Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Viral: Petani Aceh Tamiang Panen di Tengah Banjir

25 Oktober 2026 • zul • 37 kali dibaca
Ilustrasi areal pertanian tergenang banjir di Indonesia
Wagino 20100516, CC BY-SA 3.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Mengapa Tanggul Itu Mudah Jebol

Persoalan tanggul di Marlempang bukan hal baru. Warga menyebut badan tanggul dibangun setelah banjir besar pada akhir 2025 dan berjarak sekitar 30 sampai 50 meter dari tepi sungai. Karena badan tanggul bercampur pasir, arus sungai mudah menggerus bagian dasarnya.

Setiap kali hujan deras turun di hulu, debit Sungai Tamiang naik cepat dan menekan badan tanggul dari samping. Ketika air melewati puncak tanggul, rembesan mempercepat kerusakan. Perbaikan darurat dengan karung goni dan alat berat kecil hanya bertahan sementara.

Kombinasi curah hujan tinggi, sedimentasi, dan tanggul yang belum permanen membuat kawasan pesisir Aceh Tamiang berulang kali dilanda banjir. Bagi petani, itu berarti risiko gagal panen selalu datang setiap kali musim hujan bersamaan dengan masa panen, seperti dilaporkan dalam liputan banjir Padang yang juga menekankan pentingnya kesiapan darurat.

Iklan

Tata Atur
Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Dampak bagi Pasokan Gabah Aceh

Aceh Tamiang termasuk salah satu lumbung padi di Provinsi Aceh. Ketika ratusan hektare sawah terendam tepat sebelum panen, pasokan gabah ke penggilingan lokal ikut menurun. Penurunan itu biasanya baru terasa beberapa pekan kemudian, ketika stok petani menipis.

Pemerintah pernah menyalurkan bantuan untuk rehabilitasi sawah di kawasan ini. Namun bantuan rehabilitasi tidak otomatis mengembalikan hasil panen yang sudah hilang. Petani tetap harus menanggung biaya produksi yang sudah dikeluarkan sejak awal musim.

Jika tanggul tidak segera diperbaiki, kekhawatiran berikutnya adalah petani menunda tanam. Penundaan satu musim bisa menggeser seluruh jadwal produksi dan memperpanjang tekanan pada pendapatan rumah tangga tani. Pengalaman banjir besar di kota lain, seperti banjir Istanbul, menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur drainase dan tanggul menentukan kecepatan pemulihan ekonomi warga.

Apa yang Diketahui

Tanggul di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, jebol dan merendam permukiman serta lahan pertanian di sekitarnya. Petani di Desa Teluk Halban memanen padi secara manual dengan sabit dan mengangkut hasil memakai perahu karena genangan belum surut.

Banjir merendam sembilan kecamatan di Aceh Tamiang dengan ketinggian air hingga 1,5 meter pada pertengahan Oktober. Areal sawah terdampak dikelola empat kelompok tani, masing-masing sekitar 25 hektare, dengan lebih dari 100 petani terlibat.

Petani beralih ke sistem bagi hasil 50 persen karena upah panen biasa tidak lagi menarik pekerja. Pemerintah daerah sudah menurunkan alat berat untuk tanggul darurat, tetapi perbaikan permanen belum dikerjakan.

Apa yang Belum Terkonfirmasi

Belum ada angka resmi luas sawah yang gagal panen total di Kecamatan Bendahara. Pemerintah daerah menyebut ratusan hektare terdampak, tetapi rincian per desa dan nilai kerugian ekonomi belum diumumkan.

Jumlah keluarga tani yang mengalami kerugian juga belum dirinci. Data sementara menyebut lebih dari 100 petani di satu kawasan, sementara dampak di desa lain masih dalam pendataan petugas.

Waktu perbaikan permanen tanggul belum pasti. Target pemulihan infrastruktur akhir 2026 bersifat umum untuk kawasan Aceh Tamiang, bukan jadwal khusus untuk tanggul Marlempang. Sampai ada kepastian itu, petani hanya bisa menyelamatkan gabah yang tersisa.

FAQ Seputar Banjir Aceh Tamiang

Mengapa petani memanen padi dengan perahu?

Karena sawah masih tergenang sehingga mesin panen tidak bisa masuk. Petani memotong padi secara manual, lalu mengangkut gabah dengan perahu karet atau perahu terpal agar tidak terendam lebih lama.

Sejak kapan tanggul di Desa Marlempang jebol?

Badan tanggul jebol sekitar 30 meter pada 11 Oktober 2026 setelah hujan lebat. Air sempat masuk permukiman setinggi 30 sampai 50 sentimeter pada malam pertama, lalu meluas ke kawasan pertanian.

Apakah panen masih bisa diselamatkan?

Sebagian bisa, tetapi kualitasnya menurun karena batang padi membusuk dan bulir berguguran. Petani memanen bertahap dengan sistem bagi hasil agar gabah yang tersisa tidak habis membusuk di sawah.

Baca juga

Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga