Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Andi Amar Ma’ruf Sulaiman kembali menjadi rujukan bagi pengusaha muda Luwu Timur yang ingin membangun usaha secara lebih terarah. Melalui posisinya sebagai Anggota DPR RI Komisi III Fraksi Gerindra sekaligus Ketua Umum BPD HIPMI Sulawesi Selatan, ia berada di dua ruang yang saling melengkapi: menjaga iklim hukum yang sehat dan memperluas kaderisasi wirausaha muda di daerah.
Sudut ini penting bagi Luwu Timur karena daerah ini tidak hanya hidup dari industri besar. Di balik aktivitas tambang, jasa, pertanian, kuliner, perikanan, dan perdagangan lokal, ada anak muda yang membutuhkan jalan belajar bisnis yang lebih rapi. Mereka butuh mentor, akses kampus, ruang jejaring, dan kurikulum praktis agar ide usaha tidak berhenti di obrolan.
Karena itu, agenda HIPMI Institute Sulawesi Selatan yang dikaitkan dengan kampus dan pengembangan pendiri usaha muda patut dibaca sebagai peluang. Bagi pelaku UMKM dan calon pengusaha di Malili, Wotu, Towuti, Nuha, Wasuponda, Burau, Tomoni, sampai Mangkutana, gagasan ini membuka percakapan baru: bisnis lokal perlu naik dari sekadar coba-coba menuju usaha yang punya keterampilan, pencatatan, legalitas, dan jaringan pasar.
Andi Amar dan arah kaderisasi pengusaha muda
Fakta yang terverifikasi, Andi Amar Ma’ruf Sulaiman adalah Anggota DPR RI periode 2024-2029, Fraksi Partai Gerindra, dan duduk di Komisi III. Profil fraksi menempatkannya pada bidang hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Di luar parlemen, ia juga memimpin BPD HIPMI Sulawesi Selatan periode 2024-2027, organisasi yang membawahi jaringan HIPMI kabupaten dan kota, termasuk ruang kaderisasi pengusaha muda di Luwu Timur.
Peran ganda itu membuat pembahasan tentang wirausaha muda tidak cukup dilihat sebagai urusan jualan. Usaha yang tumbuh sehat membutuhkan kepastian aturan, keamanan investasi, kemampuan kontrak, perlindungan konsumen, dan keberanian membuka lapangan kerja. Inilah titik temu antara Komisi III dan HIPMI Sulawesi Selatan: pengusaha daerah membutuhkan iklim hukum yang dipercaya, sekaligus wadah belajar yang bisa menuntun dari ide menuju bisnis.
Pada sisi organisasi, pemberitaan ANTARA News Makassar mencatat HIPMI Institute Sulawesi Selatan menggandeng kampus-kampus untuk menciptakan pengusaha muda dari kalangan mahasiswa. Program itu diarahkan agar mahasiswa tidak hanya berpikir mencari pekerjaan setelah lulus, tetapi juga melihat peluang untuk membuka pekerjaan.
Masih dalam laporan yang sama, Ketua HIPMI Institute Sulawesi Selatan Muhammad Yusuf Sirajuddin menyebut lembaga itu dilantik bersama 113 pengurus di Hotel MaxOne Makassar oleh Ketua Umum BPD HIPMI Sulsel Andi Amar Ma’ruf Sulaiman. Informasi ini memperjelas bahwa jalur pembinaan tersebut bukan wacana lepas, melainkan bagian dari agenda organisasi yang sudah memiliki struktur dan pengurus.
Jalur kampus bisa menyentuh Luwu Timur
Bagi Luwu Timur, pendekatan kampus dapat diterjemahkan secara praktis. Banyak anak muda daerah belajar di Makassar, Palopo, Kendari, Bone, Gowa, atau kampus lain di Sulawesi Selatan. Setelah lulus, sebagian kembali ke kampung halaman, sebagian lagi bekerja di kota, dan sebagian ingin membuka usaha tetapi belum tahu harus memulai dari mana. Jaringan HIPMI Sulawesi Selatan dapat menjadi jembatan agar pengalaman belajar di kampus tidak putus dari kebutuhan ekonomi daerah.
Pengusaha muda Luwu Timur juga membutuhkan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak semua harus membangun perusahaan besar sejak awal. Ada peluang di rantai pasok makanan, jasa perbengkelan, kebutuhan pekerja industri, produk pertanian, logistik lokal, fotografi produk, toko daring, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan digital untuk UMKM desa. Bila jalurnya rapi, usaha kecil dapat berubah menjadi bisnis yang lebih tahan lama.
Gagasan itu sejalan dengan laporan Gosulsel, yang menulis bahwa HIPMI Institute Sulsel mendorong pengusaha baru mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan bisnis. Visi yang disebut dalam pemberitaan itu ialah meningkatkan keterampilan pendiri usaha, sehingga bisnisnya ikut bertumbuh.


