Berita politik internasional kembali diwarnai pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pidato kampanye pemilu sela, ia melontarkan lelucon soal popularitas nama Mohammad saat mengejek kepresidenan Iran. Lelucon itu memicu reaksi keras dari sejumlah kalangan, termasuk tokoh organisasi Islam di Indonesia.
Berita Politik: Muhammadiyah Sesalkan Lelucon Trump
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas, menyoroti lelucon yang dilontarkan Donald Trump soal nama Mohammad. Ia mengaku tidak bisa menerima cara presiden Amerika Serikat itu membawa nama tersebut ke panggung politik. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan dan dikutip detik.
“Jadi bagi Donald Trump, Islam dan Mohammad sama-sama menjadi bahan ejekan. Hal ini tentu jelas tidak bisa diterima oleh umat Islam karena hal demikian jelas-jelas merupakan sesuatu yang menyakitkan,” ujar Anwar Abbas.
Kritik itu menjadi salah satu respons paling tegas dari organisasi Islam Indonesia terhadap pidato Trump. Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia. Suara dari organisasi ini biasanya menjadi rujukan banyak warga di Tanah Air.
Isu ini masuk kategori berita politik yang ramai dibicarakan karena menyangkut hubungan antara retorika kampanye di Amerika Serikat dan sensitivitas umat beragama di negara lain. Pidato itu juga bersinggungan dengan kebijakan luar negeri Washington terhadap Iran.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Isi Pidato Trump di Dalton, Georgia
Lelucon itu disampaikan Trump dalam pidato kampanye di Dalton, Georgia, pada Jumat, 16 Oktober 2026. Acara berlangsung di sebuah hanggar di Bandara Kota Dalton. Trump berkampanye untuk kandidat Partai Republik menjelang pemilu sela pada 3 November.
“Anda tahu, jika Anda ragu dengan nama seseorang dari Timur Tengah, ucapkan saja Mohammad,” kata Trump, seperti dilansir Republika yang mengutip kantor berita Reuters.
“Anda mempunyai peluang sekitar 65 persen. Halo, Mohammad. Saya sudah melakukannya selama bertahun-tahun sekarang. Saya tidak pernah salah,” lanjutnya. Trump menyampaikan kalimat itu ketika membahas Iran.
Ia kemudian menyebut Iran sebagai satu-satunya negara yang tidak memiliki orang yang ingin menjadi presiden. Setelah itu, Trump berpura-pura bertanya kepada beberapa orang bernama Mohammad apakah mereka menginginkan jabatan tersebut. Menurut laporan CNN Indonesia, penonton yang hadir tidak menanggapi lelucon itu.
Respons Muhammadiyah dan Penilaian Anwar Abbas
Anwar Abbas menilai lelucon Trump bersifat merendahkan. Ia menduga pernyataan itu ditujukan untuk mendapatkan simpati dari sebagian pemilih. Menurut dia, retorika seperti itu berulang dalam gaya kampanye Trump.
“Tujuannya tentu adalah untuk mendapatkan simpati dari rakyat dan mitranya yang kebanyakan beragama Kristen, Katolik, dan Yahudi. Kita tahu Donald Trump sering sekali menjadikan Islam sebagai musuh bersama,” kata Anwar.
Ia juga menduga lelucon itu dipakai untuk memobilisasi massa dengan mengingatkan pada bahaya yang dibingkai sebagai ancaman. Menurut Anwar, cara seperti itu memperkuat kebencian terhadap umat Islam. Ia menyebut sikap tersebut sudah lama melekat pada diri Trump.
“Jadi bagi Donald Trump, kebenciannya terhadap Islam, Nabi Muhammad, dan umatnya sudah merupakan sesuatu yang mendarah daging dalam dirinya sehingga sudah sangat sulit untuk dihilangkan,” imbuhnya.
Kritik Tajam terhadap Sikap Trump
Anwar Abbas menyampaikan kritik yang cukup keras terkait sikap Trump. Ia menilai tidak banyak cara untuk menghentikan sikap tersebut. Pernyataan itu menjadi salah satu bagian paling banyak dikutip dari respons Muhammadiyah.
“Mungkin bagi Donald Trump, hanya kematian sebagai satu-satunya hal yang akan bisa menghentikan sikap dan tindakan tidak terpujinya tersebut,” ujar Anwar.
Kritik itu muncul di tengah meningkatnya perhatian publik Indonesia terhadap pernyataan pejabat asing soal isu keagamaan. Sejumlah organisasi masyarakat menilai retorika semacam itu berpotensi memperlebar jurang pemahaman antarumat. Pemerintah Indonesia belum menyampaikan pernyataan resmi khusus soal pidato tersebut.
Dalam tradisi organisasi Islam Indonesia, kritik terhadap pernyataan yang dinilai melecehkan simbol keagamaan biasanya disampaikan melalui pernyataan terbuka. Muhammadiyah memilih jalur itu melalui ketua pimpinan pusatnya. Langkah tersebut dinilai lebih terukur dibandingkan aksi jalanan.
Respons semacam ini juga berfungsi menjaga agar isu tidak berkembang menjadi provokasi di dalam negeri. Tokoh organisasi diminta menyalurkan kekecewaan lewat jalur pernyataan resmi. Dengan begitu, pesan kritik tetap tersampaikan tanpa memicu reaksi yang sulit dikendalikan.


