aman dan listrik belum siap.
Pemerintah perlu memastikan urutan kebijakan masuk akal: bangunan layak, listrik, jaringan internet, pelatihan guru, baru perangkat digital. Bila urutannya terbalik, bantuan justru tampak seperti simbol tanpa fungsi.
Di daerah terpencil, sekolah sering menjadi pusat harapan warga. Ketika bangunan rusak viral, yang dipertaruhkan bukan hanya citra pemerintah, tetapi rasa aman anak saat belajar setiap hari.
Kontras semacam ini juga menyentuh rasa keadilan. Warga melihat anggaran besar mengalir untuk perangkat, sementara dinding kelas tetap tidak layak. Komunikasi kebijakan harus menjelaskan alasan dan tahapannya.
Revitalisasi sekolah harus diawasi agar tidak berhenti pada kunjungan dan pernyataan. Publik perlu tahu kapan pekerjaan dimulai, ruang mana yang dibangun, dan bagaimana mutu konstruksinya dinilai.
Kasus ini menyoroti pentingnya urutan pembangunan. Perangkat digital sebaiknya datang setelah ruang kelas layak, listrik tersedia, dan guru mendapat pendampingan penggunaan teknologi.
Kualitas guru dan ketersediaan bahan ajar tetap menjadi faktor utama mutu pendidikan. Perbaikan bangunan tidak otomatis meningkatkan hasil belajar tanpa dukungan tenaga pendidik.
Kesenjangan antarwilayah juga terlihat dari kondisi sekolah. Perhatian publik sering baru muncul setelah kasus viral, padahal banyak sekolah lain menghadapi kondisi serupa tanpa sorotan.


