SUARALUTIM.COM, MALILI — Berita Lutim dari dunia pendidikan: Polsek Tomoni Timur, Polres Luwu Timur, menggelar edukasi literasi digital di SMAN 10 Luwu Timur, Desa Kertoraharjo, Senin (19/10/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WITA itu dipimpin Kapolsek Tomoni Timur, IPDA Jefir Alang Ramba, S.Sos., dengan dua tema utama: cara mengenali berita hoaks dan imbauan menghentikan penggunaan knalpot brong.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Quick Wins melalui Polisi Peduli Pendidikan. Selain Kapolsek, kegiatan dihadiri kepala sekolah, para guru, serta siswa-siswi SMAN 10 Luwu Timur. Dalam forum itu, pelajar diimbau tidak mudah mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Materi kedua menyentuh soal ketertiban berlalu lintas. Knalpot brong dinilai menimbulkan kebisingan, mengganggu kenyamanan warga, dan melanggar ketentuan kendaraan bermotor. Pelajar diminta menggunakan kendaraan sesuai aturan yang berlaku.
Berita Lutim: Mengapa Hoaks Dibahas di Ruang Kelas
Sekolah menjadi tempat pertama banyak remaja berinteraksi dengan media sosial secara intens. Di sinilah keputusan kecil terbentuk: apakah sebuah pesan diteruskan begitu saja, atau diperiksa dulu asal-usulnya. Keputusan itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa besar.
Di daerah seperti Luwu Timur, informasi yang salah cepat menyebar melalui grup percakapan keluarga dan lingkungan. Sebuah pesan berantai tentang bencana, penculikan anak, atau bantuan sosial bisa berpindah dari satu kecamatan ke kecamatan lain dalam hitungan menit, jauh sebelum ada klarifikasi resmi. Ketika klarifikasi datang, sebagian warga sudah telanjur bertindak berdasarkan informasi yang keliru.
Pola itu pernah muncul di Lutim. Pada September 2026, selebaran tentang penculikan anak di Magani dinyatakan hoaks setelah ditelusuri. Kasus semacam ini menunjukkan bahwa literasi digital bukan kebutuhan orang dewasa saja. Pelajar yang aktif di media sosial justru sering menjadi jalur pertama penyebaran.
Karena itu, pendekatan yang dipilih kepolisian di Tomoni Timur masuk akal: datang ke sekolah, berbicara langsung dengan siswa, dan memberi contoh cara memeriksa informasi. Edukasi semacam ini tidak menjamin hoaks hilang, tetapi membangun kebiasaan menunda sebentar sebelum meneruskan pesan.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Apa yang Dimaksud Berita Hoaks dan Mengapa Berbahaya
Hoaks bukan sekadar informasi yang salah karena keliru kutip. Ada beberapa bentuk yang sering dijumpai:
- Informasi palsu yang dibuat sengaja untuk menimbulkan kepanikan atau menguntungkan pihak tertentu.
- Konten asli yang dipelintir: foto atau video peristiwa lama dipasang pada narasi kejadian baru.
- Konteks yang dihilangkan: pernyataan benar, tetapi dipotong sehingga maknanya berubah.
- Pesan berantai tanpa sumber yang menyebut nama lembaga atau pejabat untuk memberi kesan resmi.
Bahayanya bertingkat. Pada tahap awal, hoaks membuat warga salah mengambil keputusan, misalnya mendatangi lokasi yang disebut akan ada pembagian bantuan. Pada tahap berikutnya, hoaks bisa memicu ketegangan sosial, terutama bila menyangkut tuduhan kepada orang atau kelompok tertentu. Di ranah hukum, menyebarkan informasi bohong yang menimbulkan kerugian juga memiliki konsekuensi pidana berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik beserta perubahannya.
Bagi pelajar, risiko tambahan muncul karena jejak digital bertahan lama. Unggahan yang dibuat saat masih sekolah bisa muncul kembali bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang melamar pekerjaan atau beasiswa.
Empat Langkah Sederhana Memeriksa Informasi
Literasi digital tidak harus rumit. Ada empat kebiasaan yang bisa diterapkan siapa saja, termasuk siswa SMA.
1. Cari sumber aslinya
Sebelum meneruskan pesan, cari tahu siapa yang pertama menyampaikan. Bila informasi hanya beredar sebagai tangkapan layar tanpa tautan, perlakukan sebagai informasi yang belum terverifikasi.
2. Periksa tanggal dan lokasi
Banyak konten hoaks memakai peristiwa lama. Membandingkan tanggal unggahan dengan tanggal kejadian sering cukup untuk menggugurkan klaim.
3. Bandingkan dengan media atau lembaga resmi
Peristiwa penting biasanya diberitakan lebih dari satu kanal. Bila hanya ada satu sumber anonim dan isinya provokatif, kemungkinan besar informasi itu perlu ditahan dulu.
4. Tanya sebelum meneruskan
Meneruskan pesan ke grup keluarga terasa seperti tindakan menolong. Padahal, tanpa verifikasi, tindakan itu justru memperluas kesalahan. Kebiasaan bertanya “ini dari mana sumbernya” sudah cukup menahan banyak hoaks.


