SUARALUTIM.COM, TOWUTI — Viral Luwu Timur kali ini datang dari Desa Matompi, Kecamatan Towuti. Seorang warga bernama Sulaeman Roka, yang lumpuh sejak berusia 11 tahun, membangun usaha ayam kampung dan kini mengetuai kelompok peternakan bernama Woliko. Kisahnya dilaporkan Timuronline pada 19 Oktober 2026 sebagai sosok inspiratif penyandang disabilitas yang mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
Keterbatasan fisik tidak membuat Sulaeman berhenti mencari penghasilan. Ia mengelola kandang, mengurus pakan, dan menjalankan usaha ayam kampung dengan mobilitas terbatas, kadang memakai kursi roda dan kadang dibantu anggota keluarga untuk sampai ke kandang. Ia menyebut hampir seluruh harinya dihabiskan di sekitar kandang ayam.
Viral Luwu Timur: Perjalanan Usaha Sulaeman Roka
Sulaeman tinggal di Desa Matompi, salah satu desa di Kecamatan Towuti yang berada di kawasan lingkar Danau Towuti. Usahanya dimulai dari skala kecil, dengan belajar sendiri dari informasi yang ia temukan di media sosial. Ia menyebut ada pihak luar yang membantu sejak masa merintis, termasuk jejaring dari lingkungan kampus di Makassar dan program pemberdayaan perusahaan yang beroperasi di Luwu Timur.
Perlahan usaha itu bertumbuh. Dari kandang milik sendiri, ia kemudian membentuk kelompok peternakan ayam kampung Woliko yang menghimpun warga sekitar. Kelompok itu menjadi wadah belajar bersama: mulai dari cara memilih bibit, menyusun pakan, menjaga kesehatan ternak, sampai menjual hasil panen.
Dalam wawancara dengan Timuronline, Sulaeman menuturkan bahwa keterbatasan fisiknya bukan alasan untuk berhenti bekerja. Ia menegaskan dirinya harus berusaha dengan cara apa pun yang memungkinkan.
Ibunya, Reti, menuturkan bahwa semangat anaknya justru tumbuh setelah kondisinya berubah. Ia melihat Sulaeman tidak berkecil hati dan tetap berjuang menyambung hidup, sehingga menjadi contoh bagi warga lain, terutama sesama penyandang disabilitas.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Pendampingan UMKM dan Bantuan Sarana
Usaha ayam kampung Woliko masuk sebagai salah satu usaha mikro binaan program pengembangan UMKM PT Vale Indonesia. Menurut laporan tersebut, selain penyuluhan dan pelatihan, Sulaeman menerima bantuan sarana dan prasarana untuk menunjang usaha ayam kampungnya.
Perusahaan menyebut wilayah binaan program UMKM-nya meliputi Kecamatan Nuha, Towuti, Wasuponda, dan Malili. UMKM yang menjadi binaan disebut mendapat pendampingan rutin dari fasilitator, mulai dari penguatan kapasitas sampai pengembangan usaha.
Pola pendampingan seperti itu penting bagi peternak kecil. Beternak ayam kampung menghadapi risiko yang tidak ringan: harga pakan berubah, penyakit ternak bisa menyerang sewaktu-waktu, dan harga jual di pasar lokal berfluktuasi. Kehadiran fasilitator membantu peternak mengambil keputusan sederhana tetapi menentukan, misalnya kapan menambah bibit dan bagaimana menyusun pakan agar biaya tidak membengkak.
Yang membuat usaha kecil bertahan
- Kedisiplinan harian. Ternak menuntut rutinitas: pemberian pakan, pembersihan kandang, dan pemeriksaan kondisi ayam setiap hari.
- Catatan sederhana. Mencatat pengeluaran pakan dan jumlah penjualan membantu peternak mengetahui apakah usahanya benar-benar untung.
- Kelompok sebagai jejaring. Kelompok peternak memudahkan akses informasi pasar, pembelian pakan bersama, dan penyelesaian masalah teknis.
- Pendampingan berkelanjutan. Pelatihan sekali jalan biasanya tidak cukup; pendampingan rutin lebih menentukan hasil.
Wajah Ekonomi Kecil di Lingkar Danau
Kawasan Towuti dan Nuha memiliki karakter ekonomi yang khas. Aktivitas pertambangan dan industri menjadi penyerap kerja utama, tetapi tidak semua warga bekerja di sektor itu. Sebagian memilih mengembangkan usaha sendiri: berdagang, bertani, mengolah hasil perikanan, atau beternak seperti yang dilakukan Sulaeman.
Pilihan itu sejalan dengan arah yang muncul dalam beberapa tahun terakhir, ketika sejumlah pemuda di Luwu Timur mulai membangun usaha di luar jalur industri. SuaraLutim pernah mencatat kisah pemuda Malili yang membangun kedai kopi, serta usaha budidaya melon di Angkona yang menopang ekonomi rumah tangga. Ragam usaha kecil semacam ini memberi bantalan ekonomi ketika sektor besar menghadapi gejolak.
Bagi penyandang disabilitas, jalan itu tidak lebih mudah. Akses ke modal, ruang usaha yang ramah mobilitas, dan pasar yang mau menerima produk masih menjadi kendala nyata. Karena itu, contoh seperti Woliko penting bukan hanya sebagai cerita inspiratif, tetapi sebagai bukti bahwa dukungan sarana dan pendampingan bisa mengubah keterbatasan menjadi sumber penghasilan.


