Berita Indonesia soal kabut asap karhutla kembali mencuat setelah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menembus angka 283.270 kasus. Kementerian Kesehatan menyampaikan angka itu dalam jumpa pers di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Rabu (14/10). Sebaran kasus tercatat di tujuh provinsi dan 63 kabupaten atau kota. Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbesar.
Berita Indonesia: Kemenkes Catat 283.270 Kasus ISPA
Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, menyebut angka kumulatif itu berasal dari pemantauan di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan. Rinciannya, 219.559 kasus terjadi pada penduduk berusia di atas lima tahun. Sebanyak 63.711 kasus sisanya menimpa anak berusia di bawah lima tahun. Angka tersebut dihimpun dari laporan fasilitas kesehatan di daerah.
Menurut Then, pertumbuhan kasus baru masih berlangsung sekitar 3.897 kasus per hari. Artinya, penambahan pasien belum berhenti meski sebagian daerah mulai diguyur hujan lokal. Pemerintah daerah diminta mempercepat layanan kesehatan bagi warga terdampak. Fokus utamanya adalah kelompok yang paling rentan terhadap paparan asap.
Kasus terbanyak dilaporkan dari Kalimantan Selatan dengan 74.636 kasus. Sumatera Selatan menyusul ketat dengan 74.458 kasus. Dua provinsi itu menjadi perhatian karena jumlah pasiennya nyaris berimbang. Data lengkapnya dirangkum dalam laporan yang dikutip Kompas dan Sindonews.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Sebaran Kasus dan Angka yang Masih Bergerak
Angka ISPA akibat karhutla bergerak cepat dari hari ke hari. Pada 12 Oktober, Kementerian Kesehatan mencatat 277.075 kasus di tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah itu, 62.400 kasus atau 22,5 persen dialami anak usia nol sampai lima tahun. Rincian versi itu disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, seperti dikutip Metrotvnews.
Kementerian Kesehatan juga mencatat 12 daerah masuk kategori berbahaya berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara. Wilayah itu tersebar di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Jambi, Sumatera Selatan, dan Riau. Di Kalimantan Barat, penderita ISPA tercatat menembus 165.747 kasus sejak awal tahun hingga awal Agustus. Catatan resmi itu dirangkum dalam laman Kemenkes.
Pemicu Utama: Partikel Halus PM2.5
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan sejumlah zat berbahaya lain. Kandungan itu meliputi karbon monoksida, nitrogen dioksida, hingga senyawa organik beracun. Partikel berukuran sangat kecil itu dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Dampaknya muncul sebagai batuk, sesak napas, pilek, dan radang tenggorokan.
Paparan berulang juga memperburuk penyakit paru kronis dan asma. Menurut Kemenkes, gejala berat perlu ditangani di fasilitas kesehatan, bukan sekadar dengan obat warung. Penderita yang mengalami napas cepat atau sulit menyusu harus segera diperiksa. Penanganan cepat mencegah komplikasi yang lebih serius.
Kelompok Rentan Paling Terdampak
Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis berada di kelompok paling rentan. Sistem pernapasan mereka belum atau sudah tidak sekuat orang dewasa sehat. Kemenkes meminta fasilitas kesehatan memprioritaskan pelindungan ekstra bagi kelompok ini. Langkah itu dinilai paling menentukan dalam menekan angka kesakitan.
Untuk anak-anak, perlindungan terbaik adalah mengurangi paparan asap. Bayi dan balita sebaiknya tidak diandalkan pada masker, melainkan dijauhkan dari sumber asap. Jika terpaksa keluar rumah, orang dewasa dapat memakai respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat. Masker medis atau kain bisa dipakai berlapis untuk membantu penyaringan.
Respons Kemenkes dan Pemerintah Daerah
Kementerian Kesehatan memperkuat pemantauan penyakit di wilayah terdampak karhutla. Per 12 Oktober, pemerintah memobilisasi 2.106 tenaga medis dan kesehatan ke daerah. Dukungan logistik berupa lebih dari 2,8 juta masker juga didistribusikan pusat dan daerah. Langkah ini menyasar kabupaten dan kota dengan kasus tertinggi.
Fasilitas kesehatan diminta memastikan kesiapan layanan, termasuk stok obat dan alat pendukung. Pemerintah daerah juga didorong memanfaatkan bangunan publik sebagai ruang aman dari asap. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi kualitas udara setempat. Koordinasi melibatkan dinas kesehatan, BPBD, dan perangkat daerah lainnya.
Sejumlah pemerintah daerah sudah menempuh langkah lain, misalnya mengatur pembelajaran jarak jauh saat kabut asap pekat. Kebijakan itu diambil untuk melindungi anak sekolah dari paparan langsung. Namun, pelaksanaannya berbeda antardaerah karena kondisi asap tidak seragam. Kasus karhutla lintas batas juga membuat negara tetangga memperketat pengawasan, sebagaimana pernah dibahas dalam artikel SuaraLutim.


