Viral hari ini, gempa bumi kembali mengguncang Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Gempa berkekuatan magnitudo 5,3 itu terjadi Minggu sore, 18 Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memastikan gempa masih bagian dari rangkaian susulan gempa utama Flores magnitudo 7,7.
Viral Hari Ini: Magnitudo 5,3 Guncang Labuan Bajo
Gempa terjadi sekitar pukul 16.00 Wita atau 15.00 WIB. Pusatnya berada di laut, sekitar 60 kilometer timur laut Kota Labuan Bajo. Kedalaman gempa tercatat 10 kilometer.
Kepala BMKG Manggarai Barat, Maria Patricia Christin Seran, menyebut gempa tergolong dangkal. Pemicunya aktivitas Flores Back-arc Thrust. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan sesar naik, seperti dilaporkan Kompas.com.
BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami. Guncangan terasa kuat di Kota Labuan Bajo. Getaran juga dirasakan hingga Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Bima di Nusa Tenggara Barat, dengan intensitas tertinggi skala IV sampai V MMI.
Penjelasan BMKG soal Tren Gempa Susulan
Penanggung Jawab Operasional Diseminasi Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Bayu Pranata, menjelaskan hasil analisis terbaru. Episenter gempa magnitudo 5,3 masih berada di dalam klaster susulan gempa utama Flores. Karena itu gempa tersebut tidak dikategorikan sebagai peristiwa baru yang terpisah.
Menurutnya, tren aktivitas gempa susulan menurun signifikan dari hari ke hari. Namun aktivitas gempa kecil masih terus berlangsung. Artinya rangkaian gempa belum dinyatakan berakhir, seperti dikutip dalam laporan Kompas.com.
Bayu menyebut gempa susulan bermagnitudo di atas 5 bukan hal baru dalam rangkaian ini. Gempa serupa pernah tercatat pada 26 September 2026. Karena itu peristiwa Minggu sore masih berada dalam pola normal rangkaian susulan.
BMKG mengimbau warga tetap tenang sekaligus waspada. Warga diminta tidak mudah terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi resmi bisa dipantau melalui aplikasi InfoBMKG dan kanal resmi lembaga itu, termasuk di laman data gempa BMKG.
Flores Back-arc Thrust dan Riwayat Gempa Besar
Flores dikenal memiliki aktivitas seismik tinggi. Penyebabnya keberadaan zona tektonik Flores Back-arc Thrust. Zona itu memiliki riwayat gempa besar pada masa lalu.
Riwayat gempa besar di kawasan ini mencakup gempa Flores 1992 dan aktivitas gempa di utara Lombok pada 2018. Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Irwan Meilano, menyoroti kemiripan lokasi dan mekanisme kedua peristiwa Flores.
Ia menyebut gempa Flores 1992 berkekuatan magnitudo 7,9 dan diikuti tsunami tinggi. Salah satu faktor yang memengaruhi besarnya tsunami saat itu adalah longsoran bawah laut setelah gempa. Perbandingan itu disampaikan untuk konteks gempa Agustus 2026, bukan analisis khusus gempa magnitudo 5,3 pada 18 Oktober.
Karena karakter tektoniknya, kawasan ini tetap menjadi perhatian pemantauan. BMKG mencatat episenter susulan terkonsentrasi di Flores bagian tengah hingga barat. Sebaran itu berkaitan langsung dengan zona Flores Back-arc Thrust.
Pemantauan dilakukan lewat jaringan sensor di darat dan laut. Data gempa diolah untuk menilai apakah ada perubahan pola. Ringkasan hasilnya bisa dilihat pada kanal resmi lembaga terkait.
Berapa Banyak Gempa Susulan Tercatat
Gempa utama Flores magnitudo 7,7 terjadi pada 15 Agustus 2026. Sejak peristiwa itu, ribuan gempa susulan tercatat oleh jaringan pemantauan.
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, mencatat 19.554 gempa susulan hingga 3 Oktober 2026 pukul 06.00 Wita. Magnitudo terbesarnya 6,2 dan terkecil 0,9. Dari jumlah itu, 40 gempa susulan bermagnitudo di atas 5,0 dan 209 gempa dirasakan masyarakat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 3.002 gempa susulan hingga 19 Agustus 2026. Kekuatannya bervariasi antara magnitudo 1,1 hingga 6,2. Data itu menunjukkan rangkaian susulan berlangsung lama dengan intensitas yang fluktuatif, seperti diuraikan dalam laporan BNPB.
BMKG memperkirakan grafik aktivitas susulan meluruh dalam 21 sampai 30 hari sejak periode Agustus tersebut. Namun lembaga itu menegaskan estimasi tersebut bersifat dinamis. Perkiraan bisa diperbarui sesuai perkembangan data rekaman gempa terbaru.


