Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Nasional: Ekspor Minerba Naik, Nikel Rp467,55 T

19 Oktober 2026 • zul • 48 kali dibaca
Area tambang terbuka Grasberg di Papua sebagai ilustrasi sektor pertambangan nasional
Kementerian ESDM RI (public domain) via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Tambang nasional kembali mencatat kabar positif dari sisi nilai ekspor. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat nilai ekspor mineral dan batu bara naik pada periode Januari sampai Agustus 2026. Nikel memimpin dengan nilai 25,9 miliar dolar Amerika Serikat atau setara Rp467,55 triliun. Kenaikan itu terjadi meski volume ekspor sejumlah komoditas justru menurun.

Tambang Nasional: Ekspor Minerba Naik, Nikel Rp467,55 T

Data itu dipublikasikan Kementerian ESDM melalui akun resmi Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara. Nilai ekspor nikel dan produk turunannya naik 17,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan rupiah memakai asumsi kurs Rp18.052 per dolar AS.

Rincian lengkapnya dimuat pada laporan Bisnis.com yang mengutip unggahan resmi kementerian. Versi bahasa Inggris dari data yang sama juga dibahas The Kabar News. Keduanya memakai angka yang sama untuk periode Januari sampai Agustus 2026.

Menariknya, volume ekspor nikel justru turun 3,8 persen menjadi 1.571 kiloton. Nilai per satuan volume naik sekitar 21,9 persen. Kementerian menilai pola ini menunjukkan pengendalian pasokan berjalan, sehingga harga mampu menutup penurunan volume.

Tata Atur
Iklan

Nikel Masih Jadi Penopang Utama

Produk nikel yang diekspor mencakup nickel pig iron, feronikel, stainless steel, nickel matte, mixed hydroxide precipitate, nickel sulphate, dan nickel metal. Keragaman produk itu menunjukkan rantai hilirisasi sudah berjalan di dalam negeri. Sebagian produk merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Dari sisi penerimaan negara, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno menyebut penerimaan negara bukan pajak dari nikel mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026. Angka itu naik dibanding Rp10 triliun pada periode sama tahun 2025, seperti dilaporkan ANTARA.

Kenaikan penerimaan tersebut terjadi ketika produksi bijih nikel turun. Data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara per 1 September 2026 mencatat produksi bijih nikel 173,79 juta ton. Pada 2025, produksi tercatat 320,37 juta ton.

Batu Bara Naik Meski Volume Turun

Nilai ekspor batu bara naik 7,8 persen menjadi 20,8 miliar dolar AS atau setara Rp375,49 triliun. Volume ekspornya turun tujuh persen menjadi 307.051 kiloton. Nilai per satuan volume batu bara naik sekitar 15,9 persen.

Komoditas batu bara yang diekspor meliputi sub-bituminous, lignite, bituminous, dan anthracite. Berbeda dari nikel yang sebagian besar sudah diolah, mayoritas ekspor batu bara masih berupa komoditas primer. Karena itu, kenaikan nilainya lebih ditentukan harga dan pengelolaan pasokan.

Sebagian besar batu bara Indonesia ditujukan ke pasar ekspor, terutama di kawasan Asia. Perubahan permintaan dari negara tujuan berpengaruh langsung pada harga jual. Karena itu, pengelolaan kuota produksi menjadi instrumen penting bagi pemerintah.

Kementerian ESDM menegaskan pengendalian pasokan menjadi kunci. Kutipan resmi kementerian menyebut pengendalian pasokan membantu menjaga keseimbangan antara volume dan harga komoditas. Hasilnya, meski volume ekspor menurun, kenaikan harga mendorong nilai ekspor tetap tumbuh.

Bauksit dan Tembaga Tumbuh Paling Cepat

Nilai ekspor produk turunan bauksit naik 43,5 persen menjadi 3,8 miliar dolar AS atau setara Rp68,5 triliun. Volume ekspornya juga naik 25,5 persen menjadi 4.680 kiloton. Produk yang diekspor berupa alumina dan aluminium.

Kenaikan itu tidak terlepas dari larangan ekspor bijih bauksit yang berlaku sejak Juni 2023. Kebijakan tersebut mendorong pembangunan fasilitas pemurnian di dalam negeri. Ekspor yang tercatat kini berupa produk olahan, bukan bijih mentah.

Tembaga katoda mencatat kenaikan nilai 47,2 persen secara tahunan menjadi 2,2 miliar dolar AS atau setara Rp39,7 triliun. Volume ekspornya naik 3,5 persen menjadi 164 kiloton. Katoda dan hasil olahan tembaga lain kini menyumbang 70 persen dari total ekspor tembaga.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga