Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Viral Nusantara: IHSG Anjlok 3,49 Persen ke Level 5.098

29 Oktober 2026 • zul • 41 kali dibaca
Ilustrasi gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta
Bursa Efek Indonesia, CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Viral nusantara hari ini datang dari lantai bursa. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup merosot 3,49 persen ke level 5.098 pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Penurunan itu terjadi setelah indeks sempat dibuka di zona hijau pada pagi hari.

IHSG kehilangan 184,25 poin dari posisi penutupan sebelumnya. Sebanyak 624 saham berakhir di zona merah, sementara hanya 98 saham menguat dan 70 saham stagnan. Seluruh indeks sektoral ikut melemah tanpa kecuali.

Pelemahan ini menarik karena terjadi di tengah penguatan rupiah. Nilai tukar rupiah justru ditutup menguat 0,26 persen ke Rp18.137 per dolar Amerika Serikat. Dua pasar yang biasanya bergerak searah kini memberi sinyal berbeda.

Viral nusantara: IHSG anjlok 3,49 persen

Angka penutupan menjadi sorotan karena menembus level 5.100. CNN Indonesia mencatat IHSG ditutup di 5.098, sedangkan CNBC Indonesia menulis 5.098,06. Selisih kecil itu berasal dari pembulatan dua digit desimal.

Tata Atur
Iklan

Nilai transaksi dilaporkan berbeda antarmediasi. CNN Indonesia mengutip nilai Rp11,23 triliun dengan 23,22 miliar saham diperdagangkan. CNBC Indonesia mencatat nilai Rp10,13 triliun dengan volume 217,69 juta lot, sedangkan Warta Ekonomi menulis Rp11,22 triliun.

Perbedaan itu perlu dibaca sebagai variasi sumber data, bukan pertentangan fakta. Data transaksi bisa berbeda tergantung cakupan pasar, yaitu pasar reguler, pasar negosiasi, dan pasar tunai. Yang sama adalah arah penurunan dan besarnya koreksi harian.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Pergerakan dari pagi sampai penutupan

Indeks dibuka naik tipis ke 5.305,20. Pada awal sesi, IHSG sempat menyentuh kisaran 5.320 sebelum tekanan jual muncul. Menurut CNBC Indonesia, penurunan tajam terjadi sebelum pukul 10.00 WIB.

Pada sesi siang hingga sore, indeks bergerak di kisaran 5.125 sampai 5.175. IHSG sempat rebound ke area 5.120-an menjelang akhir sesi. Namun, tekanan kembali muncul pada menit-menit terakhir dan menutup hari di dekat posisi terendah.

Pola itu menunjukkan tekanan jual berlangsung sepanjang hari, bukan hanya pada pembukaan. Pembalikan arah dari hijau ke merah dalam satu sesi biasanya menandakan sentimen berubah cepat. Pelaku pasar memilih mengurangi risiko daripada menunggu kejelasan.

Seluruh sektor melemah

CNN Indonesia melaporkan seluruh indeks sektoral melemah, dipimpin sektor barang baku dengan koreksi 4,4 persen. CNBC Indonesia menyebut sektor utilitas turun 5,99 persen, jasa pendidikan 4,60 persen, dan basic materials 4,02 persen.

Perbedaan urutan itu muncul karena setiap media memakai klasifikasi sektoral yang sedikit berbeda. Ada yang memakai klasifikasi lama, ada yang memakai klasifikasi baru. Intinya tetap sama, yaitu tekanan merata di hampir semua kelompok saham.

Saham penekan indeks mencakup bank besar dan perusahaan konglomerasi. CNBC Indonesia menyebut saham perbankan besar, Astra International, dan Telkom menjadi penekan utama. Tekanan pada saham berkapitalisasi besar langsung memengaruhi pergerakan indeks.

Rupiah justru menguat

Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 0,26 persen ke Rp18.137 per dolar Amerika Serikat. Penguatan itu terjadi pada Kamis sore, bersamaan dengan penutupan bursa saham yang merah. Arah berbeda ini sering muncul ketika aliran dana masuk ke obligasi, bukan ke saham.

Penguatan rupiah tidak otomatis berarti pasar keuangan sehat. Bisa jadi investor memindahkan dana dari saham ke surat berharga negara yang dianggap lebih aman. Bisa juga karena faktor global yang menekan dolar, bukan karena faktor domestik.

Tanpa rincian aliran dana lintas pasar, sulit menyimpulkan penyebab pasti. Yang bisa dicatat, pelemahan IHSG hari ini tidak disertai pelemahan rupiah. Kombinasi itu kerap membuat analis menahan diri menyebut krisis nilai tukar.

Tekanan dari kebijakan The Fed

Sentimen global datang dari keputusan bank sentral Amerika Serikat. The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75 sampai 4,00 persen. Keputusan itu tidak bulat karena dua pejabat mendukung kenaikan 25 basis poin.

Ketua The Fed menolak memberi sinyal arah kebijakan berikutnya. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 80 persen. Imbal hasil surat utang Amerika tenor 10 tahun naik ke 5,042 persen setelah keputusan diumumkan.

Imbal hasil yang tinggi membuat aset negara berkembang kurang menarik. Investor cenderung menempatkan dana di aset berdenominasi dolar yang memberi imbal hasil lebih besar. Kondisi itu menekan bursa emerging market, termasuk Indonesia.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga