Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Lutim

Viral Luwu Timur: Kabut Asap, Kualitas Udara Malili 215

18 Oktober 2026 • Admin • 37 kali dibaca
Rapat lintas sektor krisis kesehatan di Luwu Timur membahas dampak kabut asap bagi warga
Gambar: Dok. Dinaskominfo Luwu Timur via Luwuraya.com, 15 Oktober 2026.
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Kabut asap pekat menyelimuti langit Luwu Timur dalam beberapa hari terakhir, dan kualitas udara di Malili memburuk drastis. Data pemantauan cuaca yang dikutip Penalutim.com mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) di Malili sempat menyentuh angka 215 dengan kategori sangat tidak sehat pada Rabu (14/10/2026), dengan suhu udara sekitar 29 derajat Celsius. Angka itu membuat isu viral luwu timur ini tidak lagi soal pemandangan, tetapi soal kesehatan warga.

Pegunungan yang biasanya terlihat gagah kini hilang di balik kabut. Matahari pagi pun tertahan. Warga mulai mengeluhkan sesak, batuk, dan gangguan jarak pandang, terutama saat mengantar anak ke sekolah pada pagi hari.

Viral Luwu Timur: Kabut Asap dan Angka AQI 215

Angka 215 masuk kategori sangat tidak sehat. Pada tingkat ini, dampak tidak hanya dirasakan kelompok rentan, tetapi juga orang dewasa yang sehat. Paparan berjam-jam di luar ruangan berpotensi menimbulkan sesak napas, nyeri dada, iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, batuk berkepanjangan, serta memperburuk asma dan gangguan jantung.

Kelompok yang paling perlu dilindungi adalah anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Anak-anak menghabiskan waktu lebih lama di luar ruangan, sementara lansia dan ibu hamil memiliki daya tahan yang lebih rendah terhadap paparan partikel asap.

Keluhan Warga Malili

Suminah, warga Desa Puncak Indah, Kecamatan Malili, mengaku mulai khawatir dengan kondisi beberapa hari terakhir. Ia semula mengira kabut hanya kabut pagi biasa, tetapi kabut tidak hilang hingga siang.

“Sudah berapa hari saya perhatikan ini kabut, saya kira kabut pagi, tapi kenapa sampai siang tidak hilang, jarak pandang kita jadi terganggu, kasihan anak-anak yang pergi sekolah, jangan sampai kita seperti di Kalimantan, banyak yang sesak napas, batuk,” kata Suminah, dikutip Penalutim.com.

Keluhan semacam itu wajar. Pada kondisi udara berasap, jarak pandang menurun dan kualitas udara di dalam ruangan juga bisa terpengaruh, terutama pada rumah yang ventilasinya terbuka sepanjang hari.

Dari Mana Asapnya Berasal

Menurut laporan yang sama, sumber utama kabut diduga kuat berasal dari kebakaran hutan dan lahan di beberapa titik, termasuk wilayah Towuti dan sekitar Padang Polisi, Desa Bantilang. Selain itu, terpantau asap kiriman dari kebakaran lahan di Kalimantan dan Papua melalui citra satelit Himawari-9.

Pola ini bukan hal baru di Luwu Timur. Sepanjang September hingga Oktober, laporan karhutla di sejumlah titik di Malili dan Towuti berulang muncul. SuaraLutim sebelumnya mencatat kebakaran lahan di kawasan Puncak Indah Malili yang berlangsung beberapa hari, serta kejadian di Towuti yang menghanguskan sekitar 10 hektare lahan.

Kombinasi asap lokal dan asap kiriman antarpulau membuat kualitas udara bisa tetap buruk meski kebakaran di sekitar permukiman sudah dipadamkan. Karena itu, warga disarankan memantau kondisi udara harian, bukan hanya melihat ada atau tidaknya api di sekitar rumah.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga