SUARALUTIM.COM, MALILI — PAN Luwu Timur menempatkan komisi yang membidangi ekonomi sebagai pintu masuk pengawalan sektor pertanian. Dua legislator dari Fraksi Partai Amanat Nasional di DPRD Kabupaten Luwu Timur, Juddin dan Firman Udding, bertugas di Komisi II Bidang Ekonomi, komisi yang membahas kebijakan pertanian, usaha kecil, hingga belanja daerah untuk sektor tersebut.
Posisi itu menjadi relevan ketika Pemerintah Kabupaten Luwu Timur membidik peningkatan produksi padi melalui percepatan musim tanam Oktober 2026 hingga Maret 2027, yang dibahas dalam forum Tudang Sipulung di Desa Mahalona, Kecamatan Towuti, pada Rabu, 14 Oktober 2026.
PAN Luwu Timur dan jalur kerja Komisi II
Berdasarkan susunan fraksi dan Keputusan DPRD Kabupaten Luwu Timur Nomor 24 Tahun 2024, Juddin menjabat Sekretaris Komisi II Bidang Ekonomi sekaligus anggota Badan Anggaran untuk daerah pemilihan Luwu Timur 3, Wotu–Burau. Sementara Firman Udding, S.IP adalah Wakil Ketua Fraksi PAN yang juga duduk di Komisi II, Bapemperda, dan Badan Anggaran untuk daerah pemilihan Luwu Timur 1, Malili–Wasuponda.
Dua posisi itu memberi jalur kerja yang jelas. Komisi II membahas substansi kebijakan ekonomi, sedangkan Badan Anggaran menentukan alokasi belanja. Bagi petani, dua pintu itu menentukan apakah usulan seperti pompanisasi, jalan usaha tani, atau penguatan irigasi benar-benar masuk dalam anggaran atau hanya berhenti sebagai catatan rapat.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Target tanam padi dan capaian produksi Luwu Timur
Forum Tudang Sipulung di Mahalona diselenggarakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur. Agenda utamanya menyepakati jadwal tanam serentak dan merumuskan strategi peningkatan produksi untuk musim tanam Oktober 2026 sampai Maret 2027.
Data yang dipaparkan dalam forum itu memberi gambaran capaian sejauh ini. Periode Januari hingga 30 September 2026, realisasi luas tanam padi di Luwu Timur mencapai 45.551,57 hektare dengan luas panen 26.976,32 hektare. Total produksi tercatat 179.822,46 ton Gabah Kering Panen dengan produktivitas rata-rata 6,67 ton per hektare.
Angka produktivitas itu bukan angka kecil untuk wilayah dengan topografi berbukit dan jarak antarkecamatan yang jauh. Namun capaian tanam juga menunjukkan pekerjaan rumah: selisih antara luas tanam dan luas panen menandakan masih ada lahan yang belum sampai pada tahap panen pada periode tersebut.
Dukungan sarana dan waktu tanam menurut BMKG
Selain kesepakatan jadwal, forum itu juga menjadi tempat penyampaian dukungan sarana. Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur, Munadiah As’ad, menyampaikan bahwa 46 unit bantuan pompanisasi siap diserahkan. Dukungan lain mencakup bantuan benih padi, traktor, combine harvester, mesin tanam, pompa air, pembangunan jaringan irigasi dan jalan usaha tani, serta bantuan pengembangan komoditas lada dan kakao.
Dari sisi iklim, Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, memperkirakan waktu tanam yang sesuai untuk wilayah Mahalona Raya jatuh pada awal Desember 2026 berdasarkan perhitungan iklim. Informasi itu penting karena salah satu risiko utama usaha tani adalah salah membaca waktu tanam, yang berujung pada gagal panen atau pemborosan sarana produksi.
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, yang membuka forum tersebut, menilai capaian produksi masih bisa ditingkatkan melalui optimalisasi produktivitas dan indeks pertanaman, termasuk percepatan musim tanam kedua dan ketiga. Kegiatan itu ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama pencapaian target tanam Kabupaten Luwu Timur 2026.


