SOROWAKO — Di antara rumah-rumah warga Luwu Timur, pesantren tumbuh bukan hanya dari ruang kelas, tetapi juga dari dapur. Beras, lauk, dan air panas untuk santri sering menjadi pos biaya yang paling cepat menguras kas pondok. Dari titik itulah program beras santri Laznas Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) bekerja, dan jejaknya bisa dibaca dari jaringan pesantren yang selama ini menjadi mitra WIZ Luwu Timur.
WIZ Luwu Timur dan Pelajaran dari Dapur Pesantren
Bagi pengelola pondok, dapur adalah persoalan harian yang tidak bisa ditunda. Berapa kilogram beras yang harus tersedia pekan ini, bagaimana menjaga lauk tetap bergizi, dan dari mana menutup kekurangan bila donasi bulanan menipis. Persoalan itu hampir tidak pernah muncul dalam laporan tahunan, tetapi dialami setiap hari oleh pengasuh pesantren.
Program beras santri Laznas WIZ bekerja pada lapisan paling dasar itu. Bantuan pangan disalurkan langsung ke pondok pesantren dan rumah Qur’an, bukan dalam bentuk uang tunai yang harus dikelola sendiri oleh pengurus. Cara ini membuat bantuan lebih mudah dipakai: beras datang, dapur mengepul, dan santri tetap makan sebelum masuk kelas tahfizh.
Bagi Luwu Timur, makna program ini bukan sekadar bantuan pangan. Wilayah yang membentang dari pesisir Malili hingga kawasan Nuha, Towuti, Kalaena, dan Tomoni memiliki pesantren dan rumah Qur’an yang jaraknya berjam-jam dari pusat kota. Ketika pengurus WIZ Luwu Timur berbicara soal kepedulian, yang dimaksud bukan hanya santunan pada momen musibah, tetapi juga keberlanjutan operasional lembaga pendidikan Al-Qur’an sehari-hari.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
675 Santri dan 23 Lokasi: Beras untuk Penuntut Ilmu
Pada Ahad, 27 September 2026, Laznas WIZ menuntaskan penyaluran beras santri untuk periode September. Program itu menjangkau 23 lokasi pondok pesantren dan rumah Qur’an di Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Takalar, dengan total 675 santri dan santriwati sebagai penerima manfaat, seperti dilaporkan laman resmi WIZ.
Fasilitator program beras santri, Azhari Asaf, menjelaskan alasan di balik bantuan yang tampak sederhana itu. “Kehadiran bantuan beras ini diharapkan mampu meringankan beban kebutuhan logistik pangan di lingkungan pondok pesantren. Lebih dari itu, bantuan tersebut disalurkan sebagai bentuk dukungan nyata agar para santri memiliki pasokan gizi yang cukup, sehingga semakin bersemangat dalam belajar, membaca, serta menghafalkan Al-Qur’an setiap harinya,” katanya seperti dikutip laman resmi WIZ.
Sebelumnya, pada periode Agustus 2026, program yang sama menjangkau 20 titik pondok dan pusat belajar di Makassar, Gowa, dan Takalar dengan 529 santri penerima manfaat. Angka-angka itu menunjukkan pola yang penting: program beras santri berjalan berulang setiap bulan, bukan sekali lalu berhenti. Bagi pesantren kecil, kepastian pasokan semacam ini lebih berarti daripada bantuan seremonial.
Buka Puasa Sunnah di Palopo: Apresiasi untuk Santri
Di sisi lain, WIZ juga menjaga sisi lain kehidupan pesantren: ritme ibadah para santri. Pada Kamis, 15 Oktober 2026, Laznas WIZ Pusat bersama WIZ Gerai Palopo menggelar buka puasa sunnah bersama santri pondok pesantren di Jalan Andi Bintang, Kelurahan Peta, Kecamatan Sendana, Kota Palopo.
Kegiatan itu dikemas dengan konsep area terbuka. Santri duduk menunggu azan Magrib di bawah langit sore, suasana yang menurut fasilitator program Laznas WIZ, Mahyudin, memberi warna berbeda dibanding kegiatan rutin di dalam ruangan. “Program ini tidak sekadar membagikan santapan berbuka, tetapi juga wujud perhatian dan kasih sayang kita bersama agar para santri semakin bersemangat dan istiqamah dalam beribadah serta menuntut ilmu agama,” ujarnya.
Yang menarik dari kegiatan ini adalah polanya: WIZ Pusat bekerja bersama gerai daerah. Bagi Luwu Timur, pola itu relevan karena jaringan Wahdah di wilayah ini berjalan lewat cabang-cabang kecamatan yang mengenal kebutuhan warganya sendiri, dari persoalan dapur pondok sampai kebutuhan guru mengaji di pelosok.


