Selasa, 29 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Ekonomi & UMKM

Berita Lutim: Melon Wanasari Angkona Hasilkan Cuan

28 September 2026 • Admin • 17 kali dibaca
Kebun melon warga Desa Wanasari, Angkona, dalam program Kampung Pangan Adhyaksa
Gambar: Sarambang.id (lahan percontohan melon dan semangka Kampung Pangan Adhyaksa, Desa Wanasari).
ASM Group
Iklan

Lutim, SuaraLutim – Berita Lutim terbaru datang dari Desa Wanasari, Kecamatan Angkona. Buah melon kini menjadi komoditas yang menjanjikan bagi sebagian warga di desa itu, setelah lahan percontohan di halaman kantor desa menunjukkan hasil yang membuat warga tertarik ikut menanam. Salah satu petani, Nilo Devi, mengelola lahan 25 are dengan sekitar 2.300 pohon melon. Dalam satu siklus tanam sekitar 60 hari, ia menyebut hasil kotor dari lahannya bisa mencapai Rp50 juta.

Berita Lutim: Dari Halaman Kantor Desa ke Lahan Warga

Kepala Desa Wanasari, Wayan Sardika, menuturkan bahwa warga awalnya lebih mengandalkan pertanian sawah. Setelah melihat hasil budidaya melon, sejumlah warga mulai mencoba menanamnya di pekarangan, bahkan berani mengalihfungsikan sebagian lahan sawah mereka.

“Awalnya kita coba-coba di halaman depan kantor desa. Setelah melihat hasilnya, baru masyarakat mulai tertarik untuk belajar menanam melon,” kata Wayan, Kamis (24/9/2026). Cerita itu memperlihatkan cara sederhana sebuah desa belajar: satu petak contoh di depan kantor desa dibuka untuk dilihat, lalu diuji sendiri oleh warga.

Lahan percontohan itu menjadi bagian dari program Kampung Pangan Adhyaksa, sebuah program binaan Kejaksaan Negeri Luwu Timur. Dari situ, warga tidak hanya mengenal budi daya melon, tetapi juga semangka. Pengetahuan yang datang lewat kegiatan literasi desa kemudian berpindah ke lahan dan menjadi keterampilan yang bisa menghasilkan uang.

Tata Atur
Iklan

Perkembangan program tersebut dikunjungi Komunitas Pegiat Literasi (KOMPLIT) Luwu Timur bersama perwakilan Kejari Lutim, Kamis (24/9/2026). Kunjungan itu untuk melihat langsung dampak program literasi yang tersambung dengan pemberdayaan ekonomi warga di desa binaan kejaksaan.

Hitungan Usaha Melon di Lahan 25 Are

Angka yang disebut Nilo Devi memberi gambaran mengapa warga mulai melirik komoditas ini. Dengan 25 are lahan dan sekitar 2.300 pohon, hasil kotor sekali panen dalam siklus sekitar 60 hari bisa mencapai Rp50 juta. Hitungan itu bersifat kotor, belum dipotong biaya bibit, pupuk, tenaga kerja, dan perawatan harian.

Meski demikian, rentang penghasilan itu menjelaskan daya tarik melon dibanding pola tanam yang biasa. Siklus 60 hari memberi peluang perputaran modal lebih cepat dibanding komoditas yang harus menunggu musim lebih panjang. Bagi keluarga tani di desa, kepastian waktu panen sering sama pentingnya dengan besaran harga jual.

Di sisi lain, budidaya melon menuntut ketekunan. Nilo Devi mengaku sempat gagal pada percobaan pertama, kemungkinan karena kualitas lahan yang kurang cocok untuk melon. Kegagalan itu justru menjadi motivasi untuk mencoba kembali di lahan yang berbeda.

Hama tikus, lalat, dan jamur

Menurut Wayan, tingkat kegagalan budidaya di desanya relatif minim. Namun petani tetap berhadapan dengan hama tikus dan lalat, serta penyakit jamur. “Tapi semua itu masih bisa dikendalikan, kecuali hama tikus. Olehnya itu, ada waktu-waktu tertentu petani melon tidak menanam karena hama tikus,” jelasnya.

Pola yang dipakai warga adalah menyesuaikan jadwal tanam, bukan memaksakan menanam sepanjang tahun. Pendekatan semacam ini lazim di daerah yang belum punya pengendalian hama terpadu secara menyeluruh, dan sekaligus menjaga kualitas buah pada masa panen.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga