Viral hari ini di media sosial adalah kabut asap dan api yang menyala di permukiman Desa Serdang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Kebakaran lahan dan hutan yang menyebar ke kawasan padat penduduk itu menghancurkan 305 rumah. Ratusan warga terpaksa mengungsi ke bangunan sekolah dan masjid terdekat.
Viral Hari Ini: 305 Rumah Hancur di Bangka Selatan
Badan penanggulangan bencana daerah setempat menyebut kebakaran dimulai pada Sabtu sore, 10 Oktober 2026, dan berlanjut hingga Minggu malam. Api awalnya membakar lahan kosong di sekitar permukiman sebelum akhirnya merambat ke rumah warga.
Sebanyak 305 rumah dilaporkan hancur total. Setidaknya 1.800 orang terdampak dan sekitar 500 orang mengungsi, menurut pernyataan badan penanggulangan bencana yang dikutip kantor berita Reuters. Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa ini.
Titik awal kebakaran berada di Desa Serdang, wilayah Bangka Selatan. Luas lahan yang terbakar di sekitar permukiman tercatat sekitar 8,3 hektare, namun dampaknya jauh lebih besar karena api masuk ke kawasan tempat tinggal.
Peristiwa ini tercatat sebagai kebakaran pertama pada 2026 yang merusak ratusan rumah di Indonesia. Rekaman video dan foto asap oranye di atas permukiman menyebar cepat di media sosial dan menjadi bahan pembicaraan warganet.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Kronologi dan Dugaan Penyebab
Warga pertama kali melihat api mendekati desa pada Sabtu. Mereka sempat berupaya memadamkan kobaran api dengan pompa air portabel. Menurut Bupati Bangka Selatan Riza Herdavid, warga mengira api sudah teratasi.
Nyatanya lahan di kawasan itu berupa gambut, sehingga masih ada bara yang membara di bawah permukaan. Ketika warga menganggap api padam, arah angin berubah dan dengan cepat mendorong api menuju permukiman, kata Riza kepada wartawan.
Ia menyebut desa tersebut dibangun di atas lahan yang dahulu merupakan gambut di kawasan lindung, lalu dialihfungsikan menjadi kompleks permukiman pada tahun sebelumnya. Pemerintah daerah belum merinci status perizinan lahan tersebut.
Salah satu warga yang selamat mengatakan rumahnya habis terbakar dan ia hanya bisa menyelamatkan diri bersama anak-anaknya. Warga lain menyebut angin kencang membuat api dengan cepat membakar rumah yang sebagian besar berbahan kayu.
Mengapa Api Sulit Dipadamkan
Badan penanggulangan bencana menyebut angin kencang, medan gambut, pasokan air terbatas, dan konstruksi rumah berbahan kayu membuat upaya pemadaman jauh lebih sulit. Bara di bawah gambut bisa bertahan lama meski permukaan sudah terlihat padam.
Kondisi cuaca memperberat situasi. Indonesia sedang menjalani musim kebakaran paling intens dalam 11 tahun akibat kemarau panjang yang diperkuat El Nino. Asapnya bahkan menimbulkan lonjakan polusi udara di Singapura dan Malaysia.
Pakar lingkungan juga menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Cara itu mengubah penting alam Sumatra dan Kalimantan yang semula lebih tahan api menjadi lebih mudah terbakar.
Pengungsian dan Bantuan bagi Warga
Sejumlah warga mengungsi ke sekolah dan masjid terdekat. Badan penanggulangan bencana mendirikan tenda pengungsian dan dapur umum, lalu menyalurkan makanan, air bersih, dan pakaian bagi warga terdampak.
Pemerintah daerah mencatat hampir 1.000 warga meninggalkan desa tersebut, menurut laporan kantor berita AFP. Angka itu berbeda dari keterangan awal badan penanggulangan bencana yang menyebut sekitar 500 orang mengungsi, sehingga jumlah final masih dapat diperbarui.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menginstruksikan mobilisasi maksimal untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut lebih dari 60.000 personel dikerahkan untuk operasi pemadaman di lapangan.


