JAKARTA — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menuntaskan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dengan kuota produksi bijih nikel 290 juta hingga 300 juta metrik ton, naik dari alokasi awal 260–270 juta ton. Keputusan itu diambil ketika harga nikel masih bertahan di level US$15.000-an per ton karena stok di London Metal Exchange (LME) dan Shanghai Futures Exchange (SHFE) disebut berlebih sekitar 750.000 ton. Kuota untuk 2027 belum ditetapkan dan masih dalam evaluasi.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara ESDM Tri Winarno menyampaikan angka itu di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan, Jakarta, Kamis (29/10/2026) sore. “Totalnya antara 290 juta sampai 300 jutaan,” kata Tri, seperti dikutip Katadata.co.id. Untuk batu bara, ia menyebut kuota hasil revisi berada di kisaran 700 juta ton dan dokumennya sudah terbit.
Harga nikel di US$15.000-an saat stok dunia menumpuk
Angka 750.000 ton yang disebut Tri bukan angka produksi, melainkan kelebihan stok logam nikel yang menumpuk di dua bursa acuan, LME dan SHFE. Menurut Tri, kelebihan itu harus dicerna pasar agar produksi Indonesia tidak justru menambah tumpukan yang sama. “Itu kan over sekitar 750.000 ton, ini mesti kita exercise, jangan sampai nanti produksi kita malah jadi menambah lagi over-nya itu,” ujarnya seperti dikutip CNBC Indonesia.
Tekanan stok itu terlihat pada pergerakan harga. Data Westmetall mencatat LME nikel cash-settlement US$15.580 per ton pada 28 Oktober 2026 dengan stok gudang 278.814 ton. Sehari kemudian kontrak nikel LME ditutup turun US$69 menjadi US$15.536 per ton. Pada Kamis (30/10/2026) kontrak acuan nikel tercatat US$15.599,75 per ton atau naik 0,65 persen harian, tetapi nyaris datar dalam sebulan (turun 0,07 persen).
Di dalam negeri, harga patokan mineral (HMA) nikel untuk paruh kedua Oktober 2026 ditetapkan US$15.847,67 per ton, turun 2,91 persen dari paruh pertama bulan yang sama.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Kuota 2026 sudah ditutup di 290–300 juta ton
Revisi RKAB 2026 menambah ruang produksi sekitar 30 juta ton dibanding alokasi awal tahun, setelah perusahaan tambang mengajukan perubahan pada jendela 1–31 Juli 2026 sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2025. Sebagai pembanding, alokasi RKAB 2025 berada di kisaran 320,37 juta ton. Meski kuota naik, ESDM memastikan angka itu final untuk tahun berjalan. “Sudah terbit, sudah,” kata Tri soal dokumen RKAB nikel dan batu bara hasil revisi, sebagaimana diberitakan AKURAT.CO pada Jumat (30/10/2026). Artinya, sisa 2026 tidak lagi menyediakan jalur penambahan kuota lewat revisi.
Dari sisi pelaku usaha, Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey menilai permintaan sedang menurun ketika pasar global masih kelebihan persediaan, terlihat dari penumpukan stok di China, SHFE, dan LME. Sejumlah pabrik mengurangi produksi karena biaya produksi kini lebih tinggi daripada harga jual. “Kalau perusahaan tidak ada untung, gimana mau jalan,” kata Meidy.
Kuota nikel 2027: tenggat 15 November, terbit mulai Desember
Perhatian industri kini bergeser ke kuota tahun depan. Pengajuan RKAB 2027 dibuka 1 Oktober dan ditutup 15 November 2026. Tri menargetkan sebagian besar dokumen untuk 2027 sudah bisa terbit pada Desember 2026, lebih cepat dari pola tahun sebelumnya, dengan bantuan layanan konsultasi dan pendampingan dalam ajang Minerba Convex 2026. “Kalau misalnya semua lengkap, harapan kita Desember bisa sudah banyak yang terbit untuk tahun 2027,” ujarnya, seraya menegaskan kelancaran penetapan bergantung pada regulator dan kelengkapan dokumen perusahaan.
Dalam menetapkan kuota 2027, ESDM menyatakan akan mempertimbangkan kelebihan stok global di LME dan SHFE, persediaan nikel nasional, serta kebutuhan industri pengolahan dalam negeri. “Jadi, bagaimana yang optimal bukan hanya untuk sesuai dengan kebutuhan smelter dalam negeri, tetapi juga globalnya seperti apa,” kata Tri.
Proyeksi pasar belum memberi ruang optimisme. INSG dalam proyeksi Oktober 2026 memperkirakan pasar nikel primer global surplus 19.000 ton pada 2026, berbalik dari perkiraan defisit 32.000 ton pada April, dan melebar menjadi 70.000 ton pada 2027. APNI meminta regulasi hulu dibenahi karena dinilai terus bertambah. “Selalu ada setiap bulan aturan yang baru. Juga ada Peraturan Daerah, padahal harga nikel lagi turun,” ujar Meidy.


