Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Tambang Nasional: Nikel China Bahas Pangkas Produksi di RI

20 Oktober 2026 • zul • 29 kali dibaca
Citra satelit kawasan pertambangan nikel di Sulawesi, Indonesia
Foto: NASA Jet Propulsion Laboratory / Wikimedia Commons, domain publik
ASM Group
Iklan

Tambang nasional kembali menjadi perhatian setelah sejumlah produsen nikel asal China berencana membahas pengurangan produksi secara terkoordinasi di Indonesia. Menurut laporan Bloomberg, para eksekutif puncak perusahaan itu hendak bertemu paling cepat Selasa, 20 Oktober 2026. Pembahasan menyasar pabrik bahan baku baterai yang memakai teknologi pelindian asam bertekanan tinggi atau HPAL.

Tambang Nasional: Produsen Nikel China Bahas Pangkas Produksi

Rencana pertemuan itu muncul di tengah pelemahan harga nikel dunia. Produsen menilai margin operasi pabrik HPAL terus tergerus, terutama karena biaya bahan penunjang naik. Pilihan memangkas produksi dinilai lebih masuk akal daripada tetap beroperasi pada tingkat merugi.

Sebagian peserta pertemuan sebelumnya menyebut pengurangan terkoordinasi sulit diterapkan. Alasannya, setiap perusahaan memiliki kontrak pasokan dan pelanggan berbeda. Kesepakatan bersama juga berisiko dianggap sebagai pengaturan pasar oleh pihak lain.

Diskusi serupa sebenarnya sudah berlangsung pada Agustus lalu. Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan resmi. Situasi pasar yang memburuk membuat pembahasan kembali dibuka pada Oktober ini.

Tata Atur
Iklan

Siapa Saja yang Duduk di Meja Pertemuan

Laporan Bloomberg Technoz menyebut empat nama perusahaan besar. Mereka adalah Tsingshan Holding Group, GEM Co, Lygend Resources & Technology Co, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co. Empat perusahaan itu memiliki pabrik pengolahan di Indonesia.

Keempatnya termasuk pemain utama dalam rantai pasok nikel untuk baterai kendaraan listrik. Fasilitas mereka memproduksi produk antara yang kemudian diolah menjadi bahan baku katoda. Sebagian fasilitas itu berada di kawasan industri terpadu di Sulawesi dan Halmahera.

Uraian serupa disampaikan Indonesian Mining Association yang mengutip laporan Bloomberg. Menurut laporan itu, pertemuan berlangsung selama sepekan terakhir sebelum rencana keputusan akhir. Belum ada pernyataan resmi dari masing-masing perusahaan soal hasil pembahasan.

Usulan Pemangkasan Sekitar 30 Persen

Satu usulan yang beredar adalah memangkas produksi sekitar 30 persen per perusahaan. Angka itu dihitung dari tingkat operasi pabrik HPAL yang saat ini berjalan. Usulan tersebut belum disetujui seluruh peserta pertemuan.

Pengurangan produksi akan berdampak pada volume produk antara yang dipasok ke pasar. Jika dijalankan, langkah itu bisa mengubah keseimbangan pasokan global dalam beberapa kuartal. Namun pelaksanaannya bergantung pada kesediaan semua pihak menahan laju produksi.

Media Prancis Le Blog Auto mencatat sejumlah peserta meragukan efektivitas pemangkasan bersama. Mereka menilai pengurangan sepihak justru akan menguntungkan perusahaan yang tidak ikut menahan produksi. Karena itu, mekanisme pengawasan menjadi bagian penting dalam pembahasan.

Tekanan Harga dan Biaya Sulfur

Harga nikel dunia bergerak di sekitar 16.350 dolar Amerika Serikat per ton, menurut data Trading Economics. Posisi itu disebut sebagai yang terendah sejak Juli dan membebani produsen dengan biaya produksi tinggi. Pelemahan terjadi akibat prospek pasokan yang melimpah.

Salah satu pemicu kenaikan biaya adalah harga belerang atau sulfur. Sekitar tiga perempat pasokan sulfur untuk pengolahan di Indonesia berasal dari Timur Tengah. Gangguan pengiriman dari kawasan itu mendorong harga bahan baku naik signifikan.

Kebutuhan sulfur pada proses HPAL cukup besar. Setiap kenaikan 100 dolar AS per ton harga sulfur dapat menambah sekitar 1.000 dolar AS pada biaya produksi per ton. Perhitungan itu disampaikan analis Red Door Research, Jim Lennon, dalam laporan yang dikutip industri.

Faktor lain adalah kebijakan dalam negeri. Pemerintah menaikkan harga patokan bijih nikel pada awal tahun untuk menambah penerimaan negara. Kenaikan itu menambah beban biaya bagi pengolah, terutama yang memakai teknologi tinggi energi.

Mengapa HPAL Jadi Titik Lemah

Teknologi HPAL mengolah bijih nikel kadar rendah menjadi produk antara bernama mixed hydroxide precipitate. Produk itu mengandung nikel dan kobalt yang bisa dimurnikan menjadi bahan baku baterai. Kapasitas HPAL tumbuh cepat beberapa tahun terakhir.

Menurut catatan industri, pabrik HPAL di Indonesia memproduksi sekitar 450.000 ton nikel pada tahun lalu. Jumlah itu setara lebih dari 10 persen produksi nikel global. Karena sensitif terhadap harga sulfur, pabrik HPAL kini berada di sisi atas kurva biaya.

Perusahaan pengolah pernah mengambil langkah serupa sebelumnya. Pada April 2026, salah satu produsen asal China memangkas produksi sekitar setengah kapasitas di satu fasilitas di Weda Bay. Langkah itu diambil karena biaya sulfur melonjak.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga