Jakarta — PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) menyiapkan rights issue dengan target dana maksimal US$463 juta atau Rp8,19 triliun. Dana itu antara lain untuk membeli 100 persen saham PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik), penambang bijih nikel di Morowali, senilai US$79 juta atau Rp1,39 triliun. Bagi tambang luwu timur, langkah ini menegaskan modal hulu nikel tetap mengalir meski harga jualnya lemah.
Keterbukaan informasi BEI, Kamis (22/10/2026), menyebut akuisisi dilakukan lewat dua anak usaha PACK: PT Daya Unggul Raya dan PT Gemilang Padma Raya. Nilainya setara 26,40 persen ekuitas konsolidasi per 31 Agustus 2026. Penjualnya PT Merlot Grup Indonesia (98,99 persen) dan Pure Venture Capitol Limited (1,01 persen).
Mengapa tambang luwu timur membaca langkah ini
PACK sebelumnya PT Solusi Kemasan Digital Tbk, produsen kemasan plastik FlexyPack yang berdiri 2001 di Tangerang. Kini perseroan bertransformasi jadi induk tambang mineral dan mengusulkan dua KBLI baru: perdagangan besar bijih serta konsultasi manajemen.
Arah bisnis itu penting dibaca dari Luwu Timur. Kepemilikan di tingkat holding menentukan siapa mengendalikan arus bijih dan bagaimana nilai tambah dibagi. Blok Sorowako beroperasi dengan IUPK hingga 2035 dan menargetkan matte 67.645 ton pada 2026, turun dari 72.027 ton pada 2025 — konteks yang dibahas dalam artikel kuota RKAB dan UMKM daerah.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Apa yang dibeli: Bumanik dan angka-angkanya
Bumanik berdiri 2006 dengan konsesi 4.778 hektare serta jalan angkut 6,3 kilometer penghubung Blok Keuno dan jetty pengapalan. Tambang, jalan, dan akses kapal ada dalam satu paket.
| Nilai transaksi Bumanik | US$79 juta (sekitar Rp1,39 triliun) |
| Nilai pasar 100% saham (KJPP Kusnanto & Rekan) | Rp1,439 triliun |
| Penjualan Januari–Agustus 2026 | Rp1,08 triliun (+36,6%) |
| Laba Januari–Agustus 2026 | Rp242,59 miliar (−22,9%) |
| Aset / liabilitas / ekuitas per 31 Agustus 2026 | Rp1,53 triliun / Rp1,16 triliun / Rp369,96 miliar |
Kinerjanya tidak seragam: penjualan naik 36,6 persen, laba turun 22,9 persen, dan sepanjang 2025 perusahaan merugi Rp118,78 miliar. Estimasi BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip Katadata mencatat margin laba bersih menyusut ke 22,5 persen dari 39,8 persen, sehingga valuasi tetap perlu dicermati meski penilai independen menyebut transaksi wajar.
CNGR di balik layar: memangkas produksi, menambah saham
Yang membuat kisah ini lebih dari aksi korporasi biasa adalah pemiliknya. Pemegang saham terbesar PACK adalah PT Eco Energi Perkasa (38,51 persen) yang menurut IDNFinancials dikendalikan CNGR Advanced Material; Haji Isam memegang 20,05 persen langsung, publik sekitar 41,44 persen.
Eco Energi Perkasa berkomitmen mengeksekusi haknya dan menjadi pembeli siaga dengan tambahan modal hingga US$418 juta atau Rp7,40 triliun. Pemegang saham lain yang tidak mengeksekusi berpotensi terdilusi hingga 74,6 persen. Bloomberg Technoz mencatat CNGR juga menyiapkan US$108 juta untuk saham Hanking (Indonesia) Mining Limited.
Langkah itu terjadi bersamaan dengan pembahasan pemangkasan produksi. Reuters (22/10/2026) melaporkan produsen China di Indonesia mempertimbangkan memangkas produksi MHP hingga separuh dan NPI 20 persen, dengan CNGR ikut dalam pembicaraan; keputusan final belum ada.
Pemain yang membicarakan pengurangan output justru memperbesar kendali atas cadangan bijih. Bagi daerah penghasil, taruhannya adalah kepastian pasokan tambang saat kuota dipangkas.
Harga nikel masih tertekan, pasar kelebihan pasokan
Kontrak nikel tiga bulan di LME turun 1,6 persen ke US$15.865 per ton pada Jumat (23/10/2026), terlemah di antara logam industri. Harga tunai US$15.695 per ton dengan stok gudang 280.674 ton.
Bisnis.com (26/10/2026) menyebut pasar nikel Eropa masuk akhir tahun dengan kelebihan pasokan dan permintaan lemah. Harga tunai LME 13 Oktober 2026 US$15.383,74 per ton, lebih 20 persen di bawah puncak tahun ini US$19.448,31 per ton (5 Mei). International Nickel Study Group memproyeksikan surplus 19.000 ton, berbalik dari proyeksi defisit 32.000 ton pada April.
Pedagang, dikutip Reuters, masih skeptis rencana pemangkasan dijalankan karena sebagian pengurangan sudah berlangsung berbulan-bulan. Stok tinggi dan permintaan baja tahan karat yang lemah menahan harga.


