SUARALUTIM.COM, MALILI — Sebanyak 152 dos susu disalurkan untuk anak taman kanak-kanak (TK) secara serentak di 11 kecamatan di Kabupaten Luwu Timur pada Jumat (16/10/2026). Bantuan itu berasal dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan disalurkan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Muslimat NU.
Berita Luwu Timur: Bantuan Susu Disalurkan di 11 Kecamatan
Penyaluran bantuan dilakukan serentak agar anak-anak penerima di berbagai kecamatan bisa memperoleh manfaat pada waktu yang hampir bersamaan. Cara itu juga memudahkan koordinasi antara pemerintah kabupaten, kecamatan, sekolah, dan organisasi masyarakat yang terlibat di lapangan.
Menurut Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan P3A, Ramlah, penyaluran tersebut merupakan hasil kerja sama dengan Muslimat NU. Ia berharap pembagian yang dilakukan di seluruh kecamatan membantu pemenuhan gizi dan tumbuh kembang anak penerima.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Ketua TP PKK Serahkan Bantuan di TK Pembina Malili
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Luwu Timur, dr Ani Nurbani Irwan, menyerahkan bantuan langsung kepada anak-anak di TK Pembina Malili. Ia mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk perhatian terhadap kesejahteraan anak sejak usia dini.
“Penyaluran ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi anak-anak penerima sekaligus memperkuat perhatian bersama terhadap pemenuhan hak anak,” ujarnya.
Acara itu dihadiri Ketua DWP Luwu Timur, Herni Ramadhan, Camat Malili, Hasimning, perwakilan Muslimat NU Luwu Timur, Ketua TP PKK Malili, jajaran pengurus TP PKK Luwu Timur, OPD terkait, kepala sekolah TK se-Luwu Timur, guru, orang tua, serta anak-anak penerima bantuan.
Gizi Anak Usia Dini dan Peran Orang Tua
Dalam kegiatan itu, pemerintah daerah mengajak seluruh pihak, khususnya orang tua, untuk terus memperhatikan asupan gizi seimbang, kesehatan, dan tumbuh kembang anak. Ajakan ini penting karena pola makan anak usia dini dibentuk di rumah, bukan hanya di sekolah.
Susu yang disalurkan merupakan bagian dari upaya pemenuhan gizi, bukan pengganti makan utama. Karena itu, pesan yang diinginkan pemerintah daerah adalah pola asuh yang utuh: makanan bergizi seimbang, pemantauan pertumbuhan, dan pemeriksaan kesehatan berkala bila diperlukan.
Lingkungan Ramah Anak di Sekolah dan Permukiman
Selain gizi, aspek lingkungan juga menjadi perhatian dalam penyaluran bantuan tersebut. Tenaga pendidik dan masyarakat diajak menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah anak, baik di sekolah maupun di permukiman.
Lingkungan ramah anak mencakup hal-hal sederhana: area bermain yang aman, sanitasi yang layak, ventilasi dan pencahayaan kelas yang memadai, serta kebiasaan hidup bersih. Untuk anak TK, kenyamanan ruang belajar berpengaruh besar pada motivasi mereka datang ke sekolah setiap hari.
Kolaborasi Pemerintah, Organisasi, dan Sekolah
Bantuan ini memperlihatkan pola kerja yang melibatkan banyak pihak. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyiapkan dukungan dari pusat, pemerintah kabupaten menyalurkan lewat Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sementara Muslimat NU membantu jangkauan ke sekolah-sekolah bersama TP PKK dan pemerintah kecamatan.
Kolaborasi semacam itu penting untuk layanan yang menyentuh warga langsung. Sekolah yang menjadi titik penyaluran sudah memiliki data anak, sehingga bantuan bisa diterima mereka yang memang membutuhkan tanpa proses pengusulan ulang yang panjang.
Mengapa Masa TK Menentukan
Usia taman kanak-kanak berada pada fase pertumbuhan yang pesat. Pada rentang ini anak membangun dasar kemampuan berbahasa, bersosialisasi, serta kebiasaan makan dan hidup bersih. Kekurangan gizi pada fase tersebut dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif, sehingga penanganannya tidak bisa ditunda sampai usia sekolah dasar.
Karena itu, intervensi di tingkat TK punya nilai jangka panjang. Sekolah menjadi titik pengamatan pertama terhadap kondisi anak, dan orang tua menjadi pelaksana di rumah. Ketika kedua pihak berjalan searah, hasil pembinaan jauh lebih terjaga.


