Berita tambang nasional — PT Aneka Tambang Tbk (Antam) membukukan laba periode berjalan Rp9,66 triliun sepanjang Januari–September 2026, naik 46% dari Rp6,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan itu ditopang penjualan emas yang melesat dan pertumbuhan pendapatan segmen nikel sebesar 52%, di tengah harga nikel dunia yang masih bertahan di kisaran US$15.600 per ton.
Bagi Luwu Timur, laporan yang dirilis Antam pada 27 Oktober 2026 itu bukan sekadar angka korporasi. Angka tersebut memperlihatkan wajah hilirisasi nikel Indonesia hari ini: volume dan nilai tambah naik, tetapi harga acuan masih menekan marjin. Sorowako berada tepat di titik uji itu.
Kinerja sembilan bulan: emas menopang, nikel tumbuh
Penjualan bersih Antam mencapai Rp88,48 triliun, tumbuh 23% dari Rp72,03 triliun. Pasar domestik menjadi tulang punggung dengan kontribusi Rp83,86 triliun atau sekitar 95% penjualan, naik 21% secara tahunan.
Direktur Utama Antam Untung Budiharto menyatakan capaian itu menunjukkan kemampuan perusahaan menjaga momentum pertumbuhan di tengah dinamika industri pertambangan. “Kami terus memperkuat fundamental bisnis melalui optimalisasi operasional, penguatan strategi komersial, serta pengembangan portofolio usaha untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip ANTARA, Rabu (28/10/2026).
| Penjualan bersih | Rp88,48 triliun (+23%) |
| Laba kotor | Rp15,56 triliun (+42%) |
| Laba usaha | Rp12,05 triliun (+53%) |
| EBITDA | Rp13,48 triliun (+45%) |
| Laba per saham dasar | Rp367,78 (+48%) |
| Total aset | Rp59,74 triliun (+24%) |
Emas masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 77% atau Rp68,41 triliun, naik 17% dari Rp58,67 triliun. Volume penjualannya 25.217 kilogram, sementara produksi emas dari tambang perusahaan 634 kilogram. Segmen nikel, yang mencakup feronikel dan bijih nikel, menyumbang 19% penjualan dengan nilai Rp16,98 triliun.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira menyebut perbaikan itu tercermin pada margin laba yang membaik sekaligus posisi kas yang menguat. “Capaian tersebut didukung oleh pengelolaan modal kerja yang efektif, pengendalian biaya yang disiplin, serta penerapan manajemen risiko yang terukur,” katanya.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Hilirisasi nikel: pendapatan segmen naik 52% saat harga lemah
Yang menarik justru datang dari sisi nikel. Pendapatan segmen ini naik 52% menjadi Rp16,98 triliun dari Rp11,15 triliun, kenaikan terbesar di antara seluruh lini usaha Antam. Kenaikan itu tidak semata datang dari harga, karena harga nikel global justru sedang tertekan.
Secara operasional, produksi bijih nikel Antam mencapai 12,16 juta wet metric ton (wmt) dengan volume penjualan 10,73 juta wmt. Produksi feronikel tercatat 11.638 ton nikel dalam feronikel (TNi), sedangkan penjualan feronikel naik 71% menjadi 13.971 TNi dari 8.182 TNi pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan penjualan feronikel inilah yang menahan pelemahan harga di sisi pendapatan.
Harga acuan menjadi kunci. Kementerian ESDM menetapkan Harga Mineral Logam Acuan (HMA) nikel paruh kedua Oktober 2026 sebesar US$15.847,67 per dry metric ton, turun US$475 atau 2,91% dari paruh pertama bulan yang sama. HMA itu menjadi dasar perhitungan Harga Patokan Mineral (HPM), termasuk untuk bijih nikel berbagai kadar yang pada periode ini terkoreksi merata: kadar 1,2% menjadi US$22,44 per wmt dan kadar 1,6% menjadi US$59,12 per wmt.
Bagi produk antara seperti matte nikel, formula harga patokan dirumuskan lewat Kepmen ESDM 144.K/2026, yang menghitung matte sebagai 78% dari persentase kandungan nikel ditambah kobalt dikalikan HMA. Artinya, setiap koreksi HMA langsung merambat ke nilai jual matte — produk yang menjadi andalan Sorowako. Di sinilah hilirisasi nikel diuji: bangunan pengolahan sudah berdiri, tetapi nilai jualnya masih bergantung pada satu angka acuan yang mengikuti bursa luar negeri.
Harga nikel dan bayangan surplus global
Data perdagangan menunjukkan tekanan yang belum usai. Mengutip Trading Economics, harga nikel diperdagangkan sekitar US$15.607 per ton pada 28 Oktober 2026, turun sekitar 2,36% dalam sebulan terakhir meski masih sedikit lebih tinggi dibanding setahun lalu.
Tekanan datang dari sisi pasokan. International Nickel Study Group (INSG) memperkirakan pasar nikel primer global surplus sekitar 19.000 ton pada 2026, berbalik dari proyeksi defisit 32.000 ton pada April, dan surplus itu diperkirakan melebar pada 2027. Stok di gudang London Metal Exchange juga masih tinggi, di kisaran 280 ribu ton pada paruh kedua Oktober.
Harapan pengetatan sempat muncul dari wacana pemangkasan produksi terkoordinasi di sejumlah smelter nikel Indonesia, termasuk MHP hingga separuh dan nickel pig iron (NPI) sekitar 20%. Namun skalanya belum final.


