Klaim Beijing soal kemampuan angkatan lautnya kembali menjadi berita viral di kanal pertahanan setelah drone siluman GJ-21 berhasil lepas landas dan mendarat di kapal serbu amfibi Sichuan. Uji coba itu diumumkan kantor berita Xinhua pada Jumat, 30 Oktober 2026, dan dilaporkan ulang sejumlah media internasional pada awal November. Jika terkonfirmasi penuh, ini menjadi tonggak baru bagi operasi drone dari kapal perang besar.
Berita Viral Uji Coba GJ-21 dari Sichuan
Menurut pemberitaan Channel News Asia yang mengutip Xinhua, GJ-21 menyelesaikan lepas landas dan pendaratan pertamanya di Sichuan. Xinhua menyebut peristiwa itu sebagai terobosan dalam program kapal serbu amfibi China. Pernyataan resmi juga menegaskan angkatan laut kini memiliki kemampuan mengoperasikan drone siluman bersayap tetap dari platform laut besar.
Sichuan adalah kapal pertama kelas Type 076 yang diluncurkan pada Desember 2024. Kapal ini memakai katapel elektromagnetik dan sistem penangkap udara, teknologi yang biasanya melekat pada kapal induk. Dengan kombinasi itu, kapal dapat meluncurkan pesawat bersayap tetap, bukan hanya helikopter.
Uji coba berlangsung dalam rangkaian pelayaran percobaan yang dilakukan pada akhir Oktober. Lokasi dan waktu persisnya tidak diumumkan. Media pemerintah juga tidak menyebut berapa kali lepas landas dan pendaratan dilakukan dalam pengujian tersebut.
CNN Indonesia memberitakan klaim yang sama pada Senin, 2 November 2026. Dalam laporan itu, Xinhua disebut sebagai sumber utama, sementara keterangan resmi militer China masih sangat singkat. CNN Indonesia mencatat uji coba dilakukan menggunakan kapal serbu amfibi tipe 076 yang dinamai Sichuan.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Apa Itu GJ-21
GJ-21 adalah drone pengintai dan penyerang siluman yang dirancang untuk beroperasi dari kapal perang. Bentuknya sayap terbang tanpa ekor vertikal, dengan badan menyatu ke sayap. Konfigurasi ini memberi ruang internal lebih besar untuk bahan bakar dan persenjataan, sekaligus menekan tanda radar.
Data yang beredar menyebut panjangnya 12,2 meter dan lebar bentang 14,4 meter. Drone ini dibuat oleh Aviation Industry Corp of China, perusahaan penerbangan utama negara tersebut. Prototipe atau versi pamerannya sempat muncul dalam parade militer pada September 2025 di Beijing.
Menurut TASS, GJ-21 digolongkan sebagai drone pengintai dan penyerang berat dengan kemampuan rendah terdeteksi. Berat dan dimensinya membuatnya lebih dekat ke pesawat tempur ringan tanpa awak daripada drone kecil. Klasifikasi itu menjelaskan mengapa peluncuran membutuhkan katapel, bukan rel pendek.
Sejumlah analis menyebut keunggulan utamanya adalah biaya operasional. Drone dapat dipakai berulang, berbeda dari misil yang sekali pakai. Dengan begitu, kapal dapat mengirim gelombang pengintaian dan serangan dengan biaya lebih terkendali.
Kapal Serbu Amfibi Type 076
Sichuan memiliki bobot penuh lebih dari 40.000 ton metrik. Dek terbangnya membentang sepanjang kapal dan memakai dua pulau pengendali. Nomor lambungnya 51, dan kapal dibangun di galangan Hudong-Zhonghua di Shanghai.
Kapal kelas ini dirancang untuk mengangkut drone bersayap tetap, helikopter, dan peralatan amfibi. Ruang internalnya memuat kendaraan pendarat serta pasukan. Kombinasi itu membuat Type 076 berfungsi sebagai kapal serbu sekaligus kapal induk ringan untuk drone.
Menurut laporan The War Zone, citra satelit menunjukkan Sichuan berada di galangan pada 13 Oktober dan meninggalkan pelabuhan empat hari kemudian. Kapal terlihat kembali pada 26 Oktober. Jejak itu konsisten dengan klaim pelayaran percobaan pada akhir bulan.
Sebelum uji ini, militer China sudah melakukan pengujian katapel dengan alat uji berbentuk truk di dek pada 2025. Video pengujian itu sempat beredar. Karena itu, langkah berikutnya menuju penerbangan drone sungguhan memang sudah diperkirakan pengamat.
Klaim Terobosan Dunia
Media pemerintah China menyebut uji ini sebagai yang pertama di dunia untuk pesawat bersayap tetap dari kapal serbu amfibi. Kapal serbu amfibi negara lain umumnya mengoperasikan pesawat dengan lepas landas pendek atau pendaratan vertikal. Sichuan memakai katapel dan penangkap, pendekatan yang berbeda.
Klaim itu belum diverifikasi pihak independen. Belum ada rekaman resmi yang menunjukkan rangkaian lepas landas dan pendaratan secara utuh. Karena itu, statusnya masih klaim negara yang diberitakan media pemerintah, bukan temuan pengamat independen.
Selain itu, istilah terobosan perlu dibaca dengan hati-hati. Kemampuan teknis satu kali uji tidak sama dengan kesiapan operasional penuh. Dibutuhkan rangkaian uji lanjutan, pelatihan awak, dan sertifikasi sebelum skuadron drone benar-benar beroperasi.
China juga belum mengumumkan jumlah drone yang akan dibawa Sichuan. Kapasitas angkut, jenis misi, dan dukungan logistik masih menjadi tanda tanya. Semua itu menentukan seberapa besar dampak nyata kemampuan ini.


