Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Hilirisasi Nikel Diuji Saat Empat Smelter China Kaji Rem

24 Oktober 2026 • Admin • 50 kali dibaca
ASM Group
Iklan

Empat produsen nikel asal China yang mengolah bijih di Indonesia kembali membahas rencana pemangkasan produksi di fasilitas pengolahan bahan baku baterai. Pembahasan itu muncul ketika harga nikel dunia masih tertekan, biaya bahan baku naik, dan kuota tambang dalam negeri diperketat. Bagi Luwu Timur, tekanan ini menjadi ujian langsung bagi hilirisasi nikel di Sorowako dan Malili.

Hilirisasi Nikel Diuji Rencana Produsen China

Katadata.co.id, Kamis (22/10/2026), mengutip Bloomberg menyebut empat perusahaan besar sedang mengkaji skala pemangkasan produksi di Indonesia: Tsingshan Holding Group, GEM, Lygend Resources & Technology, dan Zhejiang Huayou Cobalt. Sasaran pembahasan adalah fasilitas high-pressure acid leach (HPAL) yang mengolah bijih nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara untuk baterai kendaraan listrik.

Pembicaraan telah berlanjut sejak Agustus 2026, tetapi pertemuan sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan. Besaran pemangkasan kemungkinan dibahas berdasarkan tingkat operasional fasilitas saat ini, dan rinciannya masih dapat berubah. Sampai laporan itu diturunkan, belum ada kepastian apakah pertemuan akan berlangsung maupun sepakat.

Tekanan datang dari beberapa arah. Harga nikel di London Metal Exchange (LME) turun sekitar 20 persen dari level tertinggi sejak Mei, dan harga kobalt menyentuh titik terendah dalam satu tahun. Pengetatan kuota pertambangan serta kenaikan harga patokan bijih untuk menambah penerimaan negara justru menaikkan beban biaya bahan baku pabrik pengolahan. Kekurangan pasokan air juga sempat mengganggu operasional sejumlah fasilitas.

Tata Atur
Iklan

Analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo, Wahyu Laksono, menilai tekanan terhadap smelter sebaiknya dibaca sebagai momentum korektif. Kepada Bloomberg Technoz, Jumat (23/10/2026), ia menyatakan Indonesia perlu mengurangi ketergantungan pada ekspor produk antara dan memperbesar pengembangan industri prekursor, katoda, hingga baterai di dalam negeri.

“Penurunan produksi ini dapat dilihat sebagai momentum korektif bagi Indonesia untuk tidak hanya mengejar kuantitas volume ekspor, tetapi juga memperkuat hilirisasi tahap lanjut, sehingga nilai keekonomian domestik lebih tahan terhadap guncangan harga komoditas global,” kata Wahyu.

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Harga Nikel Sempat Bangkit, Lalu Koreksi

Rencana pemangkasan sempat mengangkat harga. Katadata.co.id mencatat harga nikel menguat empat hari berturut-turut dan menembus US$16.000 per ton, dengan kenaikan hingga 2,7 persen, setelah menyentuh level terendah sembilan bulan pada Kamis (16/10/2026). Analis Shuohe Asset Management, Gao Yin, menyatakan pasar kini menunggu besaran pemangkasan karena angka yang beredar cukup signifikan.

Penguatan itu tidak bertahan. Pada Kamis (22/10/2026) pukul 13.53 WIB, harga nikel di LME kembali turun 1,21 persen ke US$16.088 per ton. Pasar masih mencari titik seimbang antara rencana pengurangan pasokan dan lemahnya permintaan produk olahan.

Dari sisi penerimaan negara, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat hasil yang berbeda dari kekhawatiran industri. Sekretaris Eksekutif DEN, Septian Hario Seto, dalam laporan CNBC Indonesia (22/10/2026), mengatakan pengendalian kuota lewat Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) mendorong rata-rata harga LME Januari–Agustus 2026 menjadi US$17.494 per ton atau naik 15 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai ekspor nikel sampai Agustus 2026 naik sekitar 17 persen meski volumenya turun sekitar 4 persen, dan diskon harga MHP terhadap LME menyempit dari 21 persen pada 2024 menjadi 10 persen pada 2026.

Kuota 290 Juta Ton dan Kesenjangan Pasokan Smelter

Di sisi hulu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan target produksi bijih nikel 290 juta ton setelah revisi RKAB 2026, seperti dilaporkan Kontan.co.id (22/10/2026). Angka itu lebih tinggi dari estimasi awal 250–270 juta ton, tetapi lebih rendah daripada realisasi 2025 yang mencapai 320 juta ton.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menilai target itu belum sebanding dengan kebutuhan smelter domestik. Ia memperkirakan kebutuhan 2026 sekitar 320 juta ton, bahkan bisa 350 juta ton bila smelter beroperasi maksimal. “Kalau pemerintah merilis target produksi 290 juta ton, berarti kan ada kesenjangan pasokan,” ujarnya kepada Kontan.co.id.

Bisman menyebut pengelola smelter perlu mengamankan kontrak jangka panjang, mengoptimalkan stok, dan menyesuaikan jadwal produksi, termasuk membuka opsi impor bijih dari Filipina yang diproyeksikan sekitar 20 juta ton. Keterbatasan bijih, katanya, akan menekan utilisasi dan berujung pada penurunan produksi feronikel, nickel pig iron, nikel matte, maupun MHP.

Data pasar bijih pekan ini memperlihatkan tekanan yang sama. Laporan mingguan Shanghai Metals Market (SMM), Jumat (23/10/2026), mencatat penurunan tajam pada saprolit kadar menengah dan tinggi:

Kadar bijih Harga terbaru (US$/wmt) Perubahan
Limonit Ni 1,2% 25,5 −1,0
Limonit Ni 1,3% 27,5 −1,0
Saprolit Ni 1,4% 47,1 −4,7
Saprolit Ni 1,5% 52,5 −6,0
Saprolit Ni 1,6% 57,1 −6,3

HMA nikel paruh kedua Oktober 2026 juga turun dari US$16.322,67 menjadi US$15.847,67 per metrik ton atau melemah 2,91 persen. Stok bahan baku smelter diperkirakan mencakup konsumsi sekitar dua bulan, dan sejumlah lini RKEF di Morowali beroperasi 30–40 persen dari tingkat normal sejak 22 September 2026 akibat kekurangan air industri.

Persoalan berikutnya adalah kecocokan kadar. Kepala Bidang Hubungan Lembaga Pendidikan dan Student Chapter Perhapi, Wisnu Salman, menjelaskan bijih kadar rendah tidak selalu dapat dipakai pada smelter yang menuntut kadar tinggi. “Akibatnya, ada kelebihan pasokan material yang belum bisa dimanfaatkan,” ujarnya kepada nikel.co.id, Kamis (22/10/2026). Ia menyebut porsi produk akhir di dalam negeri baru sekitar 30 persen pada akhir pemerintahan sebelumnya.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga