Berita viral dari Aceh Tamiang memperlihatkan pemandangan yang jarang terdengar: petani memanen padi dengan perahu karena sawah mereka masih terendam setelah tanggul sungai di Desa Marlempang jebol. Panen dilakukan manual memakai sabit, sementara mesin combine tidak mungkin masuk ke genangan. Kondisi ini sudah berlangsung lebih dari sepekan dan memaksa petani menerima kehilangan hasil di tengah musim panen.
Berita Viral: Panen di Tengah Genangan
Laporan ANTARA dari Aceh Tamiang menyebut sawah di Desa Teluk Halban, Kecamatan Bendahara, mulai terendam setelah tanggul di Desa Marlempang jebol. Air semula setinggi sekitar satu meter lebih sehingga petani belum bisa turun ke sawah. Petani baru memulai panen bertahap pada hari kesembilan.
Karena tanaman terlalu lama terendam, batang padi mulai membusuk dan bulirnya berguguran. Petani memotong padi seadanya, lalu mengangkut hasilnya dengan perahu karet atau perahu terpal menuju darat. Cara itu dipilih karena satu-satunya jalan agar gabah yang tersisa tidak ikut hilang.
Pemandangan perahu bermuatan padi di tengah sawah tergenang itulah yang kemudian menyebar sebagai berita viral. Bagi warga, gambar itu bukan sekadar cerita sedih, melainkan tanda bahwa panen mereka sedang berlangsung dalam kondisi darurat.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Tanggul Jebol dan Genangan Sepekan
Jebolnya tanggul di Desa Marlempang bukan peristiwa satu hari. Rakyat Aceh melaporkan badan tanggul jebol sekitar 30 meter pada 11 Oktober 2026 akibat arus sungai yang deras setelah hujan lebat. Air masuk ke permukiman dengan ketinggian 30 sampai 50 sentimeter pada malam pertama.
Posisi tanggul yang jebol berjarak sekitar 500 meter dari permukiman, sehingga luapan lebih dulu menghantam kebun sawit sebelum mencapai rumah warga. Warga sempat menimbun tanah secara swadaya, tetapi debit air terus naik dan upaya itu tidak bertahan. Laporan itu juga menyebut sebagian warga mulai mengungsi ke tempat lebih tinggi.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Aceh Tamiang pada 12 Oktober mencatat banjir merendam sembilan kecamatan. Ketinggian air dilaporkan mencapai 1,5 meter di beberapa titik, termasuk di Desa Balai, Kecamatan Bendahara, yang masih satu kawasan dengan Teluk Halban. Angka itu menunjukkan dampak banjir tidak berhenti di satu desa.
Kerugian di Masa Panen
Kerugian terbesar terjadi karena waktu banjir bertepatan dengan masa panen. Padi yang seharusnya dipanen dalam kondisi kering justru terendam berhari-hari, sehingga kualitas gabah turun. Sebagian bulir sudah rontok sebelum sempat dipotong.
Areal persawahan terdampak dikelola empat kelompok tani dengan luas masing-masing sekitar 25 hektare. Jumlah petani yang bergantung pada kawasan itu lebih dari 100 orang. Artinya, satu peristiwa tanggul jebol menyentuh puluhan keluarga sekaligus dalam satu kecamatan.
Di Desa Teluk Halban sendiri, luas sawah produktif mencapai 62 hektare dengan pola tanam dua kali setahun. Sekitar 70 persen areal terdampak ketika tanaman hampir memasuki masa panen. Selain sawah warga, banjir juga mengancam lahan percontohan teknologi pertanian seluas sekitar satu hektare yang sudah ditanami sejak Juli.
Sistem Bagi Hasil dan Kesulitan Tenaga Kerja
Sebelum banjir, biaya panen berkisar Rp150 ribu per rantai. Dalam kondisi sekarang, petani dan pekerja memilih sistem bagi hasil dengan pembagian masing-masing 50 persen dari hasil panen. Pilihan itu diambil karena tidak ada pekerja yang sanggup memanen dengan upah biasa.
Kondisi sawah yang berat membuat tenaga kerja sulit didapat. Air yang menggenang berbau dan menimbulkan rasa gatal, sementara pekerja harus berdiri di lumpur selama berjam-jam. Mesin panen juga tidak dapat dioperasikan karena genangan masih tinggi.
Keterbatasan alat dan tenaga kerja membuat proses panen memakan waktu beberapa pekan. Setiap hari tambahan berarti risiko kehilangan lebih besar, karena gabah yang masih berdiri di air terus mengalami penurunan mutu.
Respons Pemerintah Daerah
Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan Aceh Tamiang membenarkan dampak tanggul jebol terhadap ratusan hektare sawah di wilayah pesisir. Pemerintah kabupaten sebelumnya menurunkan alat berat untuk memperkuat tanggul darurat, meski peralatan yang bisa masuk ke lokasi berukuran kecil.
Perbaikan permanen belum terlihat. Warga menyebut percepatan penanganan tanggul menjadi kunci untuk mengurangi risiko kerugian petani, terutama ketika banjir datang menjelang panen. Tanpa perbaikan, pola tanam dua kali setahun bisa terganggu pada musim berikutnya.
Pemerintah pusat juga menaruh perhatian pada pemulihan kawasan ini. Laporan Metro TV mencatat Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pemulihan infrastruktur Aceh Tamiang rampung pada akhir 2026, setelah banjir besar pada akhir 2025 merusak sejumlah tanggul dan jalan desa.


