Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Indonesia: Kekeringan Gorontalo Meluas 145 Desa

19 Oktober 2026 • zul • 32 kali dibaca
Lahan persawahan mengering saat musim kemarau panjang
Joko Wardani, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Berita Indonesia hari ini menyoroti kekeringan yang meluas di Provinsi Gorontalo. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat per 16 Oktober 2026 mencatat 145 desa di 37 kecamatan terdampak. Jumlah warga yang terdampak mencapai 44.747 jiwa atau 16.056 kepala keluarga. Musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga November 2026.

Berita Indonesia: 145 Desa Terdampak Kekeringan

Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo Mohamad Tahir Laendeng menyebut kekeringan berdampak pada wilayah pesisir maupun dataran tinggi. Lima kabupaten dan satu kota terdampak dengan tingkat keparahan berbeda. Wilayah dengan sumber air permukaan terbatas menjadi yang paling cepat kekurangan (Antara).

Angka 145 desa itu bertambah dari data awal bulan. Pada periode pencatatan sampai 5 Oktober 2026, BPBD melaporkan 134 desa di 36 kecamatan terdampak dengan 41.495 jiwa (Dulohupa). Penambahan terjadi karena kemarau berlanjut pada dua pekan berikutnya.

Perbedaan angka antar laporan bukan tanda kekeliruan, melainkan hasil pembaruan data. Petugas desa mengirim laporan baru setelah sumur warga dan mata air mengering. Data itu kemudian direkap ke tingkat provinsi.

Tata Atur
Iklan

Kekeringan musiman ini berbeda dari krisis air akibat kerusakan lingkungan setempat. Faktor utamanya adalah curah hujan yang jauh di bawah normal. Karena itu, solusi jangka pendeknya bertumpu pada pasokan air dari luar wilayah.

Distribusi Air Bersih 5,9 Juta Liter

BPBD Provinsi Gorontalo mencatat distribusi air bersih sampai 16 Oktober 2026 mencapai 5.990.510 liter. Sebelumnya, hingga 5 Oktober 2026, volume yang sudah disalurkan tercatat 4.778.510 liter. Artinya, kebutuhan air bersih warga stabil tinggi selama periode tersebut.

Penyaluran dilakukan bersama BPBD kabupaten dan instansi terkait. Dinas sosial, Palang Merah Indonesia, serta relawan desa ikut terlibat dalam pengiriman air. Titik distribusi ditentukan berdasarkan prioritas desa dengan akses terjauh.

Mobil tangki berkapasitas 5.000 liter menjadi tulang punggung pengiriman. Untuk desa yang tidak bisa dijangkau kendaraan besar, air dipindahkan ke jeriken dan tandon desa. Pola itu menambah waktu dan biaya distribusi.

Pemerintah desa juga mengusulkan perbaikan sumur bor sebagai solusi jangka menengah. Ketersediaan titik air baru dinilai lebih efektif dibanding pengiriman air berulang setiap pekan (SuaraLutim).

Lima Wilayah Paling Terdampak

Kabupaten Bone Bolango menjadi wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak, yaitu 44 desa. Kabupaten Gorontalo menyusul dengan 40 desa terdampak. Kabupaten Gorontalo Utara mencatat 28 desa, disusul Pohuwato 19 desa dan Boalemo 14 desa.

Pola sebaran menunjukkan wilayah dengan topografi karst lebih rawan. Air hujan cepat meresap ke bawah permukaan sehingga sulit ditampung. Sebaliknya, daerah dengan sungai besar masih memiliki pasokan meski debitnya menyusut.

Peringatan Dini BMKG dan Perkiraan Kemarau

BMKG menempatkan seluruh kabupaten dan kota di Gorontalo dalam status awas kekeringan meteorologis pada dasarian II Oktober 2026. Status awas berarti curah hujan jauh di bawah normal. Peringatan itu diperbarui setiap sepuluh hari (BMKG).

Laporan BPBD mengutip perkiraan BMKG bahwa kemarau di Gorontalo berlangsung hingga November 2026. Instansi terkait diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi dampak lanjutan. Mitigasi mencakup penambahan tandon desa dan pengaturan jadwal distribusi.

Sejumlah wilayah lain di Indonesia juga berstatus awas pada periode yang sama. Daftar itu mencakup kabupaten-kabupaten di Jawa, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi. Artinya, tekanan kekeringan tidak hanya dialami Gorontalo.

Pemerintah daerah diimbau tidak menunggu hujan untuk mengambil langkah darurat. Pemenuhan air minum dan sanitasi disebut sebagai prioritas pertama.

Dampak ke Harga Pangan Daerah

Kemarau panjang lebih dari empat bulan turut mendorong kenaikan harga pangan di Gorontalo. Komoditas yang naik antara lain cabai merah, cabai keriting, beras, telur, dan daging ayam. Harga cabai keriting dilaporkan menyentuh Rp140 ribu per kilogram (Antara Gorontalo).

Kepala Biro Pengendalian Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Gorontalo Debby Habibie menyebut kenaikan itu menjadi perhatian karena berdampak pada daya beli. Tim Pengendali Inflasi Daerah menyiapkan langkah strategis untuk menekan gejolak harga. Ketersediaan pasokan menjadi kunci utama.

Pemerintah provinsi menjalankan pasar murah bersubsidi di sejumlah lokasi. Bantuan Langsung Pangan Pemerintah Provinsi Gorontalo juga disalurkan kepada warga. Kombinasi keduanya diarahkan menjaga keterjangkauan harga bahan pokok.

Petani menanggung dampak paling langsung karena sebagian lahan mengalami gagal panen. Kekurangan air membuat jadwal tanam bergeser. Pergeseran itu berpotensi menunda pasokan pada musim berikutnya.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga