Tambang nasional kembali jadi sorotan setelah harga batu bara termal acuan China menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun. Harga batu bara acuan pembangkit listrik China menembus 1.004 yuan atau sekitar 150 dolar Amerika Serikat per ton pada Senin, 12 Oktober 2026. Angka itu menjadi yang pertama kali mencapai empat digit dalam dua tahun terakhir.
Tambang Nasional: Harga Batu Bara China Tembus 1.004 Yuan
Data itu berasal dari asosiasi pemantau batu bara China, China Coal Transportation and Distribution Association. Kenaikan tercatat sekitar 25 persen sejak pertengahan Juli 2026. Pasar energi global ikut memanas karena konflik di Timur Tengah menaikkan harga bahan bakar lain.
Batu bara masih menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik di China. Porsinya sekitar separuh bauran listrik negara itu meski pembangunan energi terbarukan berjalan cepat. Ketergantungan itu membuat setiap gangguan pasokan langsung terasa pada harga.
Kenaikan ini tidak berdiri sendiri. Harga gas alam cair juga melonjak setelah produksi Qatar terhambat di Selat Hormuz. Negara pengimpor memilih batu bara yang jauh lebih murah untuk kebutuhan musim dingin.
Bagi Indonesia, pergerakan harga itu punya arti ganda. Sebagai pengekspor batu bara termal terbesar dunia, harga tinggi menaikkan nilai ekspor. Namun pasokan yang menyusut juga mengurangi volume yang bisa dijual.
Produksi Domestik China Ikut Menyusut
Produksi batu bara China tercatat turun lebih dari tiga persen pada Januari sampai Agustus 2026 dibanding periode sama tahun lalu. Penyebabnya penguatan pengawasan keselamatan setelah kecelakaan tambang maut di Provinsi Shanxi pada Mei. Sejumlah tambang diperintahkan menghentikan aktivitas sementara.
Pasar semula berharap pasokan dari Shanxi pulih sekitar 31 juta ton per tahun hingga akhir 2026. Harapan itu belum terwujud karena persetujuan izin operasi kembali melambat. Pemerintah diperkirakan tetap berhati-hati menjelang pertemuan besar partai pada Oktober.
Perawatan jalur kereta pengangkut batu bara utama China juga berlangsung tiga pekan sampai 26 Oktober. Perawatan itu membatasi pengiriman dari wilayah tambang ke pelabuhan. Kombinasi faktor ini menahan harga tetap tinggi.
Kondisi itu membuat pembeli batu bara China mencari pasokan tambahan dari luar negeri. Namun pilihan pemasok besar tidak banyak. Indonesia, Australia, dan Rusia menjadi sumber utama impor batu bara termal mereka.
Pasokan dari Indonesia Turun Tajam
Indonesia adalah pemasok batu bara termal utama bagi China. Pengiriman dari Indonesia turun tajam sepanjang 2026 karena Jakarta membatasi produksi. Tujuannya menopang harga dan menaikkan penerimaan negara.
Data pasar mencatat ekspor batu bara Indonesia pada Agustus turun sekitar 23 persen. Badan Energi Internasional atau IEA memproyeksi produksi batu bara Indonesia berkurang lebih dari 12 juta ton tahun ini. Penyebabnya kuota produksi yang lebih rendah dan ketidakpastian kebijakan.
Impor batu bara China pada September tercatat 43,37 juta ton atau turun sekitar enam persen dibanding September tahun lalu. Meski volume turun, harga impor rata-ratanya naik ke level tertinggi sejak 2024. Artinya China membayar lebih mahal untuk jumlah yang lebih sedikit.
Kebijakan dalam negeri Indonesia memang diarahkan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan kuota produksi lebih rendah dibanding realisasi tahun sebelumnya. Penerimaan negara bukan pajak dari sektor ini diklaim tetap meningkat.
Baca juga: Tambang Nasional: HBA Batu Bara Oktober Mayoritas Turun
Kekeringan El Nino Ganggu Tongkang Batu Bara
El Nino menambah persoalan dari sisi logistik. Muka air sungai di sejumlah daerah tambang utama turun drastis. Operator tongkang terpaksa mengurangi muatan agar kapal tidak kandas.
Sungai menjadi jalur utama mengangkut batu bara dari tambang ke pelabuhan di Kalimantan dan Sumatra. Bila muatan dikurangi, jumlah pengiriman per perjalanan ikut turun. Biaya logistik per ton pun naik.
Pengusaha pelayaran menyebut pendangkalan terjadi di beberapa titik kritis. Pengerukan tidak selalu bisa mengikuti penurunan muka air yang cepat. Kondisi itu membuat jadwal pengapalan kurang pasti.
Pemerintah menyiapkan penyesuaian agar kewajiban pasokan dalam negeri tetap terpenuhi. Kebutuhan pembangkit listrik domestik menjadi prioritas sebelum alokasi ekspor. Hal ini juga memengaruhi total volume yang tersedia untuk pasar China.


