Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Tambang Luwu Timur dan Target Ekspor Nikel US$45 Miliar

17 Oktober 2026 • Admin • 50 kali dibaca
ASM Group
Iklan

Luwu Timur — Pemerintah menargetkan nilai ekspor nikel Indonesia menembus US$45 miliar pada 2026, naik dari lebih US$40 miliar pada 2025. Target itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ketika membuka Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di Tangerang, Rabu (14/10/2026). Bagi tambang Luwu Timur, angka itu bukan sekadar panggung nasional: Sorowako adalah salah satu simpul produksi nikel tertua di Indonesia, dan kinerjanya ikut menentukan apakah janji nilai tambah itu benar-benar terwujud di daerah penghasil.

Lintasan nilai tambah dari bijih mentah ke produk olahan

Dalam paparannya, Bahlil memaparkan lintasan nilai ekspor nikel yang berubah cepat setelah pemerintah menghentikan ekspor bijih mentah dan mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri. Pada 2017–2018 nilainya sekitar US$3,3 miliar, lalu melompat menjadi US$34 miliar pada 2023, dan melampaui US$40 miliar pada 2025.

Tahun Nilai ekspor nikel Keterangan
2017–2018 US$3,3 miliar Sebelum larangan ekspor bijih
2023 US$34 miliar Smelter dalam negeri beroperasi
2025 Lebih US$40 miliar Rekor nilai ekspor
2026 US$45 miliar Target pemerintah

Untuk 2026, pemerintah memasang target sedikitnya US$45 miliar, atau setara Rp807 triliun dengan kurs Rp17.940 per dolar AS. Angka itu menjadi bagian dari upaya memperbesar kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional, bukan lagi mengandalkan penjualan bahan mentah.

“Hilirisasi merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” kata Bahlil, dikutip RM.id, Kamis (15/10/2026).

Tata Atur
Iklan

Ia menegaskan manfaat hilirisasi tidak berhenti pada angka ekspor. Kebijakan itu disebut turut mendorong pertumbuhan industri pendukung, memperluas keterlibatan pengusaha nasional, meningkatkan penguasaan teknologi, serta membuka lapangan kerja. Klaim terakhir inilah yang paling sering ditagih daerah penghasil, termasuk Luwu Timur, karena nilai tambah yang besar di tingkat nasional belum tentu terasa di tingkat desa dan kecamatan.

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Peta jalan hilirisasi 2040 dan taruhan investasi US$618 miliar

Pemerintah memperluas pendekatan yang dipakai pada nikel ke sektor lain melalui peta jalan hilirisasi hingga 2040 dengan target investasi US$618 miliar. Cakupannya tidak terbatas pada mineral dan batu bara, tetapi juga minyak dan gas bumi, kehutanan, perikanan, hingga pertanian.

“Saya ingin menyampaikan bahwa master plan ke depan hilirisasi Indonesia pada tahun 2040 target kita mencapai 618 miliar USD,” ujar Bahlil dalam pembukaan TEI ke-41.

Bagi daerah penghasil, arah kebijakan ini punya dua sisi. Satu sisi, pengolahan di dalam negeri membuka pasar bagi jasa penunjang, logistik, hingga pasokan pangan dan akomodasi. Sisi lain, perluasan hilirisasi ke banyak sektor berarti persaingan memperebutkan tenaga kerja terampil, lahan, air, dan energi akan makin ketat — termasuk di kawasan Danau Matano, Mahalona, dan Towuti yang menjadi sumber air bagi industri di Sorowako.

Tambang Luwu Timur dalam hitungan nasional

Di Sorowako, PT Vale Indonesia menargetkan produksi nikel matte 67.645 ton pada 2026. Pada semester I 2026 realisasinya 29.773 ton, terdiri dari 13.620 ton pada triwulan I dan 16.153 ton pada triwulan II, atau naik sekitar 19 persen dibanding triwulan sebelumnya. Produksi sepanjang 2025 tercatat 72.027 ton.

Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Sorowako disetujui penuh, sehingga pemangkasan kuota nikel nasional tidak mengubah rencana produksi matte perseroan. Kepastian itu penting: bila pasokan bijih ke smelter terganggu, bukan hanya target ekspor yang goyah, tetapi juga penerimaan negara dan pendapatan daerah.

Selain matte, Sorowako menyiapkan proyek Sorowako Limonite (Sorlim) yang mengolah bijih limonit kadar rendah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP) melalui teknologi high pressure acid leaching (HPAL). Kapasitas rancangannya 60.000 ton MHP per tahun dengan kebutuhan limonit 11,5 juta wet metric ton per tahun pada kadar minimum 1,10 persen. Proyek ini menjadi ujian berikutnya bagi hilirisasi di Lutim, seperti dibahas dalam artikel Tambang Lutim: Sorowako Limonite Pacu Hilirisasi Nikel.

Ada satu catatan penting. Matte dan MHP sama-sama tergolong produk antara, jenis yang justru menjadi sasaran wacana pembatasan pengembangan smelter baru. Artinya, kenaikan nilai ekspor nasional belum otomatis menaikkan posisi Sorowako di rantai pasok global. Nilai tambah berikutnya — prekursor baterai, katoda, atau produk akhir lain — masih menjadi pekerjaan rumah bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga