Kamis, 22 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Nasional: Proyeksi Nikel 2026 jadi Surplus

14 Oktober 2026 • zul • 9 kali dibaca
Kawasan penambangan bijih nikel di Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara
Foto: Marwan Mohamad via Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)
ASM Group
Iklan

Tambang nasional kembali menjadi perhatian setelah International Nickel Study Group (INSG) mengubah proyeksi pasar nikel dunia 2026 dari defisit menjadi surplus. Lembaga antarpemerintah yang berbasis di Lisbon itu memperkirakan surplus 19.000 ton pada 2026. Revisi tersebut diumumkan setelah dua hari pertemuan pemerintah dan industri di Portugal pada 13 Oktober 2026.

Tambang Nasional: Surplus 19.000 Ton pada 2026

INSG memperkirakan permintaan nikel primer dunia mencapai sekitar 3,85 juta ton pada 2026, naik 7,6 persen dari tahun sebelumnya. Sementara produksi diproyeksikan 3,87 juta ton, sehingga pasar berakhir dalam surplus tipis 19.000 ton.

Angka itu berbalik dari proyeksi April 2026 yang memprediksi defisit 32.000 ton. Defisit tersebut, bila benar terjadi, akan menjadi kekurangan pasokan tahunan pertama sejak 2021. Proyeksi lama menyebut produksi 3,715 juta ton dan permintaan 3,747 juta ton.

Untuk 2027, INSG memperkirakan surplus melebar menjadi 70.000 ton dengan permintaan 4 juta ton dan produksi 4,07 juta ton. Proyeksi itu mencerminkan asumsi bahwa pasokan dari Indonesia dan negara produsen lain tetap tumbuh mengikuti permintaan.

Tata Atur
Iklan

Skenario sebaliknya datang dari kalangan industri. Forum Industri Nikel Indonesia memperkirakan utilisasi smelter bisa turun ke 70 sampai 75 persen, dari sebelumnya sekitar 90 persen, bila pasokan bijih mengetat dan permintaan logam melemah.

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Harga LME yang Tertekan

Tekanan harga sudah terlihat pada data pasar. Harga nikel tunai di London Metal Exchange rata-rata 15.508 dolar Amerika Serikat per ton pada 1 sampai 12 Oktober 2026. Angka itu 17,5 persen di bawah rata-rata Mei yang mencapai 18.805 dolar Amerika Serikat per ton.

Harga patokan mineral nikel Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga turun. HMA paruh pertama Oktober 2026 dipatok 16.322,67 dolar Amerika Serikat per ton, turun 2,25 persen dari 16.698 dolar Amerika Serikat per ton pada paruh kedua September.

Penurunan itu diikuti melemahnya harga bijih nikel dan premi bijih. Sejumlah transaksi bijih saprolit bahkan berlangsung di bawah HPM, tanda bahwa posisi tawar penambang melemah karena pasokan bijih yang lebih longgar.

Kuota RKAB dan Impor Bijih dari Filipina

Indonesia menetapkan kuota produksi bijih nikel 2026 melalui RKAB sebesar 260 sampai 270 juta ton. Angka itu di bawah kebutuhan smelter yang diperkirakan 340 sampai 350 juta ton, sehingga sebagian kekurangan ditutup dengan bijih impor.

Impor bijih dari Filipina meningkat tajam. Data yang dirujuk analisis pasar menyebut impor bijih nikel Filipina ke Indonesia menembus 8,57 juta ton pada semester pertama, naik sekitar 65 persen, dengan kawasan Weda menyerap 60,7 persen.

Pemerintah juga membahas pembatasan pengembangan smelter yang memproduksi produk setengah jadi. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyebut opsi moratorium sebagai respons atas surplus global yang menekan harga.

Apa Artinya bagi Industri Indonesia

Surplus global berarti tekanan harga nikel berpotensi bertahan lebih lama. Bagi industri dalam negeri, kondisi itu menguji efisiensi biaya dan kesiapan menyerap bijih bermutu lebih rendah seperti limonit.

Di sisi lain, harga yang rendah memberi ruang bagi smelter untuk menekan biaya bahan baku. Persoalannya, pasokan bijih domestik terbatas karena kuota, sehingga biaya impor dan logistik menjadi faktor penentu margin.

Kebijakan hilirisasi tetap menjadi variabel utama. Pemerintah ingin mendorong produk jadi bernilai tambah lebih tinggi, sementara realisasi jangka pendek masih bergantung pada produk setengah jadi seperti nikel pig iron dan feronikel.

Proyeksi jangka panjang sejumlah lembaga riset berbeda arah. Ada yang memperkirakan pasar tetap surplus sampai 2029 sebelum berbalik defisit pada 2030, sehingga pelaku industri perlu membaca setiap revisi data secara hati-hati.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga