Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Hilirisasi Nikel Meluas: Aluminium dan Sorowako Disorot

21 Oktober 2026 • Admin • 12 kali dibaca
ASM Group
Iklan

JAKARTA – Hilirisasi nikel yang selama ini menjadi tulang punggung industri pengolahan Indonesia mulai meluas ke komoditas lain. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10/2026), bahwa ekspor produk hilirisasi nikel, aluminium, dan komponen baterai litium diproyeksikan menyentuh sekitar US$50 miliar hingga akhir 2026, naik hampir 45 persen dibandingkan sekitar US$34,5 miliar pada 2024. Bagi Luwu Timur, laporan itu menegaskan dua hal sekaligus: Sorowako tetap pemasok nikel kelas baterai yang penting, tetapi nilai tambah terbesar kini bergerak ke rantai produksi yang lebih panjang.

Hilirisasi Nikel Meluas: Apa yang Dilaporkan DEN

Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, menjelaskan bahwa kajian terbaru lembaganya menunjukkan pertumbuhan hilirisasi tidak lagi bertumpu pada nikel saja. Menurutnya, ada dua komponen lain yang berkembang cukup pesat, yakni aluminium serta komponen baterai litium.

“Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap,” kata Seto, seperti dikutip dari keterangan pers usai pertemuan.

Paparan kajian bertajuk “Hilirisasi Nikel, Aluminium, dan Material Baterai – Capaian dan Tantangan” sendiri sudah digelar DEN di kantor lembaga itu, Senin (19/10/2026). Kajian tersebut mengevaluasi kapasitas produksi dan pengolahan, kinerja ekspor, serta posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Tiga pilar yang dibahas: nikel, aluminium, dan material baterai.

Tata Atur
Iklan

DEN menyebut Indonesia kini memproduksi komponen baterai seperti anoda dan katoda, bahkan sudah memiliki kilang pemurnian litium meski komoditas itu tidak ditambang di dalam negeri. Ini menandai pergeseran pola industri: dari mengolah apa yang dimiliki, menjadi membangun ekosistem pengolahan yang lebih lengkap.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Aluminium dan Rantai Bauksit–Alumina–Aluminium

Perkembangan paling menonjol dalam laporan DEN adalah aluminium. Nilai ekspor produk aluminium diperkirakan mencapai sekitar US$7,2 miliar pada 2026, atau melesat dua kali lipat dibandingkan sekitar US$3,5 miliar pada 2024. DEN memperkirakan angka itu masih bisa menembus US$10 miliar seiring bertambahnya investasi smelter aluminium baru.

Rantai produksinya bertumpu pada kawasan Mempawah, Kalimantan Barat. Fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase I di kawasan itu sudah berproduksi dengan kapasitas sekitar satu juta ton alumina per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 550 ribu ton dialokasikan untuk kebutuhan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) lewat perjanjian jangka panjang, sedangkan sekitar 450 ribu ton diarahkan ke pasar ekspor.

PT Aneka Tambang Tbk memasok bijih bauksit dari wilayah izin usaha pertambangan di Mempawah dan Landak. Pemerintah melalui MIND ID menghitung nilai tambah bauksit bisa naik hingga sekitar 70 kali: dari sekitar US$40 per ton saat masih berupa bijih, menjadi sekitar US$400 per ton setelah diolah menjadi alumina, lalu menyentuh US$2.800–3.000 per ton setelah menjadi aluminium.

Inalum tengah mengejar lompatan kapasitas lewat proyek Smelter 2 Mempawah berkapasitas 600 ribu ton aluminium per tahun. Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menyatakan proyek itu akan mengangkat kapasitas aluminium perseroan dari 275 ribu ton menjadi 900 ribu ton per tahun, dengan kebutuhan investasi sekitar US$2,4 miliar. Proyek tersebut sudah masuk daftar Proyek Strategis Nasional dan diproyeksikan menyerap sekitar 1.370 tenaga kerja saat beroperasi.

Baterai Litium dan Posisi Luwu Timur

Di sisi baterai, Sorowako berada di jalur yang berbeda dari smelter aluminium. Operasi PT Vale Indonesia di Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, masih bertumpu pada produksi nikel dalam bentuk matte. Target produksi matte tahun 2026 berada di kisaran 67.645 ton, dengan realisasi semester I 2026 sekitar 29.773 ton.

Yang membuat Sorowako relevan dengan laporan DEN adalah proyek Sorowako Limonite (Sorlim). Proyek ini mengolah bijih limonit kadar rendah dengan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebanyak 60 ribu ton per tahun dari sekitar 11,5 juta ton bijih limonit. Nilai investasinya sekitar US$2,1 miliar, dan MHP adalah bahan antara untuk nikel sulfat serta kobalt sulfat — dua material kunci baterai kendaraan listrik.

Menurut keterangan manajemen Vale yang diberitakan Investor Daily, progres penambangan Sorlim sudah mencapai sekitar 50 persen dengan target mulai beroperasi pada kuartal IV 2026, sementara pembangunan pabrik HPAL baru sekitar 19 persen dan mechanical completion ditargetkan pada kuartal II 2027. CORE Indonesia mencatat tiga proyek HPAL Vale di Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako memiliki kapasitas gabungan sekitar 240 ribu ton MHP per tahun.

Peneliti CORE, Yusuf Rendy Manilet, menilai tahap berikutnya adalah memperpanjang rantai produksi hingga prekursor, katoda, sel baterai, dan manufaktur akhir. Selama MHP masih dikirim keluar untuk diolah lebih lanjut, nilai tambah terbesar belum tinggal di daerah penghasil.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga