Berita Luwu Timur dari dunia pendidikan keagamaan: Kantor Kementerian Agama Kabupaten Luwu Timur memperingati Hari Santri Nasional 2026 dengan upacara serentak di 20 lokasi pondok pesantren. Rangkaian kegiatan itu tidak berhenti pada upacara. Setelah bendera diturunkan, peserta melanjutkan aksi peduli lingkungan berupa penanaman bibit pohon alpukat di lingkungan madrasah dan pesantren.
Kegiatan berlangsung pada Kamis, 22 Oktober 2026. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Luwu Timur, Rusdidaming, bertindak sebagai pembina upacara di Pondok Pesantren Al-Muhajirien, Kecamatan Mangkutana. Pelaksanaan serentak di 20 titik dipilih agar santri, tenaga pendidik, aparatur sipil negara di lingkungan Kantor Urusan Agama, serta masyarakat bisa memperingati hari santri tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke satu lokasi pusat.
Berita Luwu Timur: Upacara Serentak di 20 Pesantren
Menurut laporan Input Rakyat, upacara diikuti oleh seluruh kepala Kantor Urusan Agama kecamatan, kepala madrasah, dan pimpinan pondok pesantren se-Kabupaten Luwu Timur. Para pimpinan unit kerja mengonsolidasikan siswa, guru, dan ASN di lingkungan KUA untuk mengikuti upacara di lokasi yang telah ditentukan.
Peserta tampil khas dalam busana santri. Peserta pria mengenakan peci hitam, kemeja putih, dan sarung. Peserta wanita mengenakan gamis putih dengan kerudung hitam. Selain unsur internal Kemenag dan madrasah, pimpinan pondok pesantren juga mengundang camat, kepala desa, majelis taklim, serta masyarakat setempat.
Pilihan menggelar upacara di 20 titik punya konsekuensi logistik. Setiap lokasi membutuhkan petugas upacara, perlengkapan, dan koordinasi dengan pemerintah setempat. Namun cara ini membuat peringatan lebih dekat kepada santri, terutama mereka yang berada di kecamatan yang jauh dari pusat pemerintahan di Malili.
Luwu Timur memiliki 11 kecamatan dan 128 desa serta kelurahan dengan luas wilayah sekitar 6.944 kilometer persegi. Dalam wilayah seluas itu, kegiatan serentak bukan sekadar simbol. Ia menjadi cara agar kebijakan pendidikan keagamaan tidak menumpuk di satu titik dan meninggalkan sekolah serta pesantren di wilayah pinggiran.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Ekoteologi: dari Ibadah ke Kebiasaan Harian
Istilah ekoteologi merujuk pada cara memandang pelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. Dalam praktiknya, gagasan ini diterjemahkan menjadi kegiatan yang konkret: menanam pohon, merawat kebersihan lingkungan, dan mengelola sampah. Kementerian Agama telah mendorong program ini melalui gerakan pesantren hijau yang diperkenalkan pada momentum Hari Santri Nasional sebelumnya.
Bagi pesantren, ekoteologi punya alasan praktis. Pesantren adalah komunitas yang tinggal menetap: santri makan, tidur, belajar, dan beraktivitas di kawasan yang sama setiap hari. Kualitas lingkungan di pesantren langsung memengaruhi kesehatan santri. Pohon peneduh mengurangi panas, akar pohon membantu menahan air, dan lingkungan yang bersih menurunkan risiko penyakit.
Selain itu, pesantren sering memiliki lahan yang bisa dimanfaatkan. Tidak semua pesantren punya kebun produktif, tetapi hampir semua memiliki halaman, jalan kecil, atau area kosong. Penanaman pohon buah di area seperti itu memberi dua manfaat sekaligus: peneduh dan, jika dirawat dengan baik, hasil panen di kemudian hari.
1.226 Bibit Alpukat dan Angka yang Bisa Diaudit
Jumlah bibit yang ditanam dalam aksi ekoteologi ini tercatat 1.226 batang. Angka itu bukan angka bulat yang mudah diucapkan, dan justru karena itu ia bisa diperiksa. Setiap pesantren dan madrasah penerima bibit dapat mencatat jumlah yang diterima, lokasi tanam, serta kondisi tanaman setelah beberapa bulan.
Penanaman dijadwalkan berlangsung pada 22 Oktober hingga 5 November 2026. Rentang waktu itu masuk akal karena penanaman serentak di banyak lokasi tidak bisa diselesaikan dalam satu hari. Cuaca, ketersediaan air, dan kesiapan lahan di masing-masing pesantren menentukan kapan bibit benar-benar masuk ke tanah.
Yang perlu diperhatikan setelah penanaman justru bukan jumlah bibit, melainkan tingkat tanaman yang hidup. Pohon alpukat membutuhkan perawatan, terutama pada tahun pertama: penyiraman saat kemarau, pembersihan gulma, dan perlindungan dari hewan ternak. Tanpa perawatan, angka 1.226 hanya menjadi catatan seremonial.
Karena itu, pesantren yang terlibat perlu memiliki penanggung jawab tanaman. Bisa guru, bisa pengurus, bisa santri yang diberi tugas bergiliran. Cara sederhana seperti papan nama penanam dan jadwal penyiraman sering lebih efektif daripada program besar tanpa pengawasan.


