Skill, legalitas, dan jejaring pasar
Pengalaman banyak pelaku UMKM menunjukkan bahwa masalah usaha sering muncul bukan karena produk buruk, tetapi karena fondasi belum lengkap. Ada yang tidak memisahkan uang pribadi dan uang usaha. Ada yang belum menyiapkan izin dasar. Ada pula yang tidak punya foto produk yang layak, tidak tahu menghitung harga pokok, atau belum mampu menjelaskan nilai produk kepada pembeli.
Di sinilah pesan kaderisasi Andi Amar melalui HIPMI Sulawesi Selatan menjadi relevan. Pengusaha hari ini tidak cukup hanya punya semangat. Ia perlu keterampilan yang bisa dilatih, diuji, dan diperbaiki. Pelatihan kewirausahaan yang baik seharusnya tidak berhenti pada motivasi, tetapi masuk ke kemampuan teknis: menyusun model bisnis, membuat arus kas, membaca kontrak, mengurus legalitas, dan membangun jaringan.
Dalam laporan Spionase News, Andi Amar dikutip menekankan peran HIPMI Institute sebagai jembatan transformasi. Ia menyatakan, “Kami ingin menjadi jembatan dari yang tidak bisa menjadi bisa. Pengusaha hari ini bukan hanya soal punya toko, tapi bagaimana skill bisa dikembangkan menjadi bisnis.” Kutipan ini memberi arah yang jelas: pendiri usaha harus dibantu agar kemampuan mereka menjadi usaha yang nyata.
Kalimat tersebut penting untuk pembaca Luwu Timur. Banyak anak muda daerah memiliki akses gawai, media sosial, dan jejaring komunitas, tetapi belum memiliki peta belajar yang sistematis. Dengan pola pembinaan yang benar, kemampuan membuat konten, memasak, mendesain, memperbaiki mesin, bertani, berdagang, atau mengelola jasa dapat diarahkan menjadi usaha yang lebih profesional.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Relevansi bagi UMKM dan anak muda Lutim
Luwu Timur memiliki karakter ekonomi yang khas. Ada kawasan industri, desa pertanian, wilayah pesisir, sentra perdagangan, dan destinasi wisata danau. Setiap karakter itu membuka peluang bagi pengusaha muda. Anak muda di Nuha bisa membaca peluang jasa dan kuliner di sekitar aktivitas industri serta wisata Danau Matano. Pelaku usaha di Wotu dan Burau bisa mengembangkan produk pertanian dan olahan. Di Malili, peluang jasa pendukung administrasi, kreatif, dan logistik juga terbuka.
Namun peluang itu tidak otomatis menjadi usaha yang sehat. Butuh ruang belajar agar generasi muda tidak mudah berhenti saat gagal pertama. Mereka perlu melihat bahwa bisnis dibangun dengan proses, bukan sekadar modal. Keterampilan menjual, melayani pelanggan, menjaga kualitas, membuat catatan keuangan, dan membangun kepercayaan menjadi bagian dari sekolah panjang yang tidak selalu didapat di ruang kuliah formal.
SuaraLutim sebelumnya telah menulis tentang jalur UMKM Luwu Timur naik kelas melalui HIPMI Sulawesi Selatan. Artikel lain juga membahas pentingnya usaha muda bebas dari pungli dan kesiapan UMKM Luwu Timur menghadapi kewajiban halal. Tiga isu itu saling berkaitan: pengusaha muda butuh kapasitas, perlindungan, dan kepatuhan agar bisnisnya dipercaya.
Dengan membaca rangkaian itu, Andi Amar dapat ditempatkan sebagai figur yang mendorong dua ekosistem sekaligus. Di parlemen, ia membawa perhatian pada kepastian hukum dan kepercayaan publik. Di HIPMI Sulawesi Selatan, ia mendorong pengembangan pengusaha muda melalui lembaga pembinaan. Bagi Luwu Timur, kombinasi ini dapat menjadi narasi positif: anak muda daerah perlu tumbuh dalam ekosistem yang legal, terampil, dan saling terhubung.
Agenda yang perlu ditangkap daerah
Agar gagasan ini tidak berhenti di Makassar, pelaku usaha Luwu Timur perlu aktif mengambil posisi. BPC HIPMI, komunitas UMKM, kampus, sekolah kejuruan, pemerintah desa, dan pelaku industri dapat membuka ruang kolaborasi. Misalnya, membuat kelas dasar pembukuan, klinik legalitas usaha, pelatihan foto produk, forum mentor bulanan, atau kunjungan belajar ke usaha yang sudah berjalan.
Andi Amar dan HIPMI Sulawesi Selatan telah menyediakan arah besar: membangun pendiri usaha yang keterampilannya naik, jejaringnya terbuka, dan bisnisnya bisa berkembang. Tantangan berikutnya ada di daerah, termasuk Luwu Timur, untuk menjemput agenda itu dengan program konkret. Bagi anak muda yang ingin memulai usaha, pesan paling sederhana adalah mulai dari keterampilan yang dimiliki, rapikan legalitas, cari mentor, dan masuk ke jejaring yang benar.
FAQ
Apa kaitan Andi Amar dengan pengusaha muda Luwu Timur?
Andi Amar adalah Ketua Umum BPD HIPMI Sulawesi Selatan. Jaringan HIPMI Sulsel menaungi ruang kaderisasi pengusaha muda kabupaten dan kota, sehingga gagasan pembinaan usaha muda relevan bagi Luwu Timur.
Apakah Andi Amar anggota DPR RI dari dapil Luwu Timur?
Tidak. Andi Amar adalah Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan II. Kaitan dengan Luwu Timur dalam artikel ini berada pada perannya sebagai Ketua Umum BPD HIPMI Sulawesi Selatan dan agenda pembinaan pengusaha muda.
Apa manfaat jalur kampus bagi UMKM Luwu Timur?
Jalur kampus dapat membantu calon pengusaha belajar bisnis lebih awal, membangun jejaring mentor, memahami legalitas, dan menyiapkan usaha yang lebih siap membuka lapangan kerja.
Sumber: ANTARA News Makassar, Gosulsel, Spionase News, serta arsip SuaraLutim yang ditautkan dalam artikel.
Gambar: ANTARA/M Darwin Fatir.


