Viral hari ini datang dari Jepang. Badan Meteorologi Jepang atau JMA mengeluarkan peringatan darurat gempa dengan estimasi magnitudo 9,9 pada Jumat, 16 Oktober 2026, lalu menariknya kembali delapan menit kemudian karena estimasi itu keliru. Gempa yang sebenarnya terjadi berkekuatan magnitudo 6,9 di dekat Semenanjung Kamchatka, Rusia.
Viral Hari Ini: Peringatan M9,9 Dibatalkan
Peringatan dikeluarkan pukul 12.40 waktu Jepang untuk wilayah yang sangat luas. Cakupannya meliputi Hokkaido, Tohoku, Kanto, Hokuriku, Koshin, Tokai, dan Kepulauan Izu.
Dalam peringatan itu, JMA memperkirakan guncangan dapat mencapai tingkat 7 pada skala intensitas seismik Jepang. Tingkat 7 adalah level tertinggi dan biasanya berkaitan dengan kerusakan sangat berat.
Menurut The Asahi Shimbun, peringatan tersebut merupakan peringatan darurat gempa pertama dalam sejarah Jepang yang ditarik kembali. JMA menyebut kejadian ini sebagai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Alarm berbunyi di ponsel warga, pengeras suara pemerintah daerah menyala, dan stasiun televisi menyiarkan imbauan agar warga mencari perlindungan. Namun tanah tidak berguncang seperti yang diperkirakan.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Delapan Menit yang Mengejutkan Warga
Peringatan berlaku sekitar delapan menit sebelum dicabut pukul 12.48. Bagi warga, rentang waktu itu cukup untuk memicu kepanikan di sekolah, kantor, dan ruang publik.
Sejumlah warga mengaku langsung berlindung di bawah meja dan keluar dari bangunan. Pengelola transportasi umum menghentikan layanan sementara sebagai prosedur keselamatan.
BNO News melaporkan peringatan keliru itu memperkirakan guncangan kuat di sebagian besar wilayah Jepang. Notifikasi darurat muncul di ponsel warga, sementara stasiun televisi menayangkan peringatan secara terus menerus.
Menurut The Japan Times, JMA menyatakan pembatalan dilakukan karena guncangan maksimum yang teramati hanya tingkat 2 atau lebih rendah. Kebijakan itu juga berlaku bila guncangan ditentukan berasal dari peristiwa selain gempa.
JMA mengirim alarm kedua untuk membatalkan peringatan pertama. Sistem peringatan darurat memang dirancang mengirim pembatalan agar warga tidak bertahan di lokasi evakuasi lebih lama dari yang diperlukan.
Gempa Sebenarnya di Semenanjung Kamchatka
Gempa sesungguhnya terjadi pukul 12.38 waktu Jepang, dua menit sebelum peringatan dikeluarkan. Pusatnya berada di dekat Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada kedalaman sekitar 160 kilometer.
Kekuatan gempa itu tercatat magnitudo 6,9. JMA semula menempatkan pusat gempa di dekat Kepulauan Chishima, yang juga dikenal sebagai Kepulauan Kuril, di lepas pantai Hokkaido.
Kesalahan penentuan pusat gempa itulah yang membuat estimasi magnitudo membesar. Gempa dalam di wilayah yang salah dapat membuat algoritma sistem membaca energi yang jauh lebih besar dari kenyataan.
Guncangan terkuat yang tercatat hanya tingkat 1 di Hakodate, Hokkaido bagian barat daya. Tingkat 1 berarti guncangan dirasakan sebagian orang di dalam ruangan, tetapi tidak menimbulkan kerusakan.
Bagaimana Sistem Bisa Keliru
JMA menjelaskan sistem komputer keliru menentukan titik pusat gempa. Akibatnya, estimasi magnitudo yang dikirim ke publik jauh melebihi nilai sebenarnya.
Menurut keterangan pejabat JMA, angka 9,9 adalah magnitudo tertinggi yang bisa dikirim sistem ke luar. Dengan kata lain, nilai itu kemungkinan merupakan batas atas yang muncul ketika sistem menerima data yang tidak konsisten.
JMA menyatakan penyebab pasti kesalahan masih diselidiki. Lembaga itu membantah bahwa insiden disebabkan serangan siber.
Dalam sistem peringatan dini, data dari beberapa stasiun digabungkan untuk menghitung lokasi dan kekuatan gempa dalam hitungan detik. Bila satu parameter meleset, nilai lain bisa ikut membesar karena algoritma menyesuaikan perhitungan dengan asumsi pusat gempa yang salah.
Ayataka Ebita, manajer divisi pemantauan gempa dan tsunami JMA, mengatakan sistem menghasilkan perhitungan secara otomatis sehingga perubahan nilai tidak selalu bisa diamati secara langsung oleh petugas. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Tokyo.


