Sabtu, 24 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Indonesia: Laba Bank Mandiri Rp45,5 Triliun

23 Oktober 2026 • zul • 26 kali dibaca
Gedung Museum Bank Mandiri di kawasan Kota Tua Jakarta
Foto: Taman Renyah, Wikimedia Commons, CC BY 3.0
ASM Group
Iklan

Berita Indonesia hari ini dari sektor perbankan. PT Bank Mandiri Tbk membukukan laba bersih konsolidasi Rp45,5 triliun hingga kuartal III 2026. Angka itu tumbuh 20,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Pencapaian tersebut ditopang pertumbuhan kredit, kenaikan pendapatan nonbunga, dan pemangkasan biaya operasional.

Berita Indonesia: Laba Rp45,5 Triliun

Kinerja tersebut disampaikan dalam paparan publik di Jakarta pada Jumat, 23 Oktober 2026. Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, memaparkan rincian capaian perseroan. Menurut dia, pertumbuhan laba berjalan seiring ekspansi kredit berbasis ekosistem dan peningkatan transaksi digital.

CNN Indonesia mencatat laba bersih Rp45,5 triliun itu naik 20,7 persen secara tahunan. Efisiensi biaya disebut menjadi salah satu penopang utama. Biaya operasional perseroan turun sekitar 9 persen menjadi Rp32,7 triliun.

Dari sisi intermediasi, kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun per September 2026. Angka itu tumbuh 16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Total aset tercatat Rp2.404,1 triliun atau naik 20,1 persen.

Tata Atur
Iklan

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Pendorong Utama: Pendapatan Nonbunga

Republika menulis, pendapatan bunga perseroan tumbuh 7,08 persen menjadi Rp97,3 triliun. Pendapatan nonbunga tumbuh lebih cepat, sekitar 13 persen, menjadi Rp29,4 triliun. Pendapatan bunga bersih naik 6,2 persen menjadi Rp61,2 triliun.

Pendapatan berbasis komisi menjadi motor pertumbuhan baru. Transaksi digital melalui Livin tumbuh 42,9 persen, sedangkan platform Kopra tumbuh 23,7 persen. Pendapatan dari transaksi perdagangan dan treasury juga mencatat kenaikan sekitar 29 persen.

Menurut manajemen, biaya dana masih menjadi tekanan di industri perbankan. Karena itu perseroan memperbesar porsi pendapatan transaksional untuk menjaga margin. Strategi ini dianggap lebih berkelanjutan daripada mengandalkan kenaikan suku bunga kredit.

Angka pertumbuhan pendapatan nonbunga tercatat berbeda antarmedia. Republika menyebut 13,8 persen, sedangkan Katadata menulis 13,28 persen untuk pos yang sama. Nilai nominalnya sama, yaitu Rp29,4 triliun, sehingga selisih itu lebih tepat dibaca sebagai perbedaan cakupan pos.

Pertumbuhan itu tidak lepas dari strategi akuisisi nasabah transaksional. Bank menargetkan perusahaan dengan arus kas rutin dan kebutuhan layanan penggajian. Segmen ini memberi dana murah sekaligus pendapatan komisi yang berulang.

Efisiensi dan Kualitas Aset

Penurunan biaya operasional menjadi sorotan dalam paparan tersebut. Efisiensi dicapai tanpa mengurangi belanja teknologi dan layanan digital. Manajemen menyebut produktivitas per pegawai ikut membaik sepanjang tahun.

Katadata mencatat rasio return on equity perseroan sebesar 23,6 persen. Return on assets berada di level 2,99 persen. Rasio kecukupan modal atau CAR terjaga di angka 18,4 persen, jauh di atas ambang minimum regulator.

Dana pihak ketiga tumbuh 17,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan DPK yang lebih cepat dari kredit membuat likuiditas tetap longgar. Namun rasio kredit terhadap dana pihak ketiga perlu dijaga agar tidak menekan margin bunga bersih.

Komposisi dana murah menjadi kunci efisiensi biaya. Rekening transaksi dan layanan penggajian memberi kontribusi besar pada dana pihak ketiga. Karena itu perseroan memperluas kerja sama dengan kelompok usaha besar untuk menjangkau nasabah gaji.

Dividen Rp50,6 Triliun

Sepanjang 2026, Bank Mandiri telah membagikan dividen Rp50,6 triliun. Angka itu termasuk dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp6,16 triliun. Manajemen menyebut pembagian dividen mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan dan imbal hasil investor.

Kebijakan dividen menjadi daya tarik tersendiri bagi investor saham perbankan. Di tengah tekanan pasar, arus kas dividen memberi kepastian imbal hasil. Namun besaran dividen tetap bergantung pada laba dan kebutuhan modal perseroan.

Pembayaran dividen sebesar itu juga menunjukkan ruang permodalan yang longgar. Rasio kecukupan modal di level 18,4 persen memberi bantalan untuk menyerap risiko. Dengan modal yang kuat, perseroan bisa tetap menyalurkan kredit tanpa menambah modal baru.

Sebagai bank pelat merah, Mandiri juga menanggung peran pembangunan. Penyaluran kredit diarahkan ke sektor produktif, termasuk energi dan hilirisasi. Peran ganda ini kerap menjadi pertimbangan investor dalam menilai kinerja perseroan.

Penyaluran kredit ke sektor komoditas membawa risiko tersendiri. Harga komoditas dunia yang berfluktuasi dapat memengaruhi kemampuan bayar debitur. Karena itu perseroan menyeimbangkan portofolio antara korporasi besar dan segmen konsumen.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga