SUARALUTIM.COM, WOTU — Berita Luwu Timur hari ini datang dari balai pertemuan desa, bukan dari ruang rapat berpendingin. Bupati Irwan Bachri Syam mendengarkan langsung keluhan petani dalam Rapat Koordinasi Penyuluh Pertanian Program Strategis Kementerian Pertanian di Desa Lera, Kecamatan Wotu, Selasa (3/11/2026). Tiga persoalan mendominasi: bahan bakar minyak untuk petani dan nelayan, jembatan penghubung di Jalajja, serta bantuan alat mesin pertanian.
Dialog semacam ini mudah berubah menjadi seremoni foto bersama. Yang membuatnya berbeda adalah respons yang diberikan di tempat: satu permintaan dijawab dengan janji edaran, satu permintaan diarahkan ke dinas teknis, dan satu permintaan lagi diberi syarat verifikasi sebelum bantuan turun.
Bagi warga Wotu dan desa-desa sekitarnya, tiga hal itu bukan isu abstrak. BBM menentukan apakah pompa air dan traktor bisa jalan. Jembatan menentukan apakah hasil panen bisa keluar dari kebun tanpa memutar jauh. Traktor menentukan berapa lama tanah bisa diolah sebelum musim berganti.
Tiga keluhan yang dibawa petani ke forum
Dalam dialog tersebut, sejumlah persoalan disampaikan petani, mulai dari kebutuhan bahan bakar minyak bagi petani dan nelayan, pembangunan infrastruktur jembatan, hingga kebutuhan alat mesin pertanian untuk menunjang aktivitas usaha tani.
Urutan keluhan itu menarik dicatat. BBM berada di depan, bukan karena petani ingin keistimewaan, tetapi karena tanpa pasokan yang pasti seluruh rangkaian kerja tani terganggu. Setelah BBM, persoalan infrastruktur, lalu alat. Ketiganya saling terkait: bahan bakar tanpa jalan yang layak tetap mahal, dan alat tanpa bahan bakar hanya menjadi besi di gudang.
Yang juga menonjol: keluhan datang dari petani dan nelayan sekaligus. Dua kelompok ini biasa dibahas terpisah, padahal di banyak kecamatan pesisir dan danau, satu keluarga bisa memiliki sawah dan perahu. Kebijakan yang hanya menyasar salah satu akan terasa timpang.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
BBM: janji edaran pekan depan
Menanggapi kebutuhan BBM, Bupati meminta agar petani dan nelayan mendapatkan prioritas dalam pengisian bahan bakar. Menurutnya, ketersediaan BBM menjadi salah satu kebutuhan penting untuk mendukung kelancaran aktivitas masyarakat, khususnya di sektor pertanian dan perikanan.
“Saya minta, petani dan nelayan diprioritaskan pengisian BBM. Insya Allah minggu depan sudah ada edarannya,” tegasnya, seperti dikutip Kabar Lutim.
Janji itu perlu dicatat dengan tanggal. Dialog berlangsung Selasa, 3 November 2026, sehingga pekan yang dimaksud adalah pekan kedua November. Sampai berita ini ditulis, belum ada salinan edaran yang dipublikasikan, sehingga isi aturannya belum bisa diperiksa publik. Yang bisa dipegang saat ini adalah pernyataan lisan kepala daerah di forum resmi.
Program strategis Kementerian Pertanian sendiri menempatkan penyuluh sebagai ujung tombak di lapangan, seperti dijelaskan pada laman Kementerian Pertanian. Di Luwu Timur, penyuluh adalah pihak yang paling tahu kondisi traktor, pompa, dan jadwal tanam di desanya. Karena itu, masukan mereka sebaiknya menjadi dasar penyusunan daftar prioritas bantuan, bukan hanya pelengkap laporan.
Bagi pembaca yang mengikuti isu ini, tiga pertanyaan layak diajukan begitu edaran terbit: siapa yang berhak mendapat prioritas, bagaimana cara membuktikannya di SPBU, dan apakah prioritas itu berlaku di semua SPBU atau hanya di titik tertentu.
Jembatan Jalajja dan traktor Harapan Makmur
Selain BBM, Bupati menanggapi aspirasi masyarakat terkait pembangunan jembatan di Jalajja. Ia meminta Kepala Dinas Pekerjaan Umum untuk turun langsung meninjau kondisi jembatan tersebut dan mengupayakan alokasi anggaran pada tahun 2027.
Permintaan itu menunjukkan dua hal. Pertama, jembatan Jalajja belum masuk daftar kegiatan yang dibiayai tahun ini. Kedua, jalur penyelesaiannya adalah perencanaan anggaran tahun berikutnya, bukan perbaikan darurat. Bagi warga yang melintasi jembatan setiap hari, artinya penantian masih panjang, kecuali ada penanganan sementara.
Respons lain diberikan kepada Kelompok Tani Harapan Makmur yang menyampaikan kebutuhan bantuan satu unit traktor. Bupati menyatakan kesediaannya memberikan bantuan tersebut dengan terlebih dahulu memastikan bahwa traktor lama milik kelompok tani itu benar-benar sudah tidak dapat difungsikan.
“Kita memberikan alat dan mesin pertanian berdasarkan kebutuhan. Kita harus memastikan bantuan yang diberikan memang diperlukan dan bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian,” tuturnya.
Syarat verifikasi itu masuk akal. Bantuan alsintan yang diberikan tanpa pengecekan sering berakhir mangkrak, atau menumpuk di satu kelompok sementara kelompok lain tidak pernah menerima. Pengecekan kondisi traktor lama juga menjadi cara memastikan bantuan tidak dijual kembali.


