SUARALUTIM.COM, MALILI — Luwu Timur punya nahkoda baru untuk organisasi kepemudaan Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI). Bangkit Revormansyah resmi dilantik sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah AMPI Kabupaten Luwu Timur untuk periode 2026–2031.
Pelantikan itu berlangsung dalam Musyawarah Daerah (Musda) III AMPI Luwu Timur di Wisma Golden, Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Agenda ini bukan sekadar seremonial pergantian pengurus, karena langsung menentukan arah kerja organisasi kepemudaan tersebut selama lima tahun ke depan.
Luwu Timur dan Regenerasi Kader Muda
Yang melantik langsung adalah Ketua DPD AMPI Sulawesi Selatan, Andi Nurhaldin Nurdin Halid. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa AMPI tidak boleh terjebak hanya pada urusan politik praktis.
“AMPI ini dibentuk bukan hanya berfokus ke partai, tetapi untuk merangkul anak muda agar punya karya, lebih aktif, dan memiliki kegiatan rutin setiap minggunya. Kami ingin AMPI menjadi wadah kaderisasi dan pemuda yang produktif,” kata Nurhaldin.
Ia juga menaruh harapan besar kepada Bangkit untuk membawa AMPI Luwu Timur lebih maju, sekaligus merangkul kembali kader-kader muda yang sempat menjauh dari organisasi. Dalam kesempatan itu ia menyebut bahwa AMPI akan diarahkan kembali sebagai ruang kaderisasi, bukan sekadar kendaraan menjelang agenda elektoral.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Siapa Bangkit Revormansyah
Nama Bangkit Revormansyah Pratama bukan nama baru di peta kepemudaan dan politik Luwu Timur. Berdasarkan susunan lima fraksi DPRD Kabupaten Luwu Timur masa jabatan 2024–2029 yang dipublikasikan sejumlah media, nama Bangkit Revormansyah Pratama, S.Ked tercatat sebagai Sekretaris Fraksi Golkar di DPRD Kabupaten Luwu Timur.
Artinya, ia sudah terbiasa bekerja di ruang legislatif sebelum dipercaya memimpin organisasi kepemudaan. Kombinasi pengalaman parlemen dan kepemudaan ini yang dinilai relevan: seorang ketua organisasi pemuda idealnya memahami dua hal sekaligus, yaitu cara menggerakkan orang di akar rumput dan cara membaca kebijakan publik.
Dalam pelantikan tersebut, AMPI Sulawesi Selatan menekankan pentingnya kegiatan rutin. Pesan itu penting karena banyak organisasi kepemudaan di daerah menggelembung menjelang pesta demokrasi lalu surut setelahnya. Padahal, kerja kepemudaan yang berdampak biasanya lahir dari agenda kecil yang berjalan konsisten sepanjang tahun.
Kerja yang Bisa Diukur
Ada beberapa bidang yang wajar menjadi prioritas AMPI Luwu Timur jika ingin dilihat serius oleh warga, bukan hanya oleh pengurus partai.
- Kaderisasi berjenjang. Membentuk pengurus sampai tingkat kecamatan dan desa, lengkap dengan program pelatihan dasar organisasi.
- Kegiatan rutin mingguan atau bulanan. Seperti yang disebut Ketua DPD AMPI Sulawesi Selatan, agenda rutin adalah pembeda antara organisasi hidup dan organisasi yang hanya muncul di berita.
- Program keterampilan pemuda. Luwu Timur sedang bergerak ke arah industri dan jasa pendukung; organisasi kepemudaan bisa menjadi jembatan informasi soal pelatihan kerja dan sertifikasi kompetensi.
- Keterlibatan dalam isu desa. Mulai dari lingkungan, olahraga, hingga pendampingan usaha muda di tingkat desa.
Poin terakhir cukup strategis untuk Luwu Timur. Dengan wilayah yang membentang dari pesisir Wotu dan Burau sampai kecamatan pegunungan di Mangkutana, organisasi kepemudaan yang hanya berpusat di Malili akan sulit tumbuh. Pengurus cabang di tingkat kecamatan menjadi kunci.
Konteks Kepemudaan di Luwu Timur
Beberapa tahun terakhir, wajah kepemudaan Luwu Timur memang cukup hidup. Ada kegiatan olahraga daerah yang rutin digelar, ada even wisata yang dikelola karang taruna, dan ada pula organisasi pelajar serta mahasiswa yang aktif menyuarakan isu lokal. Di tahun 2026, sejumlah pemuda Luwu Timur juga mencatat prestasi di forum nasional maupun internasional.
Kondisi itu memberi AMPI Luwu Timur ruang untuk bergerak tanpa harus memulai dari nol. Namun sekaligus menjadi tantangan: organisasi baru harus menawarkan sesuatu yang belum ada. Kalau programnya hanya mengulang agenda organisasi lain, pemuda akan sulit tertarik.
Karena itu, arah yang disebut dalam Musda III — merangkul kembali kader yang menjauh dan membuat kegiatan rutin setiap minggu — layak dilihat sebagai upaya membangun kembali kebiasaan berorganisasi. Yang menentukan bukan slogan, melainkan apakah lima tahun kemudian ada kader muda Luwu Timur yang lahir dari proses ini.


