Viral nusantara dari pasar komoditas: harga emas dunia anjlok ke level terendah dalam lebih dari setahun pada perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026. Logam mulia itu ditutup di US$3.875,03 per troy ons, turun 3,6 persen dalam sehari, menurut data yang dikutip CNBC Indonesia dari Refinitiv.
Penurunan tersebut memperpanjang pelemahan dua hari menjadi 4,7 persen. Dalam sepekan, emas kehilangan 3,02 persen dan mencatat pekan merah ketiga berturut turut. Secara bulanan, harga emas sudah turun 6,76 persen sepanjang Oktober.
Bagi banyak investor, level ini mengejutkan. Sepanjang 2026 emas sempat menjadi aset favorit ketika ketidakpastian global meningkat. Kini harga justru berada sekitar 25 persen di bawah puncaknya pada akhir Februari.
Angka penutupan Jumat
Harga penutupan US$3.875,03 per troy ons disebut sebagai yang terendah sejak 2 Oktober 2025, ketika emas berada di US$3.856,01. Artinya, dalam satu tahun terakhir harga emas praktis kembali ke titik awal.
Liputan6, mengutip Kitco, mencatat harga emas spot terakhir diperdagangkan di sekitar US$3.880 per ons dengan penurunan harian 3,5 persen. Titik terendah intraday sempat menyentuh US$3.884,61 per ons menurut laporan itu.
Ada sedikit perbedaan penanda waktu antar media. CNBC Indonesia menyebut level terendah sejak 2 Oktober 2025, sementara Liputan6 menyebut 6 Oktober 2025. Perbedaan itu berasal dari data acuan yang dipakai masing masing, bukan dari perbedaan peristiwa.
Yang disepakati kedua laporan, arah pergerakannya sama: emas kehilangan kenaikan setahun terakhir dan berada di bawah US$4.000 per ons, level yang sempat dianggap lantai psikologis oleh sebagian pelaku pasar.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Viral nusantara: emas kehilangan kenaikan setahun
Selama setahun terakhir, emas naik ketika investor mencari perlindungan dari ketidakpastian. Permintaan bank sentral, pembelian ritel, dan ekspektasi penurunan suku bunga menjadi tiga pendorong utama.
Ketika ekspektasi itu berbalik, harga bergerak cepat ke arah sebaliknya. Emas tidak memberi imbal hasil seperti obligasi atau dividen seperti saham, sehingga daya tariknya sangat bergantung pada biaya memegang aset lain.
Selama suku bunga Amerika Serikat diperkirakan bertahan tinggi lebih lama, biaya peluang memegang emas meningkat. Investor cenderung memindahkan dana ke instrumen berbunga yang memberi hasil lebih pasti.
Karena itu, koreksi kali ini lebih mencerminkan perubahan ekspektasi suku bunga dibanding memburuknya permintaan fisik. Permintaan perhiasan dan pembelian bank sentral bergerak lebih lambat dibanding arus dana di pasar berjangka.
Pemicu: inflasi dan lonjakan harga energi
Tekanan utama datang dari lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang belum mereda. Harga minyak yang tinggi mendorong biaya produksi dan transportasi, lalu merambat ke inflasi barang dan jasa.
Data yang dikutip Utusan Malaysia menunjukkan inflasi harga konsumen Amerika Serikat naik. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi September tercatat 3,6 persen secara tahunan, naik dari 3,4 persen pada Agustus.
Inflasi inti yang tidak memasukkan harga makanan dan energi juga naik menjadi 3,1 persen dari 3,0 persen. Angka ini penting karena menjadi acuan bank sentral Amerika Serikat dalam menentukan arah suku bunga.
Menurut laporan yang sama, Federal Reserve mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75 sampai 4,00 persen pada rapat 28 Oktober 2026. Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan suku bunga yang bertahan di level itu menekan harga emas.
Perak jatuh lebih dalam
Penurunan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot merosot di bawah US$50 per ons, dengan pelemahan harian hampir 6 persen ke sekitar US$48,95 per ons menurut Liputan6.
Sepanjang pekan, perak tercatat turun hampir 9 persen dan menjadi pekan terburuk sejak awal Juni. Perak memang lebih volatil dibanding emas karena porsi permintaan industrinya lebih besar.
Ketika kekhawatiran pertumbuhan meningkat, permintaan industri perak ikut melemah. Itu sebabnya perak sering bergerak lebih tajam, baik saat naik maupun saat turun.
Bagi investor yang memegang keduanya, pekan ini menjadi pengingat bahwa emas dan perak tidak selalu bergerak sebagai pelindung nilai. Keduanya tetap aset yang harganya ditentukan pasar, bukan jaminan.


