Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pendidikan

Berita Lutim: 329 Pelajar Adu Bahasa Daerah di FTBI

18 Oktober 2026 • Admin • 19 kali dibaca
Pelajar Luwu Timur mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 di aula Disdikbud Luwu Timur
Gambar: Dok. IKP Humas Kominfo-SP Luwu Timur via Penalutim.com, 13 Oktober 2026.
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Sebanyak 329 pelajar sekolah dasar dan sekolah menengah pertama se-Kabupaten Luwu Timur mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tahun 2026. Kegiatan yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Luwu Timur itu menjadi ruang bagi siswa untuk menampilkan kemampuan berbahasa daerah, mulai dari mendongeng hingga berpidato dalam bahasa Bugis dan Toraja. Kabar ini menjadi salah satu berita lutim yang paling banyak dibicarakan kalangan guru dan orang tua pekan ini.

Festival dibuka Sekretaris Disdikbud Luwu Timur, Darmawan, di Aula Disdikbud Lutim, Selasa (13/10/2026). Selama beberapa hari, perlombaan dipusatkan di tiga lokasi berbeda sesuai jenjang pendidikan: SD Negeri 238 Mallaulu untuk tingkat SD, serta UPT SMP Negeri 1 Malili dan UPT SMP Negeri 2 Malili untuk tingkat SMP.

Berita Lutim: 329 Peserta dari SD dan SMP

Ketua Panitia FTBI Luwu Timur 2026, Lisnah, melaporkan bahwa peserta tahun ini berjumlah 329 orang. Rinciannya, 170 siswa SD negeri dan 159 siswa SMP negeri maupun swasta dari berbagai kecamatan.

Jumlah itu menunjukkan bahwa minat terhadap bahasa daerah masih tumbuh di sekolah. Namun, yang lebih penting adalah bentuk kegiatannya: siswa tidak hanya diminta menghafal kosakata, tetapi juga menggunakan bahasa daerah dalam format yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti komedi tunggal dan mendongeng.

Empat Cabang Lomba

  • Mendongeng bahasa daerah, menguji kemampuan bercerita dengan alur dan penghayatan.
  • Menulis cerpen bahasa daerah, melatih kemampuan menuangkan gagasan secara tertulis.
  • Komedi tunggal bahasa daerah, mendekatkan bahasa ibu dengan humor sehari-hari.
  • Pidato bahasa daerah, melatih keberanian tampil dan menyusun argumen.

Seluruh cabang lomba menggunakan bahasa Toraja dan Bugis. Pemilihan dua bahasa itu mencerminkan kenyataan sosial Luwu Timur, yang masyarakatnya berasal dari beragam latar budaya, termasuk warga keturunan Toraja di sejumlah kecamatan dan penutur Bugis di wilayah pesisir maupun perkotaan.

Bahasa Daerah dan Ruang di Sekolah

Kekhawatiran tentang makin jarangnya anak muda menggunakan bahasa daerah bukan isu baru. Di banyak daerah, bahasa ibu kalah bersaing dengan bahasa Indonesia di ruang kelas dan bahasa asing di layar gawai. Festival semacam FTBI menjadi salah satu cara menjaga bahasa tetap hidup tanpa harus memaksakan pendekatan yang kaku.

Darmawan menegaskan bahwa pelestarian bahasa daerah perlu dilakukan secara berkelanjutan, dengan memberi ruang kepada peserta didik untuk mengenal, mempelajari, menggunakan, dan mengembangkan bahasa daerah melalui kegiatan yang kreatif dan edukatif.

Pandangan itu sejalan dengan praktik di sejumlah sekolah yang menjadikan bahasa daerah sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler, misalnya latihan mendongeng atau pidato menjelang lomba. Kegiatan seperti ini biasanya berjalan karena ada guru yang bersedia meluangkan waktu, bukan karena tuntutan kurikulum.

SuaraLutim mencatat, sekolah di Luwu Timur memang cukup sering mengirim siswa ke lomba tingkat kabupaten maupun provinsi. Sebelumnya, sejumlah pelajar SMA di Sorowako menembus babak final Olimpiade Sains Nasional, sementara Disdikbud juga rutin menggelar lomba antar sekolah seperti pada rangkaian perayaan HUT RI.

Mengapa Bahasa Ibu Perlu Dirawat

Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi. Ia menyimpan pengetahuan lokal tentang alam, pertanian, hubungan kekerabatan, dan adat. Ketika bahasa itu berhenti dipakai, pengetahuan yang menyertainya ikut memudar.

Di Luwu Timur, pengetahuan tentang danau, hutan, dan pola tanam banyak tersimpan dalam istilah-istilah lokal. Penutur muda yang memahami istilah tersebut akan lebih mudah menyerap kearifan yang diwariskan, termasuk dalam pengelolaan sumber daya alam.

Karena itu, lomba bahasa daerah punya nilai jangka panjang yang tidak selalu terlihat dari panggung. Siswa yang menang memang mendapat penghargaan, tetapi yang lebih penting adalah pengalaman menggunakan bahasa ibu di ruang publik, di depan juri dan penonton.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga